Renungan Hari Arafah: Hakikat Haji Mengenal Diri Sejati dan Mengenal Tuhan ( bag-8)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

Sebagaimana Ibn ‘Arabi — seorang filosof Prancis yang beraliran intuisionisme, Henry Bergson (1859-1941) juga membagi pengetahuan menjadi dua macam: Pengetahuan mengenai, (knowledge about) dan Pengetahuan tentang, (knowledge of). Pengetahuan pertama disebut pengetahuan diskursif atau simbolis, dan pengetahuan kedua disebut pengetahuan langsung atau pengetahuan intuitif karena diperoleh secara langsung.

Atas dasar perbedaan di atas, Bergson menjelaskan bahwa pengetahuan diskursif diperoleh melalui simbol-simbol yang mencoba menyatakan pada kita mengenai sesuatu dengan jalan berlaku sebagai terjemahan bagi sesuatu itu. Oleh karenanya, dia tergantung pada pemikiran dari sudut pandang atau kerangka acuan tertentu yang dipakai dan sebagai akibatnya, hasilnya pun sangat ditentukan oleh sudut pandang maupun kerangka acuan yang digunakan itu.

Sebaliknya pengetahuan intuitif adalah merupakan pengetahuan langsung yang mutlak dan bukan pengetahuan yang nisbi atau lewat perantara. Dia mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis yang pada dasanya bersifat analisis dan memberikan pengetahuan tentang objek secara keseluruhan.  Maka dari itu menurut Bergson intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Lebih lanjut Bergson menyatakan bahwa intuisi sesungguhnya adalah naluri (instinc) yang menjadi kesadaran diri dan menuntun kita kepada kehidupan dalam (batin).

Jika intuisi dapat meluas, maka dapat memberi petunjuk dalam hal-hal yang vital– jadi dengan intuisi kita dapat menemukan elan vital atau dorongan yang vital dari dunia yang berasal dari dalam dan langsung bukan dengan intelek. Sebagaimana para sufi yang mendiskripsikan pengalaman batinnya, al- Ghazali dalam karyanya Ihyaa-Ulum al-Diin telah menyinggung perihal pengetahuan intuitif dari segi pencapaian metode, objek, dan tujuannya, serta perbandingannya dengan pengetahuan teoritis rasional.  Dia menamakan pengetahuan intuitif dengan Cahaya Kenabian atau pengalaman Ma’rifat– dia juga mengatakan bahwa sarana pengetahuan intuitif atau ma’rifah adalah qalb, bukan indra atau akal.

Qalb menurutnya bukan bagian tubuh yang terletak pada bagian kiri dada seseorang manusia melainkan merupakan realitas manusia serta menjadi percikan rohaniah ketuhanan yang merupakan hakikat realitas manusia menjadi sasaran perintah, cela, hukuman, dan tuntutan dari Tuhan.

Menyinggung bagaimana qalb menjadi sarana Ma’rifah atau pengetahuan intuitif, al-Ghazali menguraikan secara ilustratif, sendainya kita membayangkan suatu lembah yang kedasarnya mengalir air dari berbagai sungai atau mungkin juga ada air yang menerobos dari sela-sela lembah, sehingga airnya lebih jernih bahkan banyak dan lebih deras. Demikian qalb bagaikan lembah itu.

Sementara pengetahuan adalah seumpama air dan panca indra semisal sungai-sungai, begitu pula akal pikiran sehingga dari keduanya qalb pun penuh dengan pengetahuan. Bila saja sungai-sungai itu dibendung dengan menjauhkan diri dari keramaian (‘uzlah) dan hidup menyendiri (khalwat), serta mengekang penglihatan, sementara itu relung qalb digali dengan menyucikannya dan menghilangkan berbagai macam penghalangnya, niscaya dari dalamnya akan memancarkan sumber-sumber pengetahuan (intuitif).

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa menurut pandangan al-Ghazali suatu pengetahuan pada dasarnya dapat dilacak dari dua sumber, yaitu sumber lahir (indra dan akal), dan sumber batin (qalb). Jenis pengetahuan yang bersumberkan epistemologi batin dan qalb adalah yang dipegangi kebenarannya oleh para Sufi– yaitu melalui metode cita rasa khusus berdasarkan pemahaman intuitif langsung yang berbeda dengan pemahaman sensual langsung atau pemahaman rasional langsung.

