Oleh: Jufri Alkatiri*
Jurnalis Senior dan Penggagas Mazhab Komunikasi Sambung Nalar (Foto: Jufri Alkatiri)
Pada Senin pagi, 26 Oktober 2026– satu pemandangan yang tidak biasa terjadi di Aula Siwabessy, Gedung Prof. Dr. Sujudi Kementerian Kesehatan, Jakarta– bukan antrean pasien BPJS, bukan pula pejabat yang meresmikan alat baru– yang antre adalah 175 wartawan senior Jakarta. Usia mereka 50, 60, bahkan ada wartawan berusia 85 tahun. Rambut memutih. Kacamata tebal. Mereka datang bukan untuk meliput, tetapi untuk diperiksa: tensi, gula darah, kolesterol, dan EKG Jantung.
Cek kesehatan gratis ini — terlihat seperti kegiatan bakti sosial yang mulia–tetapi jika kita melihatnya dengan kacamata filsuf Perancis Michel Foucault– pemandangan itu adalah satu pengakuan dosa yang terlambat dari negara dan dari industri media itu sendiri– bahwa selama puluhan tahun, telah membiarkan tubuh para penjaga demokrasi itu hancur.
Memahami hal itu– kita harus meminjam konsep paling terkenal dari Foucault: Biopolitik dan Tubuh yang Disiplin. Foucault dalam bukunya Discipline and Punish dan The Birth of the Clinic menjelaskan satu perubahan besar dalam cara kekuasaan bekerja. Dulu, kekuasaan bekerja dengan cara menghukum tubuh: dipenggal, dipenjara. Di era moderen– kekuasaan bekerja dengan cara yang lebih halus– mendisiplinkan tubuh agar menjadi produktif, patuh, dan tidak pernah mengeluh.
Tubuh tidak lagi dianggap sebagai milik pribadi, tetapi sebagai mesin yang harus terus bekerja untuk kepentingan produksi. Rumah sakit, pabrik, sekolah, dan kantor redaksi adalah institusi yang sama– tempat untuk mendisiplinkan tubuh–dan tidak ada profesi yang tubuhnya lebih didisiplinkan secara brutal selain jurnalis. Saya menyebutnya sebagai Habitus Lelah yang Diromantisasi.
Di tempat bekerja hingga di news room—jurnalis diajarkan satu etos yang sangat Foucault-ian yaitu — wartawan hebat adalah wartawan yang melupakan tubuhnya– meromantisasi wartawan yang 3 hari tidak pulang karena meliput bencana– memuji wartawan yang begadang 24 jam untuk kejar tayang peristiwa. Kita menganggap wartawan yang masuk angin, maag kronis, hipertensi karena kopi, dan merokok di ruang redaksi sebagai satu medali kehormatan. “Belum jadi wartawan kalau belum kena maag,” begitu candaan di redaksi. Itulah disiplin tubuh yang paling sempurna menurut Foucault.
Kekuasaan tidak perlu menyuruh wartawan untuk sakit. Wartawan itu sendiri yang merasa bersalah jika dia istirahat. Wartawan itu sendiri yang merasa malu jika dia menolak tugas liputan jam 2 pagi karena harus menjaga jantungnya.
Industri media telah menciptakan apa yang Foucault sebut sebagai Docile Bodies – Tubuh yang Jinak. Tubuh wartawan yang jinak adalah tubuh yang bisa diperas kapan saja, atas nama idealisme, atas nama “The Show Must Go On”, atas nama breaking news— padahal seringkali atas nama klik dan rating.
Akibatnya, data itu tidak pernah bohong– usia harapan hidup wartawan lebih pendek. Angka hipertensi, diabetes, serangan jantung di kalangan jurnalis senior jauh di atas rata-rata pekerja profesional lain. Negara kehilangan banyak wartawan hebat bukan karena dibunuh, tetapi karena jantungnya berhenti diam-diam setelah 30 tahun begadang. Kementerian Kesehatan — baru ingat pada 26 Oktober 2026– setelah 175 tubuh wartawan snior itu sudah mulai aus.
Ini kritik pertama — negara dan Industri Media telah melakukan Biopolitik yang lalai. Biopolitik menurut Foucault — adalah cara negara mengatur hidup dan mati populasinya. Negara mengatur kesehatan bukan karena kasihan, tetapi karena butuh populasi yang sehat untuk produktif. Selama ini, negara menganggap wartawan bukan sebagai populasi yang perlu diatur kesehatannya. Wartawan dianggap sebagai alat, bukan sebagai warga. Ketika wartawan sakit karena liputan Covid– misalnya, negara menyebutnya risiko pekerjaan. Ketika wartawan senior meninggal karena stroke setelah meliput konflik bertahun-tahun, negara menyebutnya takdir.
Padahal, dalam kacamata Foucault– kesehatan wartawan adalah infrastruktur demokrasi. Jika tubuh wartawan hancur– maka kemampuan negara untuk dikontrol juga hancur. Cek Kesehatan Gratis untuk 175 wartawan senior itu adalah langkah baik, tetapi terlambat dan bersifat kuratif– bukan preventif. Itu seperti memperbaiki atap setelah rumahnya kebanjiran 30 tahun.
Apa yang seharusnya dilakukan? Perlu membalik logika Foucault– jika kekuasaan telah mendisiplinkan tubuh wartawan untuk menjadi mesin, maka wartawan harus mendisiplinkan kembali industri media untuk menghormati tubuh. Ada tiga jalan keluar dari Mazhab Komunikasi Sambung Nalar– Etos Begadang Menjadi Etos Keberlanjutan: Bongkar Romantisasi Tubuh Lelah.
Organisasi profesi harus berhenti mengajarkan bahwa wartawan hebat adalah wartawan yang paling menderita. Itu adalah etos kolonial. Harus mengajarkan Habitus baru: Wartawan hebat adalah wartawan yang mampu mengelola energinya untuk bertahan 30 tahun, bukan yang habis dalam 5 tahun.
Di kelas jurnalistik– harus diajarkan — Manajemen sirkadian tubuh, teknik tidur 90 menit di lapangan, gizi darurat saat liputan bencana, cara mengelola trauma dan PTSD setelah meliput kekerasan. Seorang wartawan yang tahu cara menjaga gula darahnya sama pentingnya dengan wartawan yang tahu cara menulis lead.
Organisasi seperti PWI, AJI, dan IJTI harus memasukkan “Hak atas Kesehatan” — sebagai bagian dari kontrak kerja. Tidak ada lagi cerita wartawan lepas yang dibayar Rp 150.000 per berita tanpa BPJS, tanpa asuransi jantung. Jika media tidak mampu membayar kesehatan wartawannya– maka media itu tidak layak disebut perusahaan pers– adalah pabrik yang mengeksploitasi tubuh.
Negara Harus Hadir dengan Biopolitik Protektif– bukan hanya Seremonial. Acara 26 Oktober di Kemenkes iti — tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial setahun sekali– harus menjadi kebijakan Biopolitik. Foucault mengatakan, negara moderen mengatur kesehatan melalui Klinik. Maka, Kementerian Kesehatan harus memiliki “Klinik Khusus Pekerja Demokrasi”. Data 175 wartawan senior itu harus menjadi baseline data nasional: Berapa persen wartawan yang hipertensi? Berapa yang diabetes? Berapa yang mengalami gangguan kecemasan? Data itu harus dipublikasikan setiap tahun seperti data inflasi. Karena kesehatan wartawan adalah indikator kesehatan demokrasi.
Kemenkes bersama BPJS Ketenagakerjaan– harus membuat Skema Jaminan Kesehatan Khusus untuk Pekerja Pers dengan Risiko Tinggi– seperti wartawan investigasi, wartawan perang, wartawan bencana–mereka harus mendapatkan pemeriksaan jantung, mata, dan kesehatan mental gratis setiap 6 bulan, bukan menunggu menjadi senior dan sakit dulu. Jika negara bisa memberikan tunjangan kesehatan khusus untuk TNI/Polri karena risiko pekerjaannya tinggi– mengapa tidak untuk wartawan yang setiap hari berhadapan dengan risiko yang sama?
Relevansi Kesehatan Bagi Semua Pekerja Profesi: Tubuh Adalah Modal Simbolik
Filsuf lain yang relevan adalah Byung-Chul Han– filsuf Korea-Jerman– dalam bukunya The Burnout Society, Han bilang kita tidak lagi hidup di era disiplin, tetapi di era prestasi– kita tidak diperintah oleh atasan, tetapi kita memerintah diri sendiri untuk terus berprestasi sampai burnout (kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental) — ini terjadi pada semua profesi: dokter yang 36 jam jaga, guru honorer yang mengajar 3 sekolah, driver ojol yang 14 jam di jalan, wartawan yang 20 jam memantau medsos. Semua profesi hari ini mengalami nasib yang sama: Tubuhnya dianggap sebagai alat prestasi yang tidak terbatas.
Peringatan dari 175 wartawan senior di Kemenkes itu– adalah peringatan untuk semua pekerja– bahwa tubuh memiliki batas. Bahwa jantung tidak bisa diajak negosiasi dengan deadline. Kesehatan bukan lagi urusan pribadi. Dalam kacamata Foucault dan Han– kesehatan adalah perlawanan politik. Merawat tubuh, menolak lembur yang tidak manusiawi, berani tidur 8 jam– adalah tindakan perlawanan terhadap sistem yang ingin menjadikan kita mesin yang aus. Sumpah Pemuda 1928 mengajarkan kita untuk bersumpah satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Hari ini, kita perlu Sumpah baru: Sumpah untuk Satu Tubuh yang Sehat– karena tanpa tubuh yang sehat, tidak ada nusa yang bisa dijaga, tidak ada bangsa yang bisa diberitakan, dan tidak ada bahasa yang bisa dituliskan.
Acara Cek Kesehatan Gratis di Kemenkes pada 26 Oktober 2026 itu — seharusnya bukan akhir dari sebuah acara—tetapi awal dari kesadaran baru– bahwa wartawan yang sehat adalah prasyarat bagi berita yang sehat– dan berita yang sehat adalah prasyarat bagi demokrasi yang sehat. Jika kita terus membiarkan tubuh wartawan hancur, maka yang akan kita periksa 10 tahun lagi bukan lagi tensi mereka, tetapi nisan mereka– dan pada hari itu, negara baru akan benar-benar menyesal.
*Jurnalis Senior dan Penggagas Mazhab Komunikasi Sambung Nalar
Editor: Ries Mariana
