Gubernur Banten Andra Soni saat membuka acar (Foto: Rafi)
Pijarberita.com– Gubernur Banten Andra Soni menjelaskan mengapa Pemprov Banten mendorong perpanjangan layanan KRL Commuter Line hingga Serang, Cilegon dan Merak. Alasannya, tingginya mobilitas masyarakat serta meningkatnya jumlah penumpang menjadi salah satu dasar perlunya perluasan layanan tersebut.
Gubernur Banten mengakui kebutuhan peningkatan kapasitas transportasi kereta api di Banten semakin mendesak. Salah satu indikatornya terlihat dari tingkat keterisian penumpang pada jalur Rangkasbitung-Merak yang terus meningkat. “Hal ini adalah sinyal kuat bahwa kapasitas prasarana kita harus segera ditingkatkan,”kata Andra saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Studi Kelayakan Elektrifikasi Jalur Kereta Api Rangkasbitung-Merak di Kota Serang, Jumat.
Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Provinsi Banten, Andra menyampaikan, layanan KA Lokal Commuter Line Merak dengan rute Rangkasbitung-Merak sebanyak 14 perjalanan per hari mengangkut 4,46 juta penumpang sepanjang 2025. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 4,67 juta penumpang pada 2026. Pada periode yang sama, tingkat keterisian penumpang diproyeksikan mencapai 129 persen.
Bagi Andra, peningkatan jumlah penumpang tersebut menunjukkan kebutuhan untuk tidak hanya menambah kapasitas, tetapi juga memperluas jangkauan layanan kereta api agar dapat menjangkau masyarakat di wilayah Banten bagian barat.
Selain itu, Andra juga mengatakan jika persoalan konektivitas turut menjadi perhatian. Masyarakat dari Merak, Cilegon dan Serang yang hendak menuju Jakarta maupun sebaliknya masih harus melakukan transit di Stasiun Rangkasbitung.
Penumpang harus berganti kereta di Rangkasbitung apabila ingin melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu hambatan dalam mobilitas masyarakat. “Kondisi inilah yang melandasi urgensi diperluasnya jangkauan KRL Commuter Line hingga ke Serang-Cilegon, dan Merak,” kata Andra.
Menurut Andra, perluasan KRL akan memberikan manfaat bagi berbagai kelompok masyarakat. Mulai dari pekerja, pedagang hingga pelajar dapat memanfaatkan layanan tersebut untuk menunjang mobilitas mereka. Perluasan jaringan kereta api juga dinilai dapat membuka alternatif transportasi bagi wisatawan dari wilayah Jabodetabek yang hendak berkunjung ke berbagai destinasi wisata di Banten.
Selain itu, akses kereta hingga Merak dapat mempermudah masyarakat yang hendak melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sumatera melalui Pelabuhan Merak. Pemprov Banten mengupayakan agar rencana tersebut dapat direalisasikan. Menurutnya, peningkatan konektivitas kereta api bukan hanya berkaitan dengan transportasi, tetapi juga berpotensi memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik.
“Sedang kita upayakan ini terealisasi karena berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten dan juga bagi pelayanan publik yang lebih baik kepada masyarakat Banten,” ujarnya.
Untuk mendukung rencana tersebut, Pemprov Banten menyiapkan studi kelayakan elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Merak. Berdasarkan hasil studi, proyek tersebut membutuhkan investasi sekitar Rp1,29 triliun.
Proyek elektrifikasi tersebut dinilai layak secara ekonomi dengan nilai Economic Internal Rate of Return (EIRR) di atas 10 persen. Selain memperluas jangkauan layanan, elektrifikasi juga diproyeksikan meningkatkan kapasitas angkutan. Kapasitas layanan harian diperkirakan meningkat dari sekitar 9.900 penumpang menjadi 18.000 penumpang. “Proyek ini diproyeksikan mampu mendongkrak kapasitas harian dari 9.900 penumpang per hari menjadi 18.000 penumpang per hari,” kata Andra. (raffi/juf)
Editor: Jufri Alkatiri
