Oleh: Anwar R. Soediro*
*Mengambil Hikmah dari Fisika Moderen*
Kaum Sufi menyatakan bahwa pengalaman mistik langsung tentang realitas adalah peristiwa penting yang mengguncang fondasi pandangan dunia seseorang– bahwa itu adalah peristiwa paling mengejutkan yang dapat terjadi di ranah kesadaran manusia, dan bahwa itu mengganggu setiap bentuk pengalaman yang terstandarisasi.
Beberapa Sufi menggambarkannya sebagai dasar ember yang pecah. Para fisikawan di awal abad ke-20 merasakan hal yang hampir sama ketika realitas atom baru ini mengguncang fondasi pandangan dunia mereka. Mereka menggambarkannya dengan istilah yang seringkali sangat mirip dengan yang digunakan oleh kaum Sufi. Dengan demikian, Heisenberg menulis: Perkembangan terbaru dalam fisika moderen hanya dapat dipahami ketika seseorang menyadari bahwa di sini fondasi fisika telah mulai bergerak; dan bahwa gerakan ini telah menyebabkan perasaan bahwa landasan akan terkikis dari ilmu pengetahuan.
Penemuan-penemuan fisika moderen memerlukan perubahan mendalam dalam konsep-konsep seperti ruang, waktu, materi, objek, dan sebab akibat– karena konsep-konsep tersebut sangat mendasar bagi cara kita mengalami dunia, para fisikawan yang dipaksa untuk mengubahnya merasakan semacam kejutan–dari perubahan-perubahan ini, lahirlah pandangan dunia baru yang sangat berbeda dan terus dirumuskan.
Teori kuantum menyiratkan keterkaitan esensial alam– sehingga memaksa kita untuk melihat alam semesta bukan sebagai kumpulan objek fisik tetapi sebagai jalinan hubungan yang rumit antara berbagai bagian dari keseluruhan yang terpadu. Seperti Inilah cara kaum Sufi mengalami dunia. Dunia fisika moderen bagi ilmuwan saat ini bukan lagi dunia empiris materialis, tetapi mengarah pada usaha untuk mewujudkan spiritualitas melalui ilmu pengetahuan untuk menemukan hakekat tertinggi ilmu pengetahuan.
Terdapat keparalelan pemikiran antara tasawuf dan fisika moderen, dimana tasawuf berdasarkan pada pemahaman langsung ke dalam alam realitas dan fisika moderen berdasarkan atas observasi terhadap fenomena-fenomena alam dan eksperimen-eksperimen ilmiah yang diinterpretasikan dan dikomunikasikan lewat kata-kata yang akan menjadi terlampau abstrak ketika berdekatan dengan realitas yang menyebabkan kesadaran akan fakta.
Tradisi Intelektual Tasawuf memiliki nilai-nilai yang sangat banyak dalam fisika moderen, namun ini mungkin kurang disadari oleh ummat Islam. Padahal dalam tasawuf yang mengambil ayat-ayat Al-Qur’an banyak sekali hal-hal yang sebenarnya dalam fisika moderen terkuantisasikan dalam bentuk rumus-rumus, yang hal tersebut dapat kita ambil sebagai rasionalitas eksistensi tertinggi Sang Pencipta (Allah Subhaanahu Wa Ta’ala) — sehingga fisika moderen dapat dijadikan sebagai pembedah ayat- ayat Al-Qur’an dalam menunjukkan hakekat spiritualitas.
Hikmah Ruang Waktu
Kaum Sufi — tampaknya mencapai keadaan kesadaran yang luar biasa yang memungkinkan mereka untuk melampaui dunia tiga dimensi kehidupan sehari-hari dan mengalami realitas multidimensi yang lebih tinggi. Dalam fisika relativistic– jika seseorang dapat memvisualisasikan realitas waktu ruang empat dimensi, tidak akan ada paradoks sama sekali. Kaum Sufi memiliki gagasan tentang ruang dan waktu yang sangat mirip dengan yang tersirat dalam teori relativitas.
Dalam Sufisme– tampaknya ada intuisi yang kuat tentang karakter ruang-waktu dari realitas. Para Sufi mengalami keadaan peleburan total di mana tidak ada perbedaan antara pikiran dan tubuh, subjek dan objek. Dalam keadaan pengalaman murni, tidak ada ruang tanpa waktu dan tidak ada waktu tanpa ruang, karena keduanya saling menembus.
Para fisikawan mendasarkan gagasan mereka tentang ruang-waktu pada eksperimen ilmiah, sedangkan para Sufi mendasarkannya pada Sufisme. Model dan teori relativistik fisika moderen mengilustrasikan dua elemen dasar pandangan dunia Sufi: kesatuan universal dan karakter dinamis yang intrinsik.
Ruang melengkung pada derajat yang berbeda, dan waktu mengalir dengan kecepatan yang berbeda di berbagai bagian alam semesta–karena gagasan kita tentang ruang Euklides_ tiga dimensi dan aliran linier waktu terbatas pada pengalaman biasa kita tentang dunia fisik, gagasan tersebut harus ditinggalkan ketika kita memperluas pengalaman ini.
Para Sufi berbicara tentang memperluas pengalaman mereka tentang dunia dalam keadaan kesadaran yang lebih tinggi, dan menegaskan bahwa keadaan ini melibatkan pengalaman ruang dan waktu yang sangat berbeda. Mereka menekankan bahwa mereka melampaui ruang tiga dimensi biasa dalam meditasi, dan, bahkan lebih tegas lagi, bahwa mereka melampaui kesadaran waktu biasa. Alih-alih rangkaian momen linier– mereka mengalami masa kini yang tidak terbatas, abadi, namun dinamis.
Dunia spiritual tidak mengandung pembagian waktu seperti masa lalu, masa kini, dan masa depan, karena semuanya telah menyempit menjadi satu momen masa kini, di mana kehidupan bergetar dalam arti sebenarnya.
Adanya keparalelan atau kesejajaran antara pemikiran realitas ruang dan waktu dalam tasawuf dan fisika moderen mengenai materi di dalam alam semesta memunculkan pola pemikiran yang bercorak mistis sehingga menimbulkan nilai-nilai pemikiran tasawuf dalam fisika moderen yang mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berusaha menemukan kesejatian dan kesempurnaan melalui tanda-tanda kemahaan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang terhampar di alam semesta terutama dunia mikrokosmos atau materi dalam tingkatan subatom yang menunjukkan bukti eksistensi mutlak Dzat Yang Maha Hidup yang dapat diketahui melalui emanasi-Nya yang terpancar dalam setiap makhluq terutama manusia dengan membawa sifat-sifat dan akhlak-akhlak Tuhan. (bersambung)
*Pemerhati Teologi dan Fisafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
