Tradisi Sanad di Dunia Pesantren: Mata Rantai Cahaya Ilmu yang Tidak Putus

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Di era Google dan Chat GPT– semua ilmu bisa diunduh dalam hitungan detik. Tafsir, hadits, fiqih, tasawuf—semua ada di genggaman– tetapi ada satu hal yang tidak bisa diunduh  Sanad. Sanad itu hanya hidup lewat tradisi hubungan guru-murid yang dijaga pesantren selama berabad-abad.

Sanad bukan daftar nama kering di sampul kitab. Sanad adalah rantai cahaya ilmu yang menyambungkan bacaan kita hari ini langsung ke lisan Rasulullah SAW– tanpa Sanad, ilmu jadi yatim. Ada jasadnya berupa teks, tetapi putus ruhnya berupa adab dan keberkahan. Tradisi ini bisa bersambung Sanadnya lewat Tradisi Hubungan Guru Murid di Pesantran. Tradisi Sanad ini bertumpu pada 3 pilar yang tidak diajarkan kampus  tetapi dihidupi pesantren 24 jam ta’dzim, mujalasah, dan ijazah.

Pertama, ta’dzim: adab mendahului ilmu. Santri diajarkan duduk lebih rendah dari Kyai, tidak mendahului jalan, tidak menyela saat guru bicara, mencium tangan setiap selesai ngaji. Banyak yang menuduh ini feodal. Padahal ini vaksin paling ampuh melawan kesombongan intelektual. Imam Syafi’i rela jadi pelayan Imam Malik selama belajar di Madinah– bukan karena Malik butuh pelayan–tetapi karena Syafi’i paham– hati yang congkak tidak akan bisa menampung cahaya ilmu. Pesantren melatih ini lewat hal kecil tiap hari: antre makan, antre kamar mandi, antre salim– dari situ lahir pemimpin yang wibawa, bukan berwibawa karena jabatan.

Kedua mujalasah: duduk bersama lebih utama dari sekadar membaca ilmu. Di pesantren tidak ditransfer lewat PDF– dia ditransfer lewat majelis. Santri duduk melingkar, Kyai baca kitab pelan-pelan, berhenti saat ada hikmah, mengulang saat ada yang sulit. Di sela itu ada isyarat tangan, ada nada suara, ada air mata saat menyebut nama Nabi. Semua itu tidak ada di YouTube. Mujalasah menciptakan transfer tidak terlihat. Santri tidak hanya dapat isi kitab, tetapi dapat cara kyai berfikir, cara Kyai bersikap saat berbeda pendapat, cara kyai menunduk saat sadar khilaf. Guru kenal kelemahan murid, murid kenal akhlak guru. Ikatan batin inilah yang membuat ilmu awet turun-temurun.

Ketiga,  ijazah: tanggung jawab, bukan sertifikat. Ijazah sanad itu berat. Kyai tidak akan memberi kalau muridnya belum siap lahir-batin– karena sekali ijazah jatuh ke tangan murid, Kyai ikut bertanggung jawab di akhirat atas bagaimana ilmu itu diamalkan. Berbeda dengan ijazah kampus yang diukur SKS dan IPK. Ijazah sanad diukur dengan akhlak dan pengamalan. Makanya banyak Kyai menolak memberi ijazah ke murid yang pintar tetapi angkuh. “Ilmu ini titipan, nak– kalau kamu sombong, rantai ini putus di kamu.”. Begitu kata Kyai Pondok Pesantren kepada para santrinya.

Tantangan Zaman Digital

Hari ini muncul istilah Sanad online. Zoom, PDF ijazah, transfer biaya. Praktis, tetapi rawan– tanpa mujalasah, tanpa ta’dzim, sanad bisa jadi formalitas. Ilmu jadi cepat, tapi dangkal. Lahirlah “ustadz viral” yang hafal dalil tapi miskin adab. Memang pesantren harus adaptif, tapi jangan gadai ruh. Buka majelis online boleh– tetapi minimal ada syarat: murid pernah datang, pernah khidmah, pernah ditatap mata oleh gurunya. Karena sanad butuh kontak, bukan hanya koneksi.

Pemerintah dan masyarakat juga harus koreksi cara menilai– jangan hanya ukur pesantren dari jumlah hafidz atau juara lomba. Tanya juga: berapa Sanad kitab yang masih hidup di pesantren ini? Berapa Kyai yang masih mau duduk berjam-jam mengaji tanpa melirik HP? Berapa santri yang rela “ngalap berkah” 10 tahun demi satu ijazah? — karena jika rantai sanad ini putus, umat Islam kehilangan GPS keilmuannya. Kita akan punya jutaan orang pintar, tetapi bingung: tafsir mana yang benar, hadits mana yang shahih, fatwa mana yang bisa dipegang.

Pesantren  dengan segala kesederhanaannya, masih jadi penjaga rantai terakhir — membuktikan pendidikan sejati bukan transfer data, tetapi transfer adab dan ruh– dari hati guru yang ikhlas, ke hati murid yang tawadhu, bersambung sampai ke Rasulullah SAW. Selama masih ada Ulama yang mau mengulang satu bait Alfiyah 20 kali demi satu santri, dan masih ada santri yang mau duduk berjam-jam demi satu ijazah, maka rantai cahaya (Sanad) ini tidak akan terputus– dan selama rantai itu hidup, Islam di Nusantara akan tetap punya arah, punya Sanad– punya cahaya yang terus ada dan tersambung mata rantainya hingga ke rasulullah SAW. Wallahu a’lam bishshawab.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *