Oleh: Dahlan Iskan*
Iran itu bapaknya Tauhid — Tuhan itu esa — yakni ketika negeri itu masih bernama Zoroaster — dengan Maharajanya yang Anda sudah tahu — Zaratustra. Sampai 1.000 tahun kemudian pun — di zaman Cyrus Yang Agung — ajaran Yang Maha Esa itu masih bertahan. “Sebelum zaman itu — orang selalu percaya tuhan itu banyak,” ujar Prof Dr Al Makin.
Anda sudah tahu siapa guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta itu: Al Makin pernah jadi Rektor di situ. Lewat jalur sebagai peneliti murni. Rasanya Al Makin-lah peneliti pertama yang bisa jadi rektor. Kenapa nama Anda Al Makin? “Tidak tahu. Itu pemberian orang tua. Beliau kyai desa,” katanya.
Al Makin menyayangkan terjadi serangan Israel-Amerika ke Iran — yang paling dia khawatirkan adalah punahnya peradaban tua. “Kita itu berutang Tauhid kepada Parsi — kita semua Islam, Kristen, dan Yahudi,” ujarnya.
Saya sudah membaca buku karya Al Makin terbaru — buku filsafat. Judulnya: Dari Athena Sampai Nusantara. Itulah buku yang membahas perjalanan pemikiran filsafat sejak awal sampai sekarang. Sejak dari Yunani sampai Sutan Takdir Alisjahbana. Di tengahnya ada pembahasan mengenai perjalanan filsafat di Parsi –yang sampai pun negeri itu bernama Iran masih kuat mempertahankan budaya berfilsafatnya.
Bagi yang tertarik mengenal ilmu itu buku Al Makin ini seperti mal filsafat — apa saja ada. Disajikan dengan daya tarik mal. Anda tidak harus mengerutkan dahi ketika membacanya. Begitu menamatkan buku itu Anda sudah langsung tahu filsafat dari A sampai Z. Ketika pembahasan sampai ke Nusantara — begitu banyak nama yang disebut Al Makin — yang paling dia tonjolkan adalah Sutan Takdir Alisjahbana dengan polemik Manikebu-nya — Anda sudah tahu apa itu Manikebu –singkatan Manifes Kebudayaan.
Menurut Al Makin — polemik kebudayaan Manikebu di tahun 1963-1964 itulah polemik terbaik — pun sampai sekarang — belum ada benturan pemikiran yang lebih bermutu dari polemik Manikebu. Polemik Manikebu begitu serunya sampai presiden Soekarno melarangnya.
Maka saya bertanya kepada Prof Al Makin — mengapa nama Goenawan Mohamad tidak dimuat di buku Dari Athena Sampai Nusantara. Demikian juga nama Rocky Gerung — tidak ada. Padahal GM adalah salah satu tokoh yang ikut berpolemik di Manikebu — termasuk juga penyair terkemuka Taufiq Ismail –yang baru saja meninggal dunia pekan lalu. Di pihak Sutan Takdir juga ada kritikus sastra HB Jassin. Lawan polemik mereka adalah budayawan dari Lekra —underbow-nya PKI.
“GM dan Rocky Gerung kan masih hidup — yang masih hidup saya tunda,” jawab Al Makin. “Semua yang saya sebut kan sudah meninggal,” tambahnya. Saya juga mengajukan satu keberatan. Al Makin menyebut Bung Karno sebagai pemikir yang lengkap.
Kuatnya tradisi pemikiran di bidang filsafat itulah yang membuat Iran istimewa. Kenapa pemikiran filsafat negara Islam yang lain tidak sekuat Iran? “Kita kan Sunni,” ujar Al Makin. “Iran kan Syi’ah,” katanya. Di negara-negara Islam yang alirannya Sunni, ilmu filsafat berhenti. Tidak ada lagi filsafat — yakni sejak Imam Al Ghazali menerbitkan buku Ihya Ulumuddin. Itulah kitab yang paling diunggulkan di kalangan Sunni.
Di bukunya itu Al Makin berani menyebut bahwa Imam Ghazali bukanlah filsuf — padahal di semua lembaga pendidikan Islam di Indonesia mengajarkan Al Ghazali adalah filsuf besar — terbesar yang lahir dari dunia Islam. “Imam Al Ghazali itu Teolog — bukan filsuf,” ujar Al Makin. Apa bedanya? “Di filsafat semua hal harus dipertanyakan. Di Teologi yang ada adalah doktrin. Kalau sudah menyangkut doktrin justru tidak boleh dipertanyakan. Setelah tidak jadi rektor Al Makin kembali menjadi peneliti. Darah dagingnya di penelitian. Sumsum tulang belakangnya juga berisi penelitian.
Sampai tahun 500 SM itulah — di Iran kuno, di zaman Cyrus manusia terus diarahkan agar hanya bertuhan satu — nama tuhannya: Mazda. Lengkapnya: Ahura Mazda –kekuatan yang maha bijaksana. Tuhan yang maha esa itu dianut sejak 1.000 tahun sebelumnya –dimulai di zaman Zaratustra yang memerintah di Zoroaster. Berarti bertuhan satu telah menjadi tradisi yang panjang di Parsi: sejak Zaratustra sampai Cyrus. Lalu, kata Al Makin, diadopsi oleh Yahudi. Kemudian Kristen. Lalu Islam. “Padahal Ibrahim sendiri (Abraham) sebagai bapak Yahudi masih bertuhan banyak,” ujarnya. Bukankah Ibrahim itu bertauhid? “Itu menurut keyakinan yang diajarkan belakangan tetapi sumber-sumber penelitian yang lebih kuno menyebutkan tidak begitu,” katanya.
Sebenarnya salah satu Fira’un juga pernah mendoktrinkan untuk bertuhan satu — Tuhan Matahari — yakni Fir’aun kesepuluh dari dinasti ke 18. Nama Fir’uan itu Akhenaten. “Tetapi Fir’aun berikutnya menghidupkan kembali tuhan-tuhan yang banyak,” ujar Al Makin.
Presiden Donald Trump dan Menteri Perangnya, Pete Hegseth — juga bertuhan satu. Berarti keduanya juga berutang Tauhid ke Iran. Utang itulah yang mereka bayar dengan pembunuhan massal — lewat peluru dan bom mereka.
*Jurnalis dan Eks Pemimpin Redaksi Jawa Pos
Editor: Jufri Alkatiri
