Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
G.Masy’aril Haram (Muzdalifah); Simbol Kesadaran Dan Intuisi
Fase setelah mendapat pengetahuan dipadang arafah berikutnya adalah fase kesadaran– hal ini mengejutkan dan juga menakjubkan, kenapa di mulai dengan “pengetahuan” dulu baru kemudian kesadaran! Asumsi umum, bahwa datangnya pengetahuan itu didahului oleh kesadaran, ini dianggap sebagai satu kebenaran; dan ternyata bagi Sang Pencipta dua pola pikir ini menunjukkan urutan yang berlawanan.
Fase pertama (Arafah) adalah kata tunggal, tetapi fase kedua tidak hanya dikatakan Masy’ar saja, melainkan disebut juga jalan Masy’aril Haram. Dan sungguh mengejutkan, jika di dalam fase Arafah wukuf (berhenti diam) dilakaukan di siang hari, sedangkan pada fase “Masy’aril Haram” wukuf (berhenti diam) dilakukan pada malam hari.
Mengapa ada perbedaan?– karena Arafah melambangkan fase pengetahuan dan sains, yakni hubungan objektif antara berbagai pemikiran dan fakta-fakta dunia yang ada. Dalam pengetahuan, Visi yang jelas sangatlah diperlukan, oleh karena itu yang diperlukan adalah cahaya (siang hari).
Sedangkan Masy’ar adalah melambangan fase kesadaran, yakni hubungan subjektif di antara berbagai pemikiran. Oleh karena itu, kekuatan pemahaman dapat diperoleh dengan cara lebih berkonsentrasi dalam kegelapan dan keheningan malam hari. Arafah adalah fase pengalaman dan objektivitas, sedang Masy’ar adalah fase wawasan dan subjektivitas; Arafah adalah keadaan pikiran yang jauh dari penyimpangan dan penyakit. Masy’ar adalah fase kesadaran dengan tanggung jawab penuh, murni dan lurus.
Lingkungan heningnya malam yang dibutuhkan untuk konsentrasi terciptanya kedamaian; Inilah lingkungan yang bersih dan suci sebagaimana sifat roh, dan swasana agung seperti luas dan besarnya alam semesta. Manasik Ibadah haji di masy’ar, merepresentasikan swasana lingkungan dengan sangat tepat sebagai kesadaran suci. Betapa menakjubkan, ada kesadaran yang lahir dari “pengetahuan” dan sarat dengan cinta.
Kesadaran qalbu/batin berdekatan dengan sains dan iman– inilah, fase antara Arafah dengan Mina. Intuisi tidak membutuhkan cahaya karena ia diterangi oleh pemikiran dan mampu memecahkan setiap persoalan cinta. Hikmah adalah jenis pengetahuan atau wawasan tajam yang disampaikan kepada manusia oleh para nabi dan bukan oleh para saintis ataupun filsuf. Inilah jenis pengetahuan dan kesadaran diri yang dibicarakan oleh Islam. Hikmah tidak hanya melatih para saintis tapi juga para intelektual yang sadar dan bertanggung jawab.
Hikmah adalah pengetahuan mengenai petunjuk yang sempurna. Siapapun, dapat mempelajari pengetahuan tentang Arafah, tapi intuisi tentang Masy’ar adalah cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan untuk mempelajari pengetahuan ini, engkau tidak perlu cahaya, sebagaimana berhenti sepertiga malam di Masy’ar dilakukan pada malam hari, karena pengetahuan itu sendiri (intuisi) adalah cahaya yang terang benderang.
Berbeda dengan tradisi intelektual Barat yang lebih banyak didominasi paham rasionalisme dan empirisme, maka dalam tradisi intelektual Timur Islam terdapat dua kecenderungan. Pertama, pengetahuan rasional yang bersumber pada logika rasional dan bersifat diskursif. Beberapa tokohnya dapat disebutkan seperti: Al-Kindi, Al- Farabi, Ibn Sina, dan sterusnya.
Kedua, pengetahuan intuitif yang bersumber pada intuisi, dzauq, atau ilham. Terdapat banyak nama untuk jenis pengetahuan ini. Misalnya: Al-Ghazali menyebutnya sebagai Cahaya Kenabian. Ibn ‘Arabi menyebutnya dengan al-Ma’rifah. Suhrawardi menamakan Hikmah Israqiyah, Muhammad Gallab memberi nama Ma’rifah Tanassukiyah. Filsafat Profetik, menurut Roger Garaudy, Filsafat Intuisi, menurut Henry Bergson, dan seterusnya. Bahkan Ibn ‘Arabi selanjutnya memberi sebutan-sebutan lain bagi pengetahuan intuitif, misalnya Pengetahuan Ilahi (laduni), Pengetahuan Rahasia (Ilmu Asror) dan pengetahuan Ghaib (ilmu ghaib).
Pengetahuan intuitif secara epistemologi berasal dari intuisi. Ia diperoleh melalui pengamatan langsung, tidak mengenai objek lahir melainkan mengenai kebenaran dan hakikat barang sesuatu. Para sufi menyebut pengetahuan ini sebagai rasa yang mendalam (dzauq) yang bertalian dengan persepsi batin. Dengan demikian pengetahuan intuitif sejenis pengetahuan yang dikaruniakan Tuhan kepada seseorang dan dipraktikkan pada kalbunya sehingga tersingkap olehnya sebagian rahasia dan tampak olehnya sebagai realitas.
Perolehan pengetahuan ini bukan dengan jalan penyimpulan logis sebagaimana pengetahuan rasional melainkan dengan jalan kesalehan, sehingga seseorang memiliki kebeningan kalbu dan wawasan spiritual yang prima.
Sejalan dengan uraian pengetahuan menuju kesadaran, Ibn ‘Arabi ketika menguraikan epistemologi tasawufnya, membagi pengetahuan kepada dua tipe. Pertama, al-Ma’rifah yang digambarkan sebagai pengetahuan dengan pengenalan langsung (knowledge by direct acquaintance). Kedua, al-‘Ilm yang digambarkannya sebagai pengetahuan intelek atau pemahaman lepas (discursive reason).
Pengetahuan pertama secara eksklusif termasuk dalam jiwa, kalbu (soul), sedangkan tipe kedua termasuk dalam intelek (mind). Selanjutnya menyatakan bahwa pengetahuan intuitif persepsinya langsung bukan mengenai objek eksternal, tetapi pengetahuan mengenai realitas dari segala sesuatu sebagaimana adanya yang berbeda dengan pengetahuan intelek yang serba mungkin dan bersifat spekulasi.
Lebih jauh, Ibn ‘Arabi menunjukkan ciri-ciri pengetahuan intuitif yang membedakannya dengan pengetahuan intelek sebagai berikut: Pengetahuan intuitif bersifat bawaan (innate) karena merupakan limpahan Tuhan (devine effulgence, al-Faidl al-Illah), sebagai kebalikan dari intelek yang bersifat perolehan (aquered, muktasab). Pengetahuan intuitif mengejawantahkan dalam diri manusia dibawah kondisi-kondisi mistik tertentu, seperti ketika batin seseorang dalam keadaan bening dan bersih dari pengaruh pikiran.
Pengetahuan intuitif berada diluar sebab-sebab rasional dan tak terjangkau oleh akal pikiran dan karenanya akal pikiran tidak dapat menguji validitasnya. Pengetahuan intuitif menyatakan diri dalam bentuk cahaya yang menyinari setiap hati sufi ketika ia mencapai derajat penyucian (purifikasi) spiritual tertentu. Pengetahuan intuitif menyatakan diri pada manusia tertentu, karena pengetahuan tersebut sangat bergantung pada anugerah Tuhan.
Tidak seperti pengetahuan intelek yang mengandung nilai kemungkinan atau spekulatif, maka pengetahuan intuitif bersifat pasti (certain), sebab merupakan pemahaman yang langsung terhadap relitas sesuatu. Pengetahuan intuitif memiliki kemiripan dengan pengetahuan Tuhan. Oleh karena itu tak seorangpun akan dapat memperolehnya, kecuali ia benar-benar mencapai maqam (derajat) tertentu, dimana pengetahuan itu layak diilhamkan Tuhan kepadanya. Pengetahuan intuitif merupakan pengetahuan yang sempurna tentang kodrat realitas yang diperoleh seseorang sufi. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
