Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)
Oleh: Anwar R. Soediro
Adam sebagai Akar dari semua Tradisi dan Agama– berbagai sumber menjelaskan bahwa pesan keagamaan atau wahyu sejati selalu dimulai sejak masa Adam– karena Adam memiliki pengetahuan langsung tentang Tuhan saat drama kosmis penciptaan– maka cetak biru spiritualitas (Sufisme, Gnosis, dan Vedanta) sebenarnya sudah tertanam di dalam struktur jiwa terdalam setiap anak cucu Adam. Tugas agama-agama historis di dunia hanyalah untuk membangunkan kembali Kesadaran Adam — yang tertidur di dalam diri manusia moderen; agar Adam bukan sekedar cerita masa lalu tentang “siapa manusia pertama” melainkan sebuah cermin untuk melihat siapa diri kita yang sebenarnya saat ini di hadapan Yang Maha Mutlak.
Adam dalam drama kosmis– Adam merupakan salah satu aktor utama dalam Al-Qur`an; beberapa klasifikasi term-term yang sering disebutkan al-Qur`an tentang manusia adalah; al-basyar, al-insan, al-naas, bani Adam, dan dzuriyat Adam. Selain itu, ditemukan juga istilah lain yang mengacu kepada manusia, seperti: ‘Abdullah dan Khalifah. Diantara kelebihan yang dimiliki manusia menurut al-Qur`an terletak pada fisik, akal dan hati. Adapun kekurangan manusia menurut al-Qur`an antara lain; suka mengeluh dan kikir, bersfifat lemah, zhalim dan bodoh, pembantah dan suka berdebat, putus asa dan tidak berterima kasih, tergesa-gesa, pembuat dosa, ragu-ragu terhadap hari pembalasan.
Adam sebagai Akar dari Semua Tradisi dan Agama — menjelaskan bahwa pesan keagamaan atau wahyu sejati selalu dimulai sejak masa Adam– karena Adam memiliki pengetahuan langsung tentang Tuhan saat dalam dimensi tinggi (Alam Jabarut) — maka cetak biru spiritualitas (Sufisme, Gnosis, dan Vedanta) — sebenarnya sudah tertanam di dalam struktur jiwa terdalam setiap anak cucu Adam. Tugas agama-agama historis di dunia hanyalah untuk membangunkan kembali “Kesadaran Adam” yang tertidur di dalam diri manusia moderen. Pada umumnya kata Adam digunakan untuk merujuk pada manusia dalam kontek asal-usul sejarah, dan sisilah keturunan hubungan kekeluargaan dan asal usul biologis, penelusuran bahasa baik bahasa arab asli, maupun bahasa semitik kuno etimologi kata adam secara universal bermakna “makhluk yang diciptakan dari unsur tanah/bumi.
Adam dalam Bahasa Semitik Perjanjian Lama– secara linguistik — Alkitab Perjanjian Lama yang dalam bahasa Ibrani (bahasa asli kitab kejadian), kata Adam memiliki kaitan erat dengan permainan kata (wordplay) dengan asal-usul manusia yakni dari “tanah”. Ha-Adam, dalam bahasa Ibrani ha adalah kata sandang definit seperti the dalam bahasa inggris dan al dalam bahasa arab, yang dapat berarti “itu” atau “sang” atau kata tunjuk (menunjuk sesuatu). Sebagaimana, al kitab, berarti buku itu/ini, telah menunjuk buku khusus/tertentu, misalnya buku ekonomi atau buku sejarah bukan buku dalam arti umum semua buku. Ha-Adam secara harfiah berarti manusia itu atau sang manusia; dalam kitab kejadian 2:7, kata Ha-Adam tidak digunakan langsung sebagai nama pribadi, melainkan sebagai sebutan makhluk jantan yang pertama diciptakan Allah.
