Renungan Malam Jemuwah: Perspektif Melihat Sosok Adam (bag-3)

Pegiat Teologi  dan Filsafat Islam (Foto: Anwar. R. Soediro)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Adam Dalam Perspektif Tasawuf

Dalam magnum opus-nya, Fusus al-Hikam (Permata Kebijaksanaan Nabi-Nabi), Ibnu Arabi menempatkan Nabi Adam adalah personifikasi dari Insan Kamil (Manusia Sempurna) yang diciptakan sebagai sintesis atau rangkuman dari seluruh realitas kosmik dan  Asmaulhusna (Nama-Nama Tuhan).

Hakikat Adam–  secara Fisik-historis Adam adalah manusia yang dipilih  (al-musthafa) Tuhan untuk berada di Bumi, namun secara spiritual-metafisik esensi terdalam dari Adam adalah kesempurnaan refleksi ilahi yang bersumber pada Hakikat Muhammadiyah  (al-Haqiqah al-Muhammadiyah) yaitu cetak biru spiritual pertama yang diciptakan Tuhan sebelum segala sesuatunya ada.

Adam sebagai Pengilap Cermin Alam Semesta Ibnu Arabi membuat analogi bahwa sebelum Adam diciptakan, alam semesta ini sudah ada namun ibarat sebuah cermin yang buram, gelap, dan belum dipoles. Tuhan ingin melihat diri-Nya  (ber-tajalli) dalam wujud di luar esensi-Nya, maka Dia memoles cermin kosmos itu. Adam adalah pengilap  (jala’) sekaligus ruh bagi cermin tersebut. Tanpa Adam, alam semesta hanyalah jasad mati tanpa nyawa dan tanpa kesadaran.

Selanjutnya, Ibn ‘Arabi melukiskan fungsi Adam dengan salah satu citra favoritnya, yaitu cermin, di mana dia berusaha menjelaskan rahasia dari  refleksi terhadap realitas dalam cermin ilusi. Dalam citra yang halus ini, terdiri dari dua unsur yakni:  1). Cermin itu sendiri atau subjek yang mengamati, yang melihat gambarnya sendiri yang terefleksikan dalam cermin sebagai objek. 2). Adam, sebagai faktor penghubung dalam proses refleksi dan pengakuan terhadap refleksi, adalah wakil dari cermin dan subjek pengamat.  Cermin itu adalah sebagai sebuah simbol reseptivitas dan refleksivitas alam kosmik, serta subjek pengamat sebagai Allah itu sendiri.  Jadi, Adam digambarkan oleh Ibn ‘Arabi sebagai “prinsip refleksi” dan “ruh dari bentuk yang direfleksikan”.

Adam sebagai Barzakh Mikrokosmos dan Makrokosmos: Adam sebagai Jembatan Makrokosmos dan Mikrokosmos, Ibnu Arabi membedakan dua istilah penting dalam penciptaan yaitu: sebagai Manusia Agung (Al-Insan al-Kabir) yaitu alam semesta secara keseluruhan (makrokosmos). Karakteristik Alam Semesta (makrokosmos) mencerminkan  nama-nama Tuhan secara terpisah dan terfragmentasi.  Sedangkan Manusia Kecil (Al-Insan al-Shaghir)– yaitu Adam (mikrokosmos). Berbeda dengan alam semesta, karakter Adam dapat merangkum seluruh elemen alam dan seluruh Nama Tuhan di dalam satu diri yang ringkas.

Barzakh adalah perantara– pemisah sekaligus penyambung, dimana Adam ditempatkan persis di tengah; antara Tuhan dan Alam, antara Ruh dan Tanah, antara Gaib dan Syahadah. Dalam terminolgi Al-Quran barzakh adalah  “Dia membiarkan dua lautan mengalir… di antara keduanya ada barzakh yang tidak dilampaui keduanya”  Q.S Ar-Rahman: 19-20.

Secara metafisis Barzakh punya 3 sifat: Memisahkan 2 alam agar tidak hancur saling bertabrakan, menyambungkan dua alam agar terjadi aliran konektifitas, dan memiliki sifat  dari kedua alam sekaligus. Adam adalah Barzakh A’dzam (Barzakh terbesar), maksudnya apa yang ada di alam besar (makrokosmos), ada salinannya di dalam Adam (mikrokosmos)– karena itu Imam Ali berkata: “Apakah kau kira dirimu benda kecil? Padahal di dalam dirimu tergulung alam semesta yang besar”. Adam adalah “miniatur Tuhan dan  miniatur Alam Semesta”.

Adam sebagai Barzakh secara Epistemologis; Maknanya– Adam diberi kemampuan “menerjemahkan”. Adam memiliki kemampuan melihat “Nama” Tuhan di balik fenomena alam; ketika merenungkan Batu  terkandung  asma al-Jamīd; ketika merefleksi air  akan melihat sumber kehidupan al-Ḥayy, dan ketika merasakan semilirnya Angin, menyadari adanya ar-Rūḥ (kehidupan)– maka tanpa Adam, alam akan bisu; dan dengan adanya Adam, alam akan menjadi seraya bertasbih.  Maka Adam adalah Jembatan Pengetahuan karena Allah mengajarkan al-Asmā’ kepada Adam. (Q.S al-Baqarah/2: 31) Adam bagi Tuhan ibarat pupil bagi sebuah mata. Melalui pupil mata, seseorang bisa melihat dunia. Secara metafisik, melalui manusia (Adam), Tuhan melihat makhluk-makhluk-Nya dan menyalurkan rahmat serta pemeliharaan-Nya ke alam semesta.

Jika Insan Kamil (karakteristik spiritual Adam) lenyap sama sekali dari bumi, maka runtuhlah tatanan alam semesta ini. Ketika Realitas ingin melihat esensi Nama-nama-Nya yang Indah  (al-Asma’ al-Husna) atau, dengan kata lain, ingin melihat Esensi-Nya dalam sebuah objek inklusif yang meliputi seluruh Perintah-Nya, yang didasarkan pada eksistensi, Dia akan memperlihatkan rahasia Diri-Nya kepada-Nya.  Penglihatan terhadap sesuatu, dirinya oleh dirinya sendiri, tidaklah sama dengan melihat dirinya pada yang lain, sebagaimana dalam sebuah cermin. Sebab, ia muncul untuk dirinya sendiri dalam sebuah bentuk yang ditanamkan oleh lokasi penglihatan yang hanya muncul dengan adanya eksistensi lokasi dan penyingkapan-diri (tajjali) lokasinya terhadapnya.

Adam sebagai Barzakh Ontologis: Maknanya, jembatan atau perantara penciptaan ketika Adam dibentuk dari bawah yakni (tanah, air, api) kemudian ketika menerima tiupan Ruh Ilahi dari atas; “Kutiupkan ruh-Ku padanya” Q.S 15:29; Maka Adam satu-satunya makhluk yang kakinya di tanah, kepalanya di langit, Adam merupakan penghubung agar limpahan fayḍ Tuhan bisa turun ke alam materi. Adam adalah Titik Tengah antara Qadim dan Hadits, antara Wahyu dan Akal, antara Langit dan Bumi. Selama Adam sebagai Barzakh ini masih hidup, alam semesta masih akan selalu bertasbih. Saat manusia Barzakh ini mati, kiamat dimulai dari dalam diri ummat manusia, Ibnu ‘Arabi menyebut: “Alam semesta adalah kitab, Adam adalah pembacanya. Jika pembacanya buta huruf, maka kitab itu sia-sia”.

Adam sebagai Barzakh Etis:  Adam diposisikan Tuhan bukan hanya penghubung tetapi juga menjaga adab. Manusia adalah makhluk yang tugasnya menjaga keseimbangan moral antara perintah lagit dan realitas bumi oleh karena dengan moral dan etis ini, Adam diberi gelar *_Khalīfatullāh,_* dimana tugas Khalifah adalah menjaga agar “langit” tidak turun terlalu kasar ke “bumi”, dan “bumi” tidak naik terlalu liar ke “langit” yang artinya manusia harus menjunjung adab dalam rangka menjaga keseimbangan (mizan).

Dalam perspektif metafisika Ibnu Arabi, kegagalan Iblis untuk bersujud kepada Adam bukan sekadar pembangkangan moral atau masalah kesombongan psikologis semata.  Ibnu Arabi memandangnya sebagai kegagalan epistemologis dan ontologis yang sangat mendasar. Iblis mengalami “kebutaan batin” sehingga dia tidak mampu membaca realitas metafisis yang ada di balik bungkus fisik Adam. (bersambung)

*Pegiat Teologi  dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *