Renungan Dhino Jemuwah: Relevansi Tradisi Intelektual bagi Masyarakat Digital (bag-8)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

Oleh:  Anwar R. Soediro*

Menurut Ibnu ‘Arabi, Insān Kāmil adalah makhluk yang di dalamnya terkompresi seluruh nama dan sifat Tuhan; maka  manusia  adalah mikrokosmos yang mencerminkan makrokosmos.  Dengan  ciri-ciri utamanya:  1). Komprehensivitas: Menghimpun dimensi jasmani, ruhani, intelektual, dan etis secara harmonis.  2).  Kekhalifahan: Bertindak sebagai wakil Tuhan di bumi dengan membawa rahmat bagi seluruh alam. 3). Cermin Tajallī: Menjadi tempat paling sempurna bagi manifestasi Nama-Nama Ilahi. Dengan kata lain, Insān Kāmil bukan manusia tanpa cacat, melainkan manusia yang sadar akan posisinya sebagai penghubung antara  al-Ḥaqq dan al-Khalq, atau Tuhan dan Makhluknya.

A. Krisis Subjektivitas di era digital

Masyarakat digital hari ini mengalami 3 krisis yang beririsan dengan hilangnya model Insān Kāmil: 1. Krisis Fragmentasi Identitas:  Algoritma mendorong pembentukan “persona ganda”. Individu terpecah menjadi banyak akun, citra, dan narasi yang saling bertentangan– diri menjadi produk, bukan subjek. 2. Krisis Reduksi Manusia:  Ekonomi atensi mereduksi manusia menjadi data, metrik, dan engagement. Nilai manusia diukur dari viralitas, bukan dari integritas. 3. Krisis Kekhalifahan: Ruang digital yang harusnya menjadi ruang membangun peradaban, justru dipenuhi ujaran kebencian, hoaks, dan eksploitasi. Fungsi “rahmat bagi semesta” hilang.

B. Insan Kamil sebagai Etika Digital

Relevansi Insān Kāmil terletak pada kemampuannya menjadi antitesis dari ketiga krisis di atas. Aktualisasinya dapat dirumuskan dalam 3 protokol: Dari Fragmentasi ke Integrasi: Jami’iyyah. Insān Kāmil adalah al-jāmi’ (yang menghimpun). Di dunia digital ini berarti menolak dikotomi  dunia nyata vs dunia maya. Aktivitas online dan offline harus satu mata rantai etis.

Protokol: Digital Integrity. Apa yang diyakini, diucapkan, dan diposting harus koheren. Tidak ada “topeng digital”. Ini adalah perwujudan ṣiddīq.  Dari Komodifikasi ke Kekhalifahan: Khilāfah Digital. Jika Insān Kāmil adalah khalifah, maka kehadirannya di internet bukan untuk mengeksploitasi, melainkan untuk memakmurkan. Timeline bukan lahan perburuan atensi, tapi ladang amar ma’ruf.

Protokol: Content Stewardship. Bertanya sebelum memproduksi konten: “Apakah ini membawa manfaat, ilmu, atau kedamaian? Apakah ini tajallī dari nama al-Raḥmān?” Konten menjadi ibadah, bukan komoditas.

Dari Narsisme ke Cermin: Mir’āt al-Ḥaqq

Insān Kāmil berfungsi sebagai cermin yang memantulkan sifat-sifat Tuhan. Di media sosial, ini berarti menolak narsisme performatif. Tujuan utama bukan “menunjukkan aku”, tapi “menunjukkan Kebenaran melalui aku”.

Protokol:  Syuhūd, bukan Syuhrah. Prioritasnya adalah menjadi saksi atas kebaikan, bukan mencari ketenaran. Mengurangi self-branding yang berlebihan dan memperbanyak public-service. Sebagai kesimpulan; Dalam masyarakat digital yang cenderung memecah dan mengosongkan manusia, Insān Kāmil menawarkan visi alternatif: manusia yang utuh, bertanggung jawab, dan menjadi rahmat.

Insan Kamil adalah jawaban atas pertanyaan: “Teknologi untuk siapa, dan untuk apa?” Dengan demikian, Insān Kāmil relevan bukan karena anti-teknologi, melainkan karena  menginsani teknologi. Teknologi menjadi alat, bukan tuan. Layar menjadi cermin, bukan berhala.

Batasan dan Catatan

Penting untuk menegaskan bahwa Insān Kāmil dari pemikiran Ibnu ‘Arabi tidak dapat diterapkan secara literal– adalah ideal regulatif, bukan standar empiris. Tujuannya bukan menciptakan “manusia suci digital”, melainkan menyediakan kompas arah: bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemajuan budi pekerti.

Konsep ini juga menolak  transhumanisme  yang ingin menyempurnakan manusia  melalui teknologi semata. Bagi Ibnu ‘Arabi, kesempurnaan tidak datang dari luar, tetapi dari penyelarasan batin dengan Sumber Wujud. (bersambung)

*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *