Renungan Malem Jemuwah: Kosmologi Eling dan Waspada (bag-1)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

Dzikir dalam khazanah jawa dikenal dengan Suluk Eling lan Waspada, piwulang (ajaran) filsafat jawa yang mengajarkan manusia untuk selalu ingat dan hati-hati dalam menjalani hidup. Eling lan waspada dapat diwujudkan dengan beberapa bentuk, di antaranya adalah Eling marang Gusti (selalu dekat kepada Tuhan), yaitu; Eling atau ingat berdasar dimensi ketuhanan maksudnya adalah kita memiliki kesadaran (conciousness) tentang asal usul penciptaan, tujuan penciptaan, tujuan manusia hidup, bagaimana menjalani hidup dan bagaimana manusia menjalani kehidupan setelahnya (after life). Singkatnya adalah Tuhan sebagai sangkan paraning dumadi, dari Tuhan semua berasal menuju Tuhan semua berakhir, kehendak Tuhan atas semua dan ciptaan-Nya.

Di samping kesadaran spiritual terkait hubungan vertikal terhadap Tuhan/Gusti, eling sebagai peranan dalam relasi manusia yang saling hidup berdampingan sesama makhluk Tuhan juga menjadi keutamaan (Eling mring sesama). Eling dalam dimensi kemanusian menganjurkan kita agar selalu instrospeksi diri atau mawas diri sebagai modal utama dalam pergaulan yang menjunjung tinggi perilaku utama (lakutama) yakni budi pekerti luhur, atau  (mulat laku kautamaning bebrayan).

Merefleksikan kembali pemahaman tentang kesadaran dan realitas. Penting untuk mengembangkan paradigma baru dalam sains dan filsafat yang mampu mengakomodasi fenomena *nonmaterial dan kesadaran* sebagai aspek fundamental dari alam semesta.

David Bohm, seorang fisikawan terkemuka yang juga seorang spiritualis, mengusulkan bahwa kesadaran adalah entitas mendasar dari alam semesta dan terhubung dengan ordo implisit, sebuah domain yang tidak teramati secara langsung. Roger Penrose, pemenang Nobel Fisika 2020, mengembangkan teori objective reduction yang menjelaskan kesadaran sebagai fenomena nonmatematis yang muncul dari proses kolaps/runtuh gelombang kuantum. Penrose mengaitkan fenomena ini dengan  alam ide Platonik”, sebuah domain matematis abstrak yang melandasi realitas fisik.

Plato beranggapan bahwa kebenaran dari hakikat dapat dipercaya jika dari “alam yang kekal dan tetap”, alam tersebut adalah alam idea, suatu kebenaran tidak dapat diperoleh dari pengamatan yang sifatnya indrawi karena sifatnya selalu berubah terus. “Alam yang kekal dan abadi” akan terjadi melalui kematian (kiyamat), umat manusia menjadi abadi dengan mengubah substrat otak mereka menjadi perangkat keras komputer buatan, yang memuat salinan kesadaran  (conciousness)  yang identik secara bit.  Kebangkitan dari kematian merupakan proyek simulasi yang sangat canggih dari semua “Catatan Amal” dari akumulasi pengalaman semua makhluk hidup yang dioperasikan oleh hukum semesta itu sendiri.

Merupakan sebuah buku catatan konsep spiritual dan catatan amal yang dipercaya sebagai catatan universal dari semua peristiwa, pikiran, kata-kata, emosi, dan niat yang pernah terjadi, sedang terjadi, atau akan terjadi di alam semesta, tersimpan dalam dimensi non-fisik yang disebut  dalam kitab yang nyata  (kitabin mubin di  lauh Mahfudz).

Memperhatikan sabda Nabi yang secara ringkas mengingatkan pemahaman dasar Islam tentang Eling (dzikir):al-Dunyâ mal`ûnatun, mal`ûnun mâ fîhâ illâ dzikr Allâh. “Dunia ini terkutuk (terlaknat); terlaknatlah segala sesuatu di dalamnya, kecuali dzikir (Eling) kepada Allah.” Untuk menunjukkan beberapa implikasi dari sabda ini bagi teori dan praktik dzikir kepada Allah, mengingat Tuhan, pada kajian ini akan meninjau  konsep dasar dzikir  (eling lan waspada)  sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran dan kemudian melihat beberapa ajaran Ibn Arabi (wafat 1240 M), salah satu ahli metafisika dan kosmologi Muslim terbesar.

Tradisi Islam berakar pada pengetahuan. Akar ini paling jelas terlihat dalam kesaksian iman pertama, “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Pernyataan ini dianggap sebagai intisari prinsip pertama iman Islam, yaitu tauhid, penegasan tentang keesaan Tuhan. Namun, bahkan mereka yang familiar dengan ajaran Islam terkadang lupa bahwa tauhid tidak ada hubungannya dengan sejarah, karena itu hanyalah pernyataan tentang keadaan sebenarnya.

Para pemikir Muslim yang lebih canggih selalu berpendapat bahwa tauhid adalah kebenaran universal dan abadi. Menjadi manusia berarti memiliki intuisi tentang kebenaran ini, dan setiap dari “124.000 nabi” yang telah diutus Tuhan, dari Adam hingga Muhammad, datang dengan kebenaran ini sebagai inti pesannya.

Tauhid mengungkapkan hakikat realitas, terlepas dari keberadaan alam semesta, manusia, atau makhluk lain. Namun, karena kita memiliki dunia dan manusia, tradisi Islam mempertimbangkan fakta kedua, yaitu situasi manusia. Tradisi ini merangkum situasi ini dalam kata-kata kelupaan” (nisyan) dan kelalaian  (ghafla)._Meskipun manusia memiliki intuisi bawaan tentang tauhid, mereka tidak selalu mudah untuk mengingatnya. Mungkin tidak mudah bagi mereka untuk mewujudkannya dari keadaan laten atau mengungkapkannya dalam bahasa dan mempraktikkannya.

Mereka membutuhkan bantuan para nabi. Dengan “kenabian”, prinsip kedua iman Islam, perspektif bergeser dari yang abadi ke yang sementara, dari yang kekal ke yang kontingen, dari Tuhan ke sejarah. Fungsi pertama para nabi adalah untuk  memberikan  Pepeling (mengingatkan) kepada manusia akan realitas mereka yang diberikan Tuhan. Dalam berbicara tentang “eling” ini, Al-Quran menggunakan kata dzikir dan beberapa turunannya (misalnya,  dhikrâ, tadhkîr, tadhkira). Lebih jauh lagi, Al-Quran menyerukan tanggapan manusia terhadap eling ini dengan kata dzikir yang sama.  Pepeling  yang  datang dari sisi Tuhan melalui para nabi memunculkan “ingatan” dari sisi manusia.

Penggunaan satu kata untuk gerakan dengan dua arah – dari Ilahi kepada manusia dan dari manusia kepada Ilahi – merupakan ciri khas perspektif kesatuan Al-Quran.  Di sini, sebenarnya hanya ada satu kekuatan pendorong, dan itu adalah aktivitas Ilahi yang mewujudkan kebaikan, kebenaran, dan keindahan, meskipun bagi kita tampak sebagai dua gerakan yang berbeda. Lebih jauh lagi, Al-Quran juga menjelaskan dengan sangat jelas bahwa eling – respons manusia terhadap pepeling – tidak hanya berarti mengakui kebenaran tauhid. Kata itu sendiri juga berarti “menyebutkan”.  Dari sisi manusia, zikir adalah kesadaran akan Tuhan dan ekspresi kesadaran ini melalui bahasa, baik lisan maupun diam.

Jika memberikan pepeling adalah fungsi pertama para nabi, fungsi kedua mereka adalah memberikan petunjuk yang memungkinkan manusia untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan Allah. Al-Quran menyebut petunjuk ini sebagai “petunjuk” (hudâ). Mengikuti petunjuk para nabi berarti mengingat Tuhan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan.

Jadi, dzikir atau eling adalah selalu mengingat Allah di setiap waktu, tempat, dan aktivitas. Ibnu Arabi mendefinisikannya sebagai al-hudûr ma`a’l-madhkûr, kehadiran bersama Yang Maha Diingat”. Jika kita tidak mengingat Allah dalam pikiran, ucapan, atau perbuatan, kita belum mengingat-Nya sebagaimana seharusnya.

Al-Quran dan hadits merangkum implikasi praktis dari mengingat Allah dengan kata ibâda, yang berarti ibadah, pengabdian, dan menjadi hamba. Ini adalah tugas manusia yang paling penting. Dalam Al-Quran Allah berfirman, “Aku menciptakan jin dan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Ku” atau “untuk melayani-Ku” (QS. adz-Dzariat/51: 56).

Dengan kata lain, Allah menciptakan manusia agar mereka mengingat-Nya dan menyesuaikan diri dengan Realitas-Nya. Mereka hanya dapat melakukannya melalui pemahaman yang benar, iman yang benar, ucapan yang benar, dan aktivitas yang benar. Kriteria untuk “kebenaran” adalah sejauh mana seseorang memahami, bertindak, dan berada di hadapan Allah. Kehadiran bersama Tuhan adalah dzikr Allah, “eling/mengingat Tuhan”.

Agama Islam memiliki tiga prinsip, bukan hanya dua. Prinsip ke-tiga setelah keesaan Ilahi dan kenabian adalah *datangnya ma’ad,_ yaitu “kembali” kepada Tuhan,* yang umumnya dibahas dalam konteks kematian dan kebangkitan.  Karena setiap orang harus mati dan dibangkitkan di hadapan Tuhan, kehidupan setelah kematian sering disebut sebagai “kembali yang wajib”.  Tetapi para Teolog, Filsuf, dan guru spiritual yang lebih canggih lebih menekankan pada “kembali secara sukarela”, yaitu, fakta bahwa keberadaan kita Situasi eksistensial menuntut kita untuk secara bebas memilih kembali kepada Tuhan di sini dan sekarang.

Situasi eksistensial ini didefinisikan oleh realitas itu sendiri, yang terutama adalah Tuhan, dan kedua adalah dunia dan diri manusia sebagaimana adanya, yaitu, sebagaimana mereka mengungkapkan Realitas Tuhan.  Bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat, kosmos dan konfigurasi manusia, berdasarkan sifat dan modalitas keberadaannya, menunjuk kepada Tuhan. Dan fakta dari pengingat kenabian yang berulang-ulang tidak memberikan alasan untuk tidak melihat dan tidak mengingat. Sederhananya, pemahaman umum Islam tentang situasi manusia adalah bahwa pengetahuan yang benar tentang dunia dan jiwa manusia menuntut kita untuk secara bebas dan aktif melakukan kembali kepada Tuhan.

Kita kembali kepada Tuhan dengan eling kesadaran mengingat-Nya di setiap tingkatan keberadaan kita. Mengingat-Nya berarti menjadikan fakta keesaan-Nya, fakta Realitas-Nya yang absolut dan tak terbatas, sebagai poros pikiran, ucapan, dan aktivitas kita. Kita melakukannya dengan ibadah, yang merupakan laku suluk tanggapan yang tepat terhadap tauhid dan kenabian.

Dengan demikian, Al-Quran berbicara tentang tauhid dan ibadah sebagai dua dimensi dasar dari setiap tradisi yang sahih. Allah berfirman dalam Al-Quran, “Tidak pernah Kami mengutus seorang Rasul pun sebelummu, melainkan Kami mewahyukan kepadanya, ‘Tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku” (QS. al-Anbiya’/21: 25). (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *