Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh : Toto Izul Fatah*
Berdoalah– sebab doa adalah salah satu bentuk paling nyata dari pengakuan manusia bahwa dirinya lemah dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Tidak ada yang salah dengan meminta kepada Allah. Bahkan Allah memerintahkannya: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.” (QS Ghafir: 60). Rasulullah SAW bahkan menegaskan, “Doa adalah ibadah.” (HR Tirmidzi No. 3372).
Dalam doa, ada juga pengakuan bahwa sehebat apa pun manusia merencanakan hidupnya, pada akhirnya tetap ada wilayah yang berada di luar kekuasaannya. Kita boleh bekerja, berikhtiar, menyusun strategi, mencari dokter ketika sakit, mencari pekerjaan ketika membutuhkan nafkah, tetapi keputusan terakhir tetap milik Allah.
Di situlah doa menemukan maknanya. Doa pada hakikatnya adalah pengakuan: “Ya Allah, aku sudah berusaha, tetapi aku sadar bahwa tanpa izin dan ridha-Mu, aku tidak mempunyai kekuatan apa-apa.”– namun justru di sinilah persoalan lain muncul. Jangan sampai karena terlalu sering meminta, kita tanpa sadar menjadikan doa seperti daftar instruksi kepada Tuhan.
Padahal pertanyaannya sederhana. Siapa sebenarnya yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kehidupan kita, Allah atau kita? Dalam konteks inilah doa perlu dikembalikan kepada adabnya. Sebelum lidah kita mengucapkan permintaan, Allah sudah mengetahui apa yang kita inginkan– karena itu, doa sesungguhnya bukan kegiatan memberikan informasi kepada Tuhan. Ketika seseorang berkata, “Ya Allah, aku sedang kesulitan,” tentu bukan berarti Allah baru mengetahui kesulitannya setelah diberi tahu.
Doa justru merupakan pengakuan manusia kepada dirinya sendiri, bahwa aku sedang membutuhkan Tuhan. Maka, ada perbedaan sangat tipis tetapi sangat penting antara meminta kepada Tuhan dengan mendikte Tuhan. Doa yang matang seharusnya tidak berbunyi dalam jiwa: “Ya Allah, turutilah keinginanku.” Tetapi: “Ya Allah, inilah keinginanku. Jika baik menurut-Mu, kabulkanlah. Jika tidak, pilihkanlah sesuatu yang lebih baik.”
Itulah doa yang tidak mendikte Tuhan. Kita sering sangat memperhatikan etika ketika meminta bantuan kepada manusia. Biasanya, kita mengatakan:“Maaf sebelumnya.” “Maaf merepotkan.” “Kalau tidak keberatan, saya ingin meminta bantuan.” Bahkan ketika pernah melakukan kesalahan kepada orang yang sedang kita mintai bantuan, kita merasa tidak enak jika belum meminta maaf.
Pertanyaannya, mengapa kepada manusia kita mengenal malu dan etika. Tetapi kepada Tuhan terkadang kita datang hanya membawa daftar permintaan? Kita meminta kesehatan, panjang umur, rezeki, jabatan, keselamatan, kekayaan, anak yang berhasil, usaha maju dan semua persoalan diselesaikan. Tetapi barangkali kita lupa bertanya, berapa banyak istighfar yang kita ucapkan sebelum meminta semuanya itu?
Maka doa seharusnya bukan hanya: “Ya Allah, berilah aku.” Tetapi juga: “Ya Allah, ampunilah aku.” Di sinilah istighfar menjadi bagian penting dari adab seorang hamba. Mengakui dosa bukan alasan untuk menjauh dari Tuhan. Justru pengakuan itulah pintu untuk kembali kepada-Nya. Mungkin yang perlu dikoreksi dari kehidupan beragama kita adalah, bahwa frekuensi meminta kita jauh lebih banyak daripada frekuensi meminta ampun.
Jika sepanjang hidup kita hanya datang kepada Tuhan ketika membutuhkan sesuatu, hubungan kita dengan Tuhan berisiko menjadi sangat transaksional. Dalam berdoa juga ada adab yang lain. Doa bukan tergantung kerasnya suara. Bukan panjangnya kalimat. Bukan indahnya susunan bahasa. Tetapi posisi hati seorang hamba di hadapan Tuhannya–karena pada akhirnya yang sedang berbicara adalah seorang makhluk kepada Sang Khalik. Yang terbatas kepada Yang Tidak Terbatas. Yang tidak mengetahui masa depan kepada Yang Maha Mengetahui.
Ada satu adab lain yang sangat penting tetapi sering dilupakan. Yaitu, husnuzan kepada Allah. Jangan berdoa tetapi pada saat bersamaan mencurigai Tuhan. Di sinilah terdapat hadis qudsi yang sangat kuat. Rasulullah SAW meriwayatkan bahwa Allah berfirman: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Hadis ini mempunyai kedalaman spiritual yang luar biasa. Ia mengajarkan bahwa hubungan kita dengan Allah juga harus dibangun dengan harapan. Berbaik sangkalah kepada Allah. Di situlah, Husnuzan itu penting. Bukan berarti menganggap semua keinginan pasti akan dikabulkan persis seperti permintaan kita.
Husnuzan berarti percaya bahwa apa pun keputusan Allah, di baliknya ada ilmu dan hikmah yang jauh melampaui pengetahuan kita– karena itu jangan ukur kasih sayang Allah hanya dari terkabul atau tidaknya suatu permintaan. Boleh jadi justru ketika Allah tidak memberikan sesuatu, di situlah Allah sedang menjaga kita.
Biasanya, keraguan kita atas doa yang kita panjatkan kepada Allah, karena merasa terlalu banyaknya dosa kita. Sementara, kita sendiri tak kunjung mau meminta ampun kepadaNya.
Padahal, pengakuan diri banyak dosa itu justru penting. Dengan catatan, setelah pengakuan tersebut, kita memohon ampun alias bertobat– dengan cara seperti Itulah, sebenarnya, kita sedang memperlihatkan sikap tahu diri, bahwa kita lemah dan tak berdaya kecuali atas ijin dan pertolonganNya– karena itu, saya membayangkan betapa indahnya jika setiap kali kita mengangkat tangan untuk meminta sesuatu kepada Allah, kita terlebih dahulu mengingat dosa-dosa kita.
Kita datang dengan istighfar. Kita mengakui kekurangan. Kita mengakui ketidakberdayaan. Baru kemudian menyampaikan keinginan. Setelah itu, kita menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dengan pola seperti ini, doa tidak akan mudah berubah menjadi tuntutan. Sebab semakin menyadari dosa dan keterbatasan seseorang, semakin kecil kemungkinan ia merasa berhak mendikte Tuhan.
Sebagai dzat yang serba Maha, Allah pasti tahu apa yang seharusnya kita terima setelah dosa-dosa diampuniNya. Di sinilah bahwa doa juga memang perlu disertai evaluasi diri dengan cara berkaca diri. Bahwa Allah bukan petugas yang berkewajiban menjalankan “proposal” keinginan kita yang diajukan setiap malam.
Allah juga bukan tempat transaksi– bahwa kita melakukan satu ibadah lalu menuntut balasan tertentu. Allah adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui, sedangkan kita adalah makhluk dengan pengetahuan yang sangat sedikit—karena itu, berdoalah sebanyak-banyaknya– tetapi ingat– doa bukanlah usaha menundukkan Tuhan kepada kehendak manusia. Doa justru latihan untuk menundukkan kehendak manusia kepada kebijaksanaan Tuhan.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
