Renungan Malem Jemuwah: Mengaktifkan Protokol Anti-penuaan Keremajaan di Surga (bag-3)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

C.Keremajaan Karakter Kehidupan Surgawi

Fenomena hari kiamat diketahui dalam beberapa ayat al- Qur’ān didominasi oleh metafora dalam arti sempit dan terbuka. Imam Al-Qurtubi berpandangan, hari akhir dan hari kiamat terjadi jika ilmu itu dicabut, terjadi banyak gempa bumi, waktu berjalan sangat cepat, muncul banyak fitnah serta kekacauan dan pembunuhan terjadi dimana-mana. Aqidah Islam menyatakan hari kiamat pasti akan datang, namun kapan datangnya, para ahli tafsir berbeda pendapat, termasuk fenomena yang akan terjadi pada hari kiamat juga terdapat perbedaan penafsiran dari para ahli tafsir.

Menurut Kosmologi Big Bang, seluruh mata-rantai kausal akan dimulai pada singularitas awal, yang merupakan penyebab pertama dimana Titik inisial singularitas waktu awal (t)=0  yakni titik terjadinya  Big Bang. Diagram Penrose  (merujuk fisikawan Roger Penrose) menunjukkan  batasan (yaitu, batas kausal) dari t=0 dengan absis dimensi ruang (x) dan ordinat (y) dimensi waktu, berkembang menuju singularitas akhir titik tunggal, yang dikenal dengan Titik Omega (hari Kiamat).

Dimana sebuah foton melintasi seluruh panjang alam semesta dalam jumlah tidak terbatas sebelum singularitas akhir tercapai. Lebih lanjut, jarak antara titik-titik antipodal di alam semesta menjadi semakin dekat seiring dengan runtuhnya alam semesta menjadi singularitas akhir, yang berarti bahwa waktu yang dibutuhkan foton untuk menempuh perjalanan antara titik-titik yang berlawanan di alam semesta menjadi semakin singkat, yaitu, waktu yang dibutuhkan untuk mengirim sinyal antara titik-titik yang berbeda di alam semesta semakin berkurang.

Dengan kata lain, sejumlah siklus prosesor komputer yang tak terbatas terjadi sebelum singularitas akhir (yaitu, sejumlah bit yang tak terbatas diproses, yakni, sejumlah pemikiran yang tak terbatas terjadi), dan kecepatan prosesor alam semesta menyimpang ke tak terhingga saat alam semesta runtuh menjadi singularitas akhir.

Pada Saat alam semesta mendekati Singularitas Akhir, kapasitas proses komputasinya akan meningkat secara eksponensial dan akhirnya menjadi tak terbatas. Dengan energi & kerapatan informasi yang tak terbatas ini, alam semesta di 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘖𝘮𝘦𝘨𝘢 akan berubah peran sebagai superkomputer atau mesin simulasi pamungkas.

Dalam pengertian abstrak, penyebab pertama singularitas mungkin tidak selalu berarti identifikasi kebesaran (keberadaan) Tuhan, akan tetapi seseorang mungkin secara abstrak membayangkan bahwa penyebab pertama tidak ada yang lain sealain memiliki sifat-sifat Tuhan yang  transcendent_atau tidak terbatas; “tidak ada yang setara dengan Tuhan”, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” dan “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapatmelihat segala penglihatan itu”. QS. al-Ikhlas ayat 3, asy-Syura ayat11 dan  al-an’am ayat 103.

Menurut 𝐓𝐢𝐩𝐥𝐞𝐫  bahwa kebangkitan dari kematian (kiyamat) hanyalah simulasi informasi karena setiap makhluk hidup, termasuk manusia, dapat direpresentasikan sebagai pola informasi yang kompleks dengan akses ke seluruh jaringan waktu & sejarah yang di-lalui oleh suatu kesadaran. Dengan kapasitas komputasi yang tidak terbatas, 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘖𝘮𝘦𝘨𝘢 dapat mengambil informasi untuk menjalankan simulasi dari setiap kesadaran yg pernah ada. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *