Renungan Dino Jemuwah: Kosmologi Eling Lan Waspada (bag-2)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

Bacalah Kitab-mu

Dalam dunia Islam berbagai bentuk praktik dzikir, tidak hanya di kalangan mereka yang umumnya dikenal sebagai  Sufi, tetapi juga di kalangan Muslim pada umumnya. Namun, dalam makalah kali-ini adalah meninjau ajaran dasar Islam tentang alam semesta (makrokosmos) dan diri manusia (mikrokosmos) untuk menunjukkan mengapa dzikir tidak hanya merupakan praktik kontemplatif yang efektif, tetapi juga mengapa, pada kenyataannya, tidak ada hal lain selain eling kepada Allah yang dapat kita lakukan.

Setelah dianalisis secara saksama, kita melihat bahwa dzikir adalah praktik Tuhan sendiri dan, bersama-Nya berdzikir seluruh ciptaan-Nya. Perhatikan Allah telah menjanjikan ma’iyah (kebersamaan)-Nya; “Aku sesuai prasangkan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku benar-benar bersamanya apabila ia berdzikir kepada-Ku. Jika dia menyebut namaku dalam dirinya, Aku sebut namanya dalam diriKu. Dan jika sebut namaKu (berdzikir kepada-Ku) dalam satu perkumpulan, Aku sebut namanya dalam perkumpulan makhlluk yang lebih baik dari mereka.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim). “Aku bersama hamba-Ku selama ia berdzikir kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut nama-Ku.”_(HR. Al-Bukhari).

Kebersamaan Allah kepada para dzakirin mencakup kebersamaan umum dan khusus; Allah melihat perbuatan hamba, mendengar perkataannya, mengetahui hal ihwalnya, dan meliput seluruh aktifitasnya. Dengan mengingat-Nya, Allah akan menjaganya, menolongnya, meneguhkannya, menunjukinya, dan memberi taufiq kepadanya. Jika hamba itu memohon ampunan kepada Allah, maka Allah mengampuninya. Jika ia memohon perlindungan maka Allah akan melindunginya. Jika ia meminta sesuatu maka Allah akan memberinya. Jika ia berdoa maka Allah akan kabulkan doanya.

Dzikir yang menjadi kebiasaan laku kehidupan akan mengisi relung hati (spiritual) dan menjadi karakter kesadaran jiwa manusia, “Kesadaran bukanlah hasil dari proses biologis biasa semata, melainkan merupakan bagian dari struktur fundamental alam semesta,” Fisika kuantum menawarkan kemungkinan bahwa kesadaran adalah sesuatu yang lebih luas dari sekadar aktivitas otak.

Kesadaran terbentuk dari proses kuantum yang terjadi dalam mikrotubulus di dalam neuron otak. Dalam teori ini, ketika tubuh mati dan aktivitas otak berhenti, informasi kuantum yang ada dalam mikrotubulus tidak serta merta hilang. Sebaliknya, ia “terdistribusi” ke alam semesta—sebuah konsep yang berkaitan dengan ide multiverse atau keberadaan dimensi paralel.

Kita dapat merasakan pergeseran samar dan aneh dalam jalinan apa yang kita sebut nyata, sebuah perubahan yang hampir tanpa suara, seolah-olah realitas itu sendiri sedikit miring, kita telah mengalami momen itu berulang kali dalam kehidupan, terutama dalam laboratorium, di mana batas antara fisika dan metafisika menjadi tipis.

Momen itu datang di hadapan orang-orang tertentu, keadaan kesadaran tertentu, keheningan tertentu yang terasa sarat dengan sesuatu yang lebih besar daripada suara. Pada saat-saat seperti itulah kita sadar bahwa tubuh manusia berperilaku jauh lebih dari sekadar sistem biologis. Dia berperilaku seperti sebuah instrumen, perangkat yang beresonansi, dinamis, dan sangat sensitif yang dirancang untuk berinteraksi dengan bidang informasi yang jauh lebih tua dan jauh lebih luas daripada batasan sempit ego yang kita semua miliki.

Tubuh manusia terstruktur sebagai pemancar dan penerima energi. Sebuah instrumen yang dirancang untuk menerima, mengkodekan, mengubah, dan menyiarkan informasi ke dan dari medan energi dan kuantum tak terlihat yang ada di luar persepsi kita tentang realitas. Apa yang sekarang kita lihat adalah fisika yang melangkah ke wilayah yang diam-diam telah ditunjuknya selama ini.

Jalinan hidup dari persepsi, perwujudan, dan energi relasional. Ini adalah pengakuan bahwa prinsip-prinsip yang sama yang membentuk partikel dan medan juga membentuk kesadaran, persekutuan, dan pertukaran halus yang menghidupkan makhluk sadar. Sebuah gagasan bahwa kesadaran manusia tetap hidup setelah kematian telah diajukan sebagai tesis oleh banyak ilmuwan yang disegani. Seperti,  ilmuwan Inggris Roger Penrose baru-baru ini mengemukakan teori bahwa manusia memiliki jiwa, yang tidak mati bersama tubuh.

Penrose meyakini bahwa kesadaran adalah sekumpulan informasi yang tersimpan dalam kuantum. Ia mengatakan ia telah menemukan bukti yang memperlihatkan bahwa informasi ini, yang terletak di sel-sel otak, meninggalkan tubuh ketika seseorang meninggal. Dalam harian  “The Sun”, Penrose menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal sementara, informasi ini dilepaskan ke alam semesta untuk dikembalikan ke sel-sel tubuh jika sel-sel tersebut dihidupkan kembali.

Ketika kita memahami kesadaran akan abadi, maka manusia akan mampu memahami kondisi diri kita dan memanfaatkannya selama kita memiliki kesadaran. Jika seorang manusia gagal melakukan mengisi jiwanya dengan dzikir, maka “dunia ini” akan “terkutuk” baginya. Pada saat kita kembali kepada Tuhan—ketika kita akhirnya akan menyadari dengan kepastian mutlak bahwa kita tidak dapat melakukan apa pun selain mengingat Tuhan—kita akan merasakan buah dari kekudusan itu. Siapa pun yang familiar dengan Al-Quran tahu bahwa Al-Quran berbicara tentang Tuhan dengan merinci nama-nama dan aktivitas-Nya.

Dalam prosesnya, ia berupaya keras untuk menekankan bahwa itu adalah kitab, wahyu, ucapan, dan firman Tuhan. Dia menegaskan bahwa semua wahyu kepada para nabi tidak lain adalah ucapan Tuhan, dan bahwa Tuhan berbicara kepada para nabi untuk memperjelas hakikat segala sesuatu dan untuk menjelaskan respons manusia yang tepat.

Lebih jauh lagi, dia berulang kali mengatakan kepada kita bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan berbicara kepadanya. Sama seperti Al-Qur’an dan kitab suci lainnya adalah kumpulan tanda atau  ayat Tuhan, demikian pula seluruh alam semesta adalah kumpulan besar tanda dan ayat Tuhan. Pada intinya, Tuhan menciptakan alam semesta dengan mengungkapkan tiga kitab: kitab alam semesta, kitab diri manusia, dan kitab suci. Pada masing-masing kitab, Dia mengungkapkan tanda-tanda-Nya dan menuliskan firman-Nya.

Setelah kita memahami bahwa realitas dikonfigurasi oleh ucapan, kita juga akan melihat bahwa tugas manusia adalah membaca dan memahami apa yang telah ditulis. Kemudian kita dapat mengikuti petunjuk yang tercantum dalam teks kitab suci, dunia, dan jiwa. Penafsiran Al-Quran – yang merupakan dasar dan buah dari semua ilmu Islam – selalu mencakup penafsiran simultan terhadap alam semesta dan jiwa. Setiap Muslim, dengan menerima Al-Quran sebagai Firman Tuhan, telah menerima tanggung jawab untuk memahami makna Firman tersebut.

Buah dari pemahaman ini berdampak pada jiwa. Setiap jiwa akan mempertanggungjawabkan bacaannya sendiri, tidak hanya Al-Quran, tetapi juga dua kitab lainnya, alam semesta dan jiwa. Dan, mengingat bahwa jiwa sendirilah yang membaca dan memahami, kitab jiwa adalah penentu terpenting takdir kita. Ini membantu menjelaskan mengapa, dalam menceritakan peristiwa yang akan terjadi pada Hari Kiamat, Al-Quran memberi tahu kita bahwa setiap manusia akan disapa dengan kata-kata, “Bacalah kitabmu !Jiwamu sudah cukup bagimu pada hari ini sebagai penimbang amal perbuatanmu!” (QS. al-Isra’/17: 14). Inti dari pengetahuan, kemudian, adalah membaca, mengenal jiwa sendiri dan melalui eling (dzikir) menulis kitab pada diri kita sendiri.

Seluruh perjalanan kembali secara sukarela kepada Tuhan adalah untuk belajar bagaimana menafsirkan diri sendiri melalui pemahaman kebijaksanaan yang ada dalam wahyu dan kosmos. Perjalanan kembali mencapai puncaknya pada Hari Kiamat. Apa yang seharusnya kita pelajari sebagai manusia adalah siapa diri kita sekarang dan siapa diri kita nantinya ketika kita kembali bertemu dengan Tuhan.

Semua pengetahuan harus melayani tujuan pengetahuan *sangkan paraning dumadi.* Seperti yang dikatakan Rumi; “Semangat dari semua ilmu pengetahuan adalah ini, hanya ini: bahwa Anda tahu siapa Anda nantinya pada Hari Kiamat.”

Untuk mengetahui siapa sejati diri kita dan siapa diri sejati kita nantinya, seseorang harus mengetahui hubungannya dengan Tuhan, yang menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Jelas bahwa firman Ilahi menciptakan dunia dan mengungkapkan kitab suci. Firman yang sama inilah yang muncul sebagai ciri khas manusia, yang diciptakan menurut gambar Tuhan.

Firman yang sama mengungkapkan kata-kata pengingat (eling lan waspada), bimbingan, dan doa yang dengannya manusia mampu mengingat Sumbernya dan melakukan perjalanan kembali. Dan ucapan yang sama inilah yang akan tertulis dengan jelas dalam kitab jiwa pada Hari Kiamat. Kondisi manusia menuntut kesadaran bahwa segala sesuatu yang kita pahami, ucapkan, lakukan, dan wujudkan sedang ditulis dan dicatat dalam diri kita sendiri. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *