Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Kawasan yang sekarang bernama Indonesia ini ternyata bukanlah ruang geografis yang baru dihuni kemarin sore. Sangiran di Jawa menjadi salah satu situs terpenting dalam sejarah evolusi manusia. Jejak Homo erectus di Jawa berusia lebih dari satu juta tahun. Di Sulawesi ditemukan seni figuratif dan naratif yang usianya lebih dari 50 ribu tahun. Manusia moderen juga telah melakukan penyeberangan laut di kawasan Wallacea puluhan ribu tahun silam.
Belum lagi fakta paleogeografi mengenai Sundaland. Pada zaman es, Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Semenanjung Malaya pernah menjadi bagian dari daratan luas. Ketika es mencair dan permukaan laut naik lebih dari seratus meter, sebagian besar daratan itu kemudian tenggelam dan membentuk bentang kepulauan yang kita kenal sekarang. Fakta ini telah membuat banyak peneliti dan penulis tertarik menempatkan Nusantara dalam diskusi mengenai pusat-pusat kebudayaan manusia purba.
Stephen Oppenheimer melalui bukunya Eden in the East — bahkan mengajukan hipotesis bahwa Asia Tenggara pernah menjadi pusat kebudayaan penting sebelum kenaikan permukaan laut mengakibatkan migrasi besar penduduknya.
Prof. Arysio Santos melangkah lebih jauh. Dalam bukunya mengenai Atlantis, dia mengajukan dugaan bahwa Atlantis yang selama ribuan tahun dicari manusia sebenarnya berada di kawasan Sundaland, wilayah yang sekarang sebagian besar menjadi Indonesia.
Apakah Nusantara benar-benar Atlantis? Ilmu pengetahuan belum dapat memastikan. Apakah banjir besar yang menenggelamkan Sundaland mempunyai hubungan dengan tradisi mengenai banjir Nabi Nuh? Itu juga belum dapat dibuktikan secara arkeologis– namun satu hal sulit dibantah, bahwa Nusantara adalah salah satu kawasan hunian manusia dan perkembangan kebudayaan yang sangat tua di bumi– karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah Indonesia adalah Atlantis. Tetapi, mengapa bangsa yang hidup di atas salah satu kawasan sejarah manusia paling tua ini justru masih tertatih-tatih mengejar kemajuan bangsa lain?
Inilah kesalahan pertama yang perlu kita sadari. Umur suatu peradaban tidak otomatis menentukan kemajuan sebuah bangsa pada masa sekarang. Mesir mempunyai piramida berusia ribuan tahun. Irak berdiri di kawasan Mesopotamia yang sering disebut salah satu tempat kelahiran peradaban dunia. India mempunyai tradisi peradaban ribuan tahun. Yunani melahirkan filsuf-filsuf besar– namun sejarah panjang saja tidak otomatis membuat negara menjadi paling maju secara ekonomi, teknologi maupun institusi. Sebaliknya, beberapa negara yang relatif muda justru berkembang sangat cepat.
Singapura tidak mempunyai sejarah imperium sebesar Majapahit. Korea Selatan beberapa dekade lalu masih termasuk negara miskin. Jepang bahkan pernah hancur setelah Perang Dunia II– tetapi ketiganya membangun sesuatu yang jauh lebih menentukan daripada kebanggaan sejarah: manusia, pendidikan, disiplin, ilmu pengetahuan dan institusi.
Di sinilah masalahnya. Kita terlalu sering memandang masa lalu sebagai benda yang harus dibanggakan, bukan sebagai energi yang harus diterjemahkan menjadi kemajuan. Kita bangga menyebut Majapahit dan semboyan Nusantara– tetapi membangun tata kelola pemerintahan yang bersih saja masih menjadi pekerjaan berat.
Sejarah akhirnya berubah menjadi nostalgia– padahal sejarah seharusnya menjadi inspirasi. Ada ungkapan lama yang sangat terkenal: “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Tetapi, dalam jangka sangat panjang, kekayaan alam yang berlimpah itu justru melahirkan apa yang dalam ekonomi politik sering disebut resource curse, kutukan sumber daya.
Bangsa yang terlalu kaya sumber daya terkadang lebih lambat membangun kreativitas dan teknologi karena memperoleh pendapatan besar dari menjual kekayaan alam. Kalau minyak bisa dijual, mengapa susah-susah menciptakan teknologi? Kalau batu bara masih laku, mengapa repot membangun industri maju? Dan seterusnya.
Cara berpikir seperti itulah yang berbahaya. Negeri yang seharusnya kaya akhirnya menjadi negeri penggali. Bukan negeri pencipta. Kita mengekspor mineral. Negara lain mengubahnya menjadi teknologi. Kita menghasilkan kelapa sawit. Negara lain membangun industri hilir dengan nilai tambah tinggi.
Di sinilah ukuran kemajuan peradaban berubah. Pada zaman dahulu– kekuasaan ditentukan luas tanah. Sekarang kekuasaan ditentukan penguasaan ilmu. Dulu bangsa kaya adalah bangsa yang memiliki tambang emas. Sekarang bangsa paling kuat adalah bangsa yang memiliki teknologi tinggi– karena itu, kekayaan terbesar abad ke-21 bukan lagi yang berada di bawah tanah, melainkan yang berada di dalam kepala manusia.
Ada paradoks lain. Bisa jadi masalah Indonesia bukan karena terlalu bangga pada masa lalu. Justru, kita tidak cukup mengenal masa lalu kita sendiri. Berapa banyak anak Indonesia mengetahui Sangiran? Berapa banyak mengetahui bahwa lukisan gua Sulawesi termasuk ekspresi seni manusia tertua yang pernah ditemukan? Berapa banyak mengetahui Sundaland?
Mengetahui sejarah panjang seperti itu penting bukan untuk membangun kesombongan. Justru untuk membangun kepercayaan diri peradaban. Kita harus berani mengatakan kepada generasi muda: “Kalian bukan anak sebuah bangsa yang baru kemarin belajar berlayar.
Kita tentu tidak boleh mengabaikan kolonialisme. Tetapi kolonialisme tidak boleh menjadi alasan tanpa batas. Sebab, banyak negara lain juga pernah dijajah. Sebagian bahkan pernah hancur karena perang.Tetapi mereka mampu melakukan lompatan. Lalu, kenapa Indonesia belum mampu melompat jauh seperti mereka? Inilah mungkin pelajaran penting dari sejarah. Kejayaan tidak pernah diwariskan secara otomatis. Menjadi keturunan bangsa besar tidak otomatis membuat generasi berikutnya besar. Peradaban harus diciptakan ulang oleh setiap generasi. Indonesia tidak otomatis maju hanya karena pernah mempunyai Sriwijaya dan Majapahit.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Akatiri
