Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*
Insya Allah, nanti malam merupakan pertengahan bulan Sya’ban, dalam tradisi Islam dikenal dengan istilah Nisfu Sya’ban. Nisfu Sya’ban — berarti pertengahan bulan Sya’ban, merupakan salah satu malam yang dimuliakan dalam tradisi Islam, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai status hukum perayaan nya.
Tulisan ini mengkaji hikmah perayaan malam Nisfu Sya’ban. Berdasarkan studi literatur terhadap sumber-sumber primer dan sekunder, tulisan ini menemukan bahwa Nisfu Sya’ban mengandung dimensi spiritual yang kaya sebagai momentum introspeksi diri, pengampunan, dan persiapan menyambut Ramadan, serta dimensi sosial sebagai sarana penguatan solidaritas komunitas Muslim. Selain itu, tulisan ini juga menganalisis perkembangan tradisi Nisfu Sya’ban di berbagai budaya Muslim dengan tetap memperhatikan perbedaan pandangan fikih yang ada.
Nisfu Sya’ban, yang jatuh pada tanggal 15 bulan Sya’ban dalam kalender Hijriyah, telah menjadi bagian dari tradisi spiritual Muslim selama berabad-abad. Meskipun terdapat perdebatan di kalangan ulama mengenai legalitas perayaan khusus pada malam ini, praktiknya telah mengakar dalam banyak budaya Muslim dunia. Momentum ini diyakini sebagai waktu istimewa untuk introspeksi, permohonan ampunan, dan persiapan spiritual menyambut bulan Ramadhan.
Terdapat banyak hadis tentang perayaan malam Nisfu Sya’ban, salah sayunya hadits dari Mu’adz bin Jabal RA: Rasulullah SAW bersabda: Allah memperhatikan semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, maka Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan. Kemudian ada hadits dari Aisyah RA: Rasulullah SAW keluar pada malam itu (Nisfu Sya’ban), lalu beliau shalat di pemakaman Baqi’, dan beliau mendoakan mereka.
Sementara ada beberapa pendapat. Ulama tentang tradisi perayaan malam Nisfu Sya’ban, di antaranya pendapat Imam Syafi’i yang menganjurkan shalat sunnah khusus pada malam Nisfu Sya’ban. Sementara Imam al-Ghazali menganggapnya sebagai malam yang mustajab untuk berdoa.
Sementara para fuqaha lain memiliki pandangan berbeda mengenai tradisi perayaan malam Nisfu Sya’ban. Ada kelompok yang menganjurkan dan ada kelompok yang meragukan. Sementara kelmpok yang menganjurkan perayaan malam Nisfu Sya’ban berargumen berdasarkan hadits-hadits yang diriwayatkan menelankan pada aspek spiritual dan pendidikan dan menganggapnya sebagai tradisi yang baik (bid’ah hasanah). Sedangkan kelompok yang meragukan selalu mempertanyakan kualitas sanad beberapa hadis dan dikhawatirkan Nisfu Sya’ban menyerupai perayaan non-Muslim, selain menganggapnya sebagai bid’ah yang tidak berdasar.
Hikmah Spiritual Nisfu Sya’ban
1. Momentum Introspeksi Diri (Muhasabah): Nisfu Sya’ban berfungsi sebagai waktu khusus untuk berdo’a dan bertaubat. Selain itu juga sebagai bagian dari Evaluasi spiritual, Menilai amalan setahun terakhir. Juga sebagai persiapan datangnya bulan. Ramadan dan menyusun agenda spiritual tahun tahun berikutnya. Persiapan Ramadhan: Mental dan spiritual untuk bulan puasa. Perencanaan ibadah: Menyusun agenda spiritual tahun depan.
Disamping itu, perayaan malam Nisfu Sya’ban saat yang tepat untuk taubat dan minta ampunan dari Allah Swt. Selain itu juga sebagai media dan momentum untuk mendekatkan diri pada Allah swt. Sang Pencipta. Ada hal menarik yang perlu ditegaskan di sini, yaitu Transfer catatan amalan. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pada malam Nisfu Sya’ban: Catatan amalan tahun sebelumnya diangkat. Catatan baru untuk tahun berikutnya dimulai. Penentuan takdir tahunan dilakukan. Selain itu, perayaan malam Nisfu Sya’ban juga merupakan momentum dalam penyambutan bulan suci Ramadan.
Selain memperbanyak amalan spiritual, seperti shalat-shalat sunnah, berdo’a dan berdzikir, juga dianjurkan untuk melaksanakan amalan sosial, seperti bersilaturrahim untuk mempererat ikatan persaudaraan dan perbanyak sadaqah. InsyaAllah kalau semua itu diamalkan, semua kesalahan yang kita lakukan akan diampuni Allah swt. Aamiiin.
*Profesor Sejarah dan Peradaban. Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