Dalam teks kitab kejadian 2:7 tertulis bahwa, Tuhan Allah membentuk Ha-Adam (sang manusia) dari debu Ha-Adamah (sang tanah). Hubungan bahasa ini mirip dengan kata bahasa Latin yaitu Human (manusia) yang berakar dari kata humus (tanah/batu/bumi). Akar kata ini diduga berasal dari kata yang berarti “merah”, merujuk pada warna tanah liat atau tanah liat tempat asal manusia dibentuk. Adam (manusia) dan Adamah (tanah), memiliki makna teologis: manusia diciptakan dari unsur yang paling rapuh dan rendah di bumi yaitu debu. Hal ini menjadi pengingat filosofis bahwa manusia tidak memiliki keabadian inheren dalam fisiknya, ketika mati akan kembali menjadi tanah. Memiliki makna keterikatan ekologis intim dengan alam; manusia tidak dirancang untuk terpisah dari alam. Kelangsungan hidup manusia bergantung sepenuhnya pada kesuburan tanah dimana mereka berpijak.
Kitab kejadian ini secara tegas, mengatakan penciptaan manusia imanen dari tanah (terikat pada bumi) mempunyai batas/jarak dengan Sang Pencipta yang transenden (berada diluar alam semesta). Manusia menjadi mulia bukan kareana bahan dasarnya (tanah), melainkan karena “nafas hidup” (neshama) yang dihembuskan langsung oleh Allah kedalam hidupnya.
Etimologis kata Adam dalam bahasa Arab
Akar kata Adam berasal dari kata: al-Adamah, kata memiliki arti kulit luar bumi atau permukaan tanah; udmah, merujuk kulit tertentu, yaitu warna coklat sawo matang, putih bersih, atau warna yang menyerupai warna tanah; al-Idam yang berarti lauk pauk atau penyampur/penyelaras. Dari tiga akar kata dapat disimpulkan Adam memiliki arti makhluk yang berasal dari tanah, memiliki warna seperti tanah, dan memiliki keselarasan antar elemen campuran tanah, air dan ruh.
Basyar: Al-Qur’an menyebut manusia juga menggunakan kata Basyar; yang berarti kulit luar atau penampakan fisik, al-qur’an menggunakan basyar ketika membahas proses biologis, materi fisik (tanah, air mani), makan minum, reproduksi, dan kematian. Al-Insan: Berdasarkan ayat-ayat yang menggunakakan term al-insan dalam Al- Qur`an banyak yang membicarakan dan menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan menalar dan berpikir dibanding dengan makhluk lainnya.
Al-Naas: Dalam konsep al-naas pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial– tentunya sebagai makhluk sosial manusia harus mengutamakan keharmonisan bermasyarakat. Manusia harus hidup sosial artinya tidak boleh sendiri-sendiri– karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Al-Ins: Sedang konsep al-ins manusia selalu di posisikan sebagai lawan dari kata jin yang bebas. bersifat halus dan tidak biadab. Jin adalah makhluk bukan manusia yang hidup di alam “antah berantah” dan alam yang tak terinderakan. Sedangkan manusia jelas dan dapat menyesuaikan diri dengan realitas hidup dan lingkungan yang ada.
Bani Adam: Berarti anak Adam atau keturunan Adam– digunakan untuk menyatakan manusia bila dilihat dari asal keturunannya. Hal ini adalah usaha pemersatu (persatuan dan kesatuan) tidak ada perbedaan sesamanya, yang juga mengacu pada nilai penghormatan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian serta mengedepankan HAM — karena yang membedakan hanyalah ketaqwaannya kepada Pencipta. Khalifah: Bermakna menggantikan yang lain, baik karena yang digantikan itu tidak ada tempat, kematian, sudah tidak memiliki kemampuan, atau sudah lemah, suatu penghormatan yang diberikan kepada si pengganti.
Dalam konsep ini — manusia dibekali ilmu pengetahuan untuk mengemban amanat yang dibebankan Allah untuk mengatur dan memanfaatkan semua potensi yang ada di dunia, dan inilah yang menjadi pembeda dengan mahluk- mahluk ciptaan Allah yang lain. Abdullah:Dalam konsep ini ternyata peran manusia harus disesuaikan dengan kedudukannya sebagai abdi (hamba), dengan demikian berarti manusia harus tunduk dan taat kepada ketentuan pemiliknya yaitu Allah. (bersambung)
*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
