Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Sebagai antisipasi– tidak ada salahnya kita membayangkan suatu hari Jakarta tidak dibangunkan oleh suara adzan, klakson, kereta, atau hiruk-pikuk jutaan manusia yang mengejar waktu. Jakarta tiba-tiba dibangunkan oleh bumi yang berguncang keras. Sebut saja, gempa 9,0 M seperti pernah diramalkan BMKG saat membuat skenario gempa Megathrust Selat Sunda dalam latihan kesiapsiagaan nasional.
Kira-kira, saya membayangkan, dalam hitungan detik, orang-orang berhamburan keluar dari perkantoran. Lift berhenti. Listrik padam di sejumlah tempat. Jaringan telekomunikasi mengalami gangguan. Jalan dipenuhi manusia yang panik mencari ruang terbuka. Rumah sakit menerima gelombang pasien. Transportasi publik terganggu. Aktivitas perbankan, perdagangan, pemerintahan dan bisnis untuk sementara tersendat.
Sementara itu, gedung-gedung tinggi Jakarta bergoyang keras. Kaca-kaca dapat pecah. Plafon, fasad, dan berbagai komponen nonstruktural berjatuhan. Pembicaraan tentang gempa besar sebenarnya bukan cerita fiksi untuk menakut-nakuti masyarakat. Ini adalah pembicaraan mengenai risiko yang harus diantisipasi. Mengapa gempa besar di Jakarta akan berbeda dampaknya dibandingkan gempa yang sama di wilayah yang aktivitas ekonominya lebih kecil? Karena Jakarta bukan hanya kumpulan rumah dan gedung. Jakarta adalah salah satu pusat saraf perekonomian Indonesia.
Di sini terdapat pusat-pusat perbankan, pasar modal, kantor perusahaan nasional dan multinasional, pusat perdagangan, jaringan komunikasi, rumah sakit besar, pusat data, infrastruktur transportasi, serta berbagai institusi strategis negara. BPS mencatat nilai ekonomi Jakarta sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp3.926 triliun. Sebagai perbandingan, PDB Indonesia tahun yang sama sekitar Rp23.821 triliun.
Bayangkan kalau sebagian aktivitas ekonomi sebesar itu berhenti selama beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan. Kerugiannya bukan hanya gedung yang retak– yang jauh lebih mahal adalah hilangnya aktivitas ekonomi. Misalnya, transaksi terhenti. Pabrik dan perusahaan kehilangan rantai pasok. Bank dan lembaga keuangan menghadapi gangguan operasional. Penerbangan dan transportasi terganggu dan seterusnya.
Bencana Palu dan Sulawesi Tengah pada 2018– misalnya, menyebabkan estimasi kerusakan dan kerugian sekitar Rp13,82 triliun menurut BNPB. Lalu, bagaimana dengan Jakarta? Sudah pasti akibatnya akan jauh lebih besar, karena Jakarta mempunyai konsentrasi aset dan aktivitas ekonomi yang jauh lebih besar.
BMKG berulang kali menjelaskan adanya potensi gempa besar di zona Megathrust Selat Sunda– tetapi BMKG juga menegaskan satu hal yang sering dilupakan publik: potensi bukan prediksi waktu kejadian. Memang tidak ada ilmuwan yang dapat mengatakan dengan pasti gempa tersebut akan terjadi besok, bulan depan atau tahun tertentu.
BMKG — menjelaskan bahwa pembahasan mengenai seismic gap Megathrust Selat Sunda merupakan bagian dari kesiapsiagaan terhadap skenario terburuk– karena itu, kita tidak boleh panik– tetapi kita juga tidak boleh lengah, apalagi menertawakannya. Ilmu pengetahuan tidak mengajarkan ketakutan. Ilmu pengetahuan mengajarkan kesiapan.
Lalu Bagaimana dengan Tsunami? Kajian Risiko Bencana BNPB untuk DKI justru dalam klasifikasi risiko tsunami Jakarta pada tingkat relatif rendah di wilayah yang dikaji– tetapi Jakarta tetap bisa terkena dampak berantai. Jika kawasan Banten, pelabuhan, jalan, jaringan listrik, industri, telekomunikasi dan jalur logistik mengalami kerusakan besar, Jakarta tetap akan ikut merasakan akibatnya.
