Penjajahan Jilid  Dua Dilanjutkan  oleh “Londo Ireng”

Praktisi Media Massa, Wadir CAJ PWI Pusat, dan Waketum SMSI Pusat (Foto: Benz Jono Hartono)

Oleh: Benz Jono Hartono*

Ketika Penjajah Pergi, yang Tetap Tinggal dan Menjajah adalah Londo Ireng sebagai Instrumen Kaum Kafir dan Kaum Munafik Penjajahan di Indonesia.”

Pada tahun 1945– bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Bendera penjajah diturunkan, pemerintahan kolonial berakhir, dan rakyat berharap era penindasan telah usai– namun, bagi umat Islam, muncul pertanyaan yang terus bergema hingga hari ini, benarkah penjajahan telah berakhir, atau hanya berganti wajah?

Jika penjajahan jilid pertama dilakukan oleh  Londo Bule melalui kekuatan militer, monopoli ekonomi, dan penguasaan politik, maka dalam penjajahan jilid kedua dijalankan oleh Londo Ireng– metamorfosis cara berpikir kolonial dan lebih setia kepada kepentingan Kaum Kafir dan Kaum Munafik, daripada kepada kepentingan rakyatnya sendiri yang Mayoritas Islam. Identitas umat Islam– aspirasi mereka sering dipandang dengan penuh kecurigaan. Simbol-simbol keislaman terkadang menjadi bahan stereotip, sementara suara umat Islam dalam berbagai narasi publik, tidak memperoleh ruang yang setara.

Ketika terjadi persoalan yang melibatkan Umat Islam– penanganannya sering di besar besarkan, sedangkan kasus lain yang tidak terkait Umat Islam selalu dipeti es kan, warisan kolonial yang paling berbahaya bukanlah gedung-gedung peninggalan Belanda, melainkan mentalitas kolonial. Mentalitas yang memandang umat Islam sebagai masyarakat yang harus terus diawasi, dicurigai, diperangi, dan selalu di infiltrasi, juga dijauhkan dari pengaruh dalam kehidupan berbangsa. Ironisnya, pelaku dari cara berpikir itu bukan lagi orang Belanda. Mereka adalah Londo Ireng — anak-anak bangsa sendiri,  yang memperoleh jabatan, kekuasaan, dan fasilitas dari Kaum Kafir dan Kaum Munafik.

Padahal, umat Islam adalah bagian penting dalam sejarah Indonesia. Banyak ulama, santri, dan pejuang Muslim berperan dalam perjuangan melawan kolonialisme– karena itu, muncul pertanyaan yang layak direnungkan, mengapa mayoritas umat Islam selalu dipecundangi oleh kaum kafir dan kaum munafik di Indonesia.

Tantangan umat Islam tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam, perpecahan, rusaknya  pendidikan, lemahnya ekonomi, dan berkurangnya semangat membangun persatuan umat. Tanpa pembenahan internal yang solid– sulit umat Islam untuk menjadi kekuatan yang mampu membawa perubahan.

Pada akhirnya, Indonesia tidak memerlukan kebencian antargolongan– yang diperlukan adalah negara yang benar-benar berdiri di atas semua warga negara secara adil, menghormati kebebasan beragama sesuai konstitusi, dan membuka ruang yang sama bagi setiap kelompok untuk berkontribusi.

Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajah asing, tetapi juga bebas dari segala bentuk ketidakadilan, diskriminasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Jika masih ada warga negara yang merasa dipinggirkan, maka pekerjaan besar bangsa ini belum selesai.

*Praktisi Media Massa, Wadir CAJ PWI Pusat, dan Waketum SMSI Pusat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *