Oleh: Toto Izul Fatah*
Partai Gelora adalah salah satu partai yang lahir bukan dari ruang sunyi, tetapi dari gesekan panas yang berujung perpecahan. Itulah peristiwa pilu politik Islam modern pasca Pemilu 2029. Tepatnya, pada saat sebagian tokoh utama partai Gelora itu adalah para mantan politisi elit PKS. Ada Anis Matta, Fahri Hamzah, Mahfuz Sidik, dan sejumlah nama lain yang membawa modal intelektual, jaringan kader, pengalaman parlemen, serta kemampuan artikulasi politik yang tidak kecil.
Gelora berdiri pada 28 Oktober 2019 dan sejak awal sering dibaca publik sebagai partai yang punya akar Genealogis dengan PKS– meski berusaha tampil dengan narasi yang lebih nasionalis– namun, disitulah justru munculnya paradoks Gelora. Secara gagasan, partai ini terdengar besar. Secara figur, punya tokoh yang fasih bicara tentang geopolitik, peradaban, demokrasi, umat, negara, dan masa depan Indonesia.
Secara elektoral, hasil Pemilu 2024 menunjukkan Gelora masih sangat kecil, tidak sampai 1 persen– tepatnya, memperoleh 1.281.991 suara atau 0,84 persen suara nasional– dan ini yang membuat Gelora gagal masuk Senayan. Inilah problem utama Gelora– memang memiliki langit narasi, tetapi belum memiliki bumi elektoral yang kuat. Meski begitu, Partai Gelora tetap punya kelebihan. Pertama, Gelora punya figur dengan kemampuan artikulasi tinggi. Anis Matta adalah politisi dengan gaya pemikiran konseptual. Sementara, Fahri Hamzah punya gaya berbeda. Dia tampil cukup keras, lebih cair, komunikatif, ofensif, dan mudah masuk ke ruang media.
Kedua, Gelora punya pengalaman kaderisasi politik– karena banyak tokohnya berasal dari tradisi politik PKS, Gelora mewarisi sebagian kultur organisasi: disiplin, jejaring, kemampuan membaca segmen umat, serta pengalaman menghadapi kontestasi elektoral. Ketiga, Gelora sekarang punya akses kekuasaan. Masuknya Anis Matta dan Fahri Hamzah ke Kabinet Merah Putih memberi Gelora panggung baru. Anis Matta tercatat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri, sementara Fahri Hamzah sebagai Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Ini tentu bukan posisi kecil secara simbolik– keduanya kini bukan hanya tokoh partai, tetapi bagian dari mesin pemerintahan Prabowo-Gibran– namun, selain kelebihan tadi, Gelora juga punya banyak kelemahan. Pertama, Gelora belum punya basis massa yang jelas– terlalu dekat dengan PKS secara sejarah, tetapi belum mampu mengambil basis PKS secara signifikan.
Kedua, Gelora masih tampak sebagai partai elite, bukan partai akar rumput. Figur-figurnya dikenal di kalangan politik, media, aktivis, dan kelas menengah terdidik– namun pemilu tidak cukup dimenangkan oleh kecerdasan retorik. Pemilu juga membutuhkan saksi, caleg kuat, jaringan desa, simpul lokal, logistik, tokoh daerah, dan kerja sosial yang terus-menerus.
Ketiga, Gelora belum punya diferensiasi ideologis yang tajam. Jika terlalu Islamis– akan dibaca sebagai “PKS versi lain”. Jika terlalu nasionalis– harus bersaing dengan Gerindra, Golkar, NasDem, Demokrat, bahkan PSI. Keempat, masuk kabinet bisa menjadi berkah sekaligus beban. Jika Anis Matta dan Fahri Hamzah berhasil menunjukkan kinerja konkret, Gelora bisa mendapat efek positif– tetapi jika jabatan mereka tidak menghasilkan prestasi yang mudah dipahami publik, posisi kabinet hanya menjadi simbol elite tanpa efek elektoral. Apalagi, posisi keduanya di kabinet hanya sebagai wakil menteri yang otoritasnya terbatas.
Lalu, apakah Anis dan Fahri mampu membawa gerbong PKS? Jawabannya pasti tidak mudah. Anis Matta dan Fahri Hamzah memang punya magnet historis bagi sebagian kader dan simpatisan lama PKS. Ada segmen pemilih PKS yang mengagumi kecerdasan Anis, keberanian Fahri, dan gaya politik Gelora yang lebih terbuka terhadap Prabowo– namun hasil Pemilu 2024 membuktikan bahwa magnet tokoh belum cukup untuk memindahkan gerbong besar. PKS tetap lolos ke Senayan, sementara Gelora hanya meraih 0,84 persen suara nasional.
Artinya, basis PKS tidak mudah dibelah hanya oleh figur. PKS bukan sekadar partai elektoral, tetapi jaringan kader, halaqah, struktur, komunitas, dan loyalitas ideologis yang sudah lama terbentuk. Gelora boleh memiliki mantan elite PKS, tetapi PKS masih memiliki mesin organisasi yang lebih mapan. Akhirnya, memang tidak mudah melepas Gelora menjadi “partai kedua” PKS atau partai berwajah PKS– karena secara geneologis, PKS dan Gelora memang punya basis darah yang sama.
Mungkin, kedepan harus mulai dipikirkan– bagaimana Gelora memperluas pasarnya. Ini penting karena pasar politik Islam sudah padat. PKS kuat di segmen Islam ideologis-kaderis. PKB kuat di basis Nahdliyin. PAN punya sejarah Muhammadiyah dan kelas menengah Muslim. PPP, meski melemah, masih membawa simbol Islam lama. Jika Gelora masuk dengan wajah yang sama– hanya akan menjadi pemain kecil di kolam yang sudah penuh sesak.
Begitu pun, jika Gelora ingin hidup lebih Panjang– harus berhenti menjadi partai “para mantan”– harus menjadi partai “masa depan”. Bukan mantan PKS, bukan sekadar pendukung Prabowo, bukan hanya panggung Anis dan Fahri, tetapi partai yang punya akar sosial sendiri, kader sendiri dan wajah sendiri.
*Direktur Eksekutif Citra Komunkasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
Editor: Jufri Alkatiri