Pertanyaan yang kemudian muncul, jika bencana sebesar itu benar-benar terjadi di sekitar Jakarta, apakah itu akan menjadi awal kebangkrutan Indonesia? Jawabannya tentu tidak sesederhana pertanyaannya? Apalagi, kalau sudah menyangkut gangguan sistem logistik, gempa besar di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan BPBD atau BMKG– adalah persoalan ketahanan nasional.
Pertanyaannya bukan sekadar: “Apakah gedung kita kuat?” Tetapi juga: “Apakah rumah sakit kita siap? Apakah pusat data mempunyai cadangan? Apakah sistem perbankan memiliki disaster recovery center diluar Jakarta? Dan pertanyaan paling sederhana tetapi paling penting: Kalau gempa besar terjadi malam ini, apakah kita tahu harus melakukan apa? Itulah persoalan yang jauh lebih dalam–yaitu kesadaran. Kita sering mempunyai kebiasaan buruk: baru sadar setelah kehilangan.
Baru ingat kesehatan setelah sakit. Baru menghargai keluarga setelah kehilangan. Baru menjaga lingkungan setelah banjir. Baru membenahi bangunan setelah gempa– dan kadang-kadang, baru mengingat Tuhan setelah seluruh kemampuan manusia tidak lagi mampu menolong dirinya. Inilah paradoks manusia modern. Ketika teknologi semakin maju, manusia merasa semakin berkuasa.
Gedung semakin tinggi– mesin semakin pintar– Artificial intelligence semakin canggih tetapi, ada satu hal sederhana yang sampai hari ini tidak bisa kita lakukan: memerintahkan bumi agar jangan berguncang. Kita bisa memasang sistem peringatan dini tetapi kita tidak mampu menentukan kapan lempeng bumi harus bergerak.
Dalam konteks inilah, ilmu pengetahuan justru seharusnya membuat manusia semakin rendah hati– dalam perspektif keimanan, bencana dapat menjadi momentum muhasabah nasional. Kenapa?– karena jika musibah besra itu terjadi, yang jadi korban bukan hanya orang jahat, tetapi juga orang soleh. Termasuk, anak-anak tidak berdosa bisa menjadi korba– karena itu, pesan utamanya bukan menunjuk dosa orang lain–tetapi, menunjuk ke dalam diri sendiri: apa yang harus saya perbaiki sebelum datang sesuatu yang tidak pernah saya duga? Al-Qur’an mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat itu seharusnya melahirkan kerendahan hati ekologis dan moral. Manusia tidak boleh terus menerus merasa menjadi pemilik mutlak bumi. Kita hanyalah penghuninya untuk waktu yang sangat pendek. Boleh jadi problem terbesar kita hari ini bukan karena kita tidak tahu ancaman–tetapi karena kita terlalu nyaman. Setiap kali BMKG berbicara tentang megathrust, ramai dua atau tiga hari– setelah itu hilang.
Kita melihat bangunan runtuh di tempat lain seperti menonton film yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan kita. Padahal Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas kegempaan tertinggi di dunia. Barangkali kita perlu mengubah pertanyaan. Bukan: “Kapan gempa besar akan terjadi?”– tetapi: “Kalau gempa itu terjadi, seberapa siap kita?” Sebab pertanyaan pertama tidak bisa dijawab manusia.
Sedangkan pertanyaan kedua sepenuhnya berada dalam tanggung jawab manusia– karena itu, jangan menunggu M9 untuk melatih masyarakat melakukan evakuasi. Jangan menunggu semuanya hilang untuk kembali mengingat Tuhan. Kalau kesadaran baru datang setelah gedung runtuh, korban berjatuhan dan kekayaan lenyap, harga pelajaran itu terlalu mahal.
Bukankah manusia disebut makhluk berakal justru karena dia mampu belajar sebelum mengalami? Jepang membangun budaya mitigasi bukan karena mampu menghentikan gempa– mereka sadar bahwa gempa tidak bisa dihentikan, tetapi korban bisa dikurangi. Indonesia seharusnya mempunyai kesadaran yang sama– karena itu, jangan menunggu Jakarta berguncang untuk bersujud. Jangan menunggu gedung retak untuk bermuhasabah. Jangan menunggu kehilangan untuk berubah– dan jangan menunggu datangnya bencana untuk kembali menyadari bahwa di atas seluruh kekuatan manusia masih ada kekuasaan Allah SWT. Kalau kesadaran itu muncul sebelum bencana datang, maka ancaman gempa bukan awal kebangkrutan. Ia justru dapat menjadi awal kesadaran nasional.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
