Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*
Hari Keluarga Internasional yang diperingati setiap tanggal 15 Mei bukanlah sekadar hari peringatan seremonial, melainkan momentum global yang sarat dengan makna mendalam. Berawal dari keprihatinan PBB terhadap perubahan dramatis yang dialami keluarga di seluruh dunia sejak dekade 1980-an, peringatan ini telah berkembang menjadi platform penting untuk meningkatkan kesadaran, berbagi pengetahuan, dan mendorong aksi kolektif dalam mendukung kesejahteraan keluarga.
Sejarah penetapannya mencerminkan kesadaran bahwa keluarga bukanlah entitas privat yang terisolasi, melainkan institusi fundamental yang terkait erat dengan kesehatan, stabilitas, dan kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Tahun 1994 sebagai Tahun Internasional Keluarga dan penetapan 15 Mei sebagai Hari Keluarga Internasional pada tahun 1993 merupakan tonggak sejarah yang menegaskan komitmen global terhadap penguatan keluarga.
Tema-tema tahunan yang diangkat PBB—mulai dari kebijakan berorientasi keluarga pada tahun 2025-2026 adalah keluarga, ketimpangan, dan kesejahteraan anak pada tahun 2026—menunjukkan responsivitas peringatan ini terhadap tantangan kontemporer yang dihadapi keluarga. Tema 2026 secara khusus menyoroti bagaimana kesenjangan yang semakin melebar dalam hal pendapatan, akses layanan, pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi membentuk kehidupan keluarga dan menentukan masa depan anak-anak. Kesenjangan ini bukan hanya masalah individu atau keluarga, tetapi masalah struktural yang memerlukan intervensi kebijakan yang sistematis dan terkoordinasi.
Secara filosofis– Hari Keluarga Internasional mengajak kita untuk memandang keluarga sebagai “sel dasar” masyarakat, sebagai lokomotif perubahan sosial, dan sebagai benteng ketahanan di tengah berbagai krisis. Peringatan ini juga menegaskan keterkaitan erat antara kesejahteraan keluarga dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 1 (tanpa kemiskinan), SDG 3 (kesehatan yang baik), SDG 4 (pendidikan berkualitas), SDG 5 (kesetaraan gender), dan SDG 10 (berkurangnya ketimpangan).
Pada akhirnya, makna terdalam dari Hari Keluarga Internasional adalah pengakuan bahwa investasi pada keluarga adalah investasi pada masa depan manusia dan peradaban. Keluarga yang kuat, sehat, dan berfungsi dengan baik akan melahirkan generasi yang mampu membawa perubahan positif bagi dunia. Sebaliknya, mengabaikan keluarga berarti mengabaikan fondasi paling dasar dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, marilah kita jadikan setiap tanggal 15 Mei sebagai momentum untuk tidak hanya memperingati, tetapi benar-benar menguatkan komitmen kita terhadap keluarga—baik keluarga kita sendiri, keluarga di sekitar kita, maupun keluarga sebagai institusi kemanusiaan universal.
*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
Caption Foto: Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Pribadi)
