Oleh : R. Kushariyono Arief Wibowo, S.Fil (Wibie Maharddhika)
Jemparingan — adalah istilah untuk panahan tradisional Jawa yang dilakukan dengan duduk bersila. Ada beberapa versi sejarah lahirnya kegiatan panahan tersebut. Sebagian pakar Jemparingan mengatakan diawali dari Madura. Info lain dari Trenggalek–namun yang masyhur adalah dimulai sejak masa Sultan Hamengku Buwono I pasca-perjanjian Giyanti tahun 1755 yang memisahkan Kraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Bisa dikatakan Beliaulah yang mem-viralkan Jemparingan yang saat itu bernama Jegulan.
Sebagaimana diketahui bahwa Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi) — selain seorang Raja juga seorang ulama. Beliau sadar bahwa akitivitas panahan adalah anjuran atau sunnah dari Rasulullah Muhammad SAW yang harus senantiasa dihidupkan. Menarik –bahwa ketrampilan memanah dikuasai oleh para Ksatria Utama. Sidharta Gautama Sang Buddha adalah pemanah ulung saat dirinya sebagai putra mahkota. Dalam pewayangan pun disebutkan bahwa para tokoh utama seperti Arjuna dan Karna adalah ahli memanah. Gandewa sendiri sesungguhnya adalah nama Busur milik Arjuna. Sementara orang Jawa menamai Busur dengan istilah langkap, namun penggunaan kata Gandewa kini lebih popular di antara para pemanah.
Penulis– sebagai pegiat sejak tahun 1990-an yang mengambil Sanad keilmuan Jemparingan dari Paseduluran Jemparingan Langenastran Kraton Yogyakarta berkesimpulan bahwa Jemparingan mengandung nilai spiritual, budaya dan agama sekaligus. Pada tahun 2019– penulis mendirikan paguyuban Jemparingan Laskar Panji Suryanegara (Laku Sedherekan Jemparingan Panah Jiwa Sejati Hurip Mulya Maneges Ajining Rasa) di Malang Raya dan mengembangkan gerak prosesi Hanjemparing (memanah dengan duduk bersila) yang khas dan lebih kaya agar semakin mengoptimalkan unsur Wiraga (olahraga), Wirama (olah irama) dan Wirasa (olah rasa) nya.
Prosesi dan gaya Jemparingan Laskar panji suryanegara ini kami sebut Gagrak Jemparingan Panji mataraman (Panah Jiwa Manunggal Tinarbuka Rasa Kamanungsan). Maknanya bahwa dengan mengamalkan gerak Jemparingan tersebut menjadi doa agar jiwa tumbuh terasah melesat menyatu dan semakin hidup terbuka akan nilai kemanusiaan universal. Ada dua fase gerakan, yakni diawali dengan sembah laku lima atau doa/afirmasi agar “lurus pikiran” (pikiran objektif), “leres pangucap” (kalimat yang terjaga kebenarannya), “laras raga” (harmonis dengan alam), “manunggal jiwa” (menyatu dengan keridhoan Ilahi), dan “sumeleh hurip” (hidup berserah kepada Tuhan). Dilanjutkan dengan fase lampah manah satria atau laku melepaskan Jemparing (anak panah). Fase ini pun juga melewati prosesi yang khidmat dan tidak asal memanah. Ada proses “Siaga – Angkat Gandewa – Seleh Gandewa – Jumput Jemparing – Sabda Hanjemparing – Samapta – Seleh Jemparing – Niat – Mendhak – Menthang – Cul Mardhika”.
Selain gerakan yang ritmis tertib teratur tersebut di muka– para Pamanah wajib memperhatikan dua hal prinsip saat menjalankan proses hanjemparing– yakni sadar akan ambegan (nafas) dan pandengan (pandangan mata). Pamanah saat menjalankan sembah laku lima dan lampah manah satria harus disertai dengan memperhatikan dan menikmati tarikan serta hembusan nafas masing-masing, sekaligus pandangan mata yang fokus pada satu titik selama prosesi. Kedua hal tersebut dilakukan dengan intens sehingga pikiran dan hati para Pamanah tidak sempat memperhatikan hal lain kecuali menikmati nafas dan mengarahkan pandangan melalui olah gerak yang berjiwa.
Dengan demikian Jemparingan selaras dengan aktivitas Ambegsa (menari) maupun Yoga– dia adalah gerak meditatif atau meditasi gerak. Melalui tata kelola nafas dan arah pandang, setiap Pamanah akan menyelami pemurnian jiwa. Nafas (Nafs) sendiri adalah tali jiwa. Saat nafas semakin halus teratur dan nikmat, otomatis ia menghantarkan kepada kejernihan jiwa–dia terjauh dari getaran nafas emosional gelombang Beta dan semakin masuk ke dalam gelombang damai Alfa. Ini membangun energi, vibrasi dan frekuensi positif bagi pribadi, sekaligus membiasakan diri dalam pemusatan pikiran melalui perhatian utama pada ritme nafas dan arah pandangan mata yang tidak tolah toleh (lirak lirik) selama hanjemparing. Posisi duduk bersila pun menghantarkan pada ketenangan dan melambangkan keindahan serta keagungan bunga Teratai di atas air.
Dalam Gagrak Jemparingan Panji Mataraman seorang Pamanah berorientasi sesuai doa, sabda, dan afirmasi saat memegang Jemparing anak panah, yakni agar Dianugerahi Tuhan “Wening Daya” (jernih energi), “Wening Rasa” (jernih emosi), “Wening Ngelmu” (jernih pengetahuan) dan “Wening Laku” (jernih perbuatan). Selain itu, saat menatap Jemparing anak panah sebelum dilepaskan, sang Pamanah melafalkan NIAT berupa “Manah Sae kang Suci”, yakni agar Dianugerahi kesucian dan kebaikan pikiran, hati dan jiwa sebagai ruh dari budi pekerti luhur. Setiap “rambahan” (ronde) dalam Jemparingan melepaskan 4 anak panah. Hal ini pun diniatkan oleh Pamanah agar melepaskan 4 sifat, yaitu amarah, dendam, trauma, dan rasa sakit hati yang menjadi unsur-unsur utama pembentuk karakter destruktif pribadi manusia. Tergantikan dengan sifat ikhlas, cinta, semangat dan tatakrama sebagai penopang karakter Ksatria Pinandhita.
Lalu apa kelebihan Jemparingan dibandingkan dengan aktivitas meditasi lain sebagai pembentuk karakter budi pekerti? Tidak lain adalah karena dia adalah asli warisan budaya Jawa (Nusantara) nan adiluhung dan Sunnah Rasul yang berpahala serta mendapatkan keridhoan Allah SWT. Wallahu a’lam bishshawab.
*Pemerhati Budaya Jawa, Tinggal di Kota Malang, Jawa Timur
Editor: Jufri Alkatiri