Adapaun yang dimaksud dengan pemahaman intuitif langsung, menurut al-Ghazali adalah kebalikan dari pemahaman rasional langsung yang dibanggakan oleh para Teolog dan Filosof, dimana proses kerja rasionalnya bergerak dari satu pengertian menuju pengertian lain atau dari premis-premis menuju suatu konklusi tertentu. Hal ini berbeda dengan pengetahuan para sufi yang secara metodologis tidak melalui proses pemikiran atau pengamatan indrawi melainkan secara langsung menembus kedalam qalb mereka.

Bagi para sufi pengetahuan intuitif itu tersingkap dan terlimpahkan secara langsung ke dalam dada mereka bagaikan cahaya, tidak dengan mempelajarinya, mengkajinya, atau menulisnya, tetapi dengan bersikap Zuhud terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya membebaskan qalb dari berbagai pesonanya dan menerima Allah dengan sepenuh hati.

Sebab menurut al-Ghazali, barang siapa milik Allah, niscaya Allah adalah miliknya dan setiap hikmah pengetahuan akan muncul dari qalb dengan keteguhan dan tanpa belajar melainkan lewat kasyf atau ilham– dengan cahaya pengetahuan ini, sungguh sensasional, mencari dan mengumpulkan senjata (batu kerikil)  dilakukan dalam gelap malam, namun diterangi oleh  intuisi dan perasaan (intuisi yang suci) dan dengan pengetahuan yang diperoleh di Arafah.

Mengapa tidak menunggu sampai pagi? Berhenti di Masy’ar ini, kata Syari’ati, agar engkau dapat berpikir, menyusun rencana, memperkuat semangat, mengumpulkan senjata dan mempersiapkan diri terjun ke medan tempur. Usai mengumpulkan senjata, suasana militer pun mendadak berubah menjadi suasana spiritual. Tidak ada lagi diskusi tentang senjata dan pertempuran. Malahan yang ada adalah percakapan tentang perdamaian, cinta dan kenaikan roh ke langit.

Sungguh menakjubkan! Ratusan ribu manusia tanpa nama yang tidak memiliki identitas apa pun duduk-duduk di atas tanah sambil menatap ke langit Masy’ar yang bertaburan bintang. Rasa dahaganya akan terpuaskan dengan guyuran ilham yang tercurah dari langit.  Di tengah orang banyak ini Engkau dapat mendengarkan keheningan. Di tengah suasana Kudus ini tidak ada sesuatu pun yang dapat memikat perhatianmu sekalipun pikiran tentang Allah, karena Allah ada di mana-mana.

Engkau dapat mencium keharuman-Nya sebagaimana engkau dapat mencium wangi bunga mawar. Engkau dapat merasakan kehadiran-Nya dalam telinga, mata, hati dan jauh dalam tulang-tulangmu. Engkau dapat merasakan-Nya di kulitmu sebagai sentuhan lembut dan cinta! Terasa bahwa, pengetahuan intuisi yang didapat di Masy’ar akan mengantarkan orang kepada hilangnya kesadaran eksistensi diri dan hanya terpusat pada eksistensi keberadaan Tuhan, yang dalam tasawuf disebut Fana.

Fana menurut pengertian bahasa berasal dari fanaa-yafni-fanaa yang berarti hilang hancur– sedangkan Fana dalam pengertian istilahnya adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihaad yaitu persatuan mistis antara sang sufi dan Tuhan. Dalam pandangan Sufi, fana tidak diartikan sebagai kehancuran eksistensial melainkan sebagai hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk di mana perhatian sufi terpusat hanya kepada Allah SWT.

Ungkapan yang populer di kalangan Sufi bahwa orang yang mengenal dirinya tiada (‘adam)  akan menyadari Tuhannya ada. (wujud).  Dalam pengalaman fanaa, sufi tidak lagi menyadari dirinya serta seluruh makhluk. Dalam kesadarannya, yang ada hanyalah Allah.

Dalam pada itu Ibrahim Baasyuni setelah mengemukakan beberapa pernyataan tentang fana, dia berkesimpulan bahwa fana adalah suatu keadaan mental di mana hubungan manusia dengan alam dan dirinya sudah tiada tanpa hilang dari padanya nilai kemanusiaannya. Pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa dalam fana meskipun kesadaran itu telah hilang namun nilai-nilai kemanusiaan tetap ada, jadi yang mengalami perubahan adalah akhlaki yang telah didominasi oleh cahaya hakikat.  Dengan demikian apabila dikatakan bahwa seseorang telah mengalami fana dari dirinya dan makhluk lain, maka sebenarnya dia dan makhluk lain itu masih ada hanya saja dia tidak lagi menyadari dan merasakannya. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *