Iran dan Tata Dunia Baru: Suatu Pengantar

Oleh: Kurniawan Zulkarnain*

Pasca-perang Dingin  – Dunia  didominasi oleh satu kekuatan tunggal yaitu Amerika Serikat (Unipolar) — namun bandul sistem global tengah bergerak menuju tatanan banyak kekuatan (Multipolar), dimana kekuatan-kekuatan besar dan regional saling berkompetisi. Kehadiran China dan Rusia sebagai penyeimbang Barat menunjukan eksistensinya. Krisis global sedang terjadi (Perang Ukraina dan Timur Tengah) yang menimbulkan krisis energi dan melemahnya Institusi global lama. Dalam situasi seperti ini, Iran hadir bukan sekedar negara regional — tetapi aktor strategis dalam pergeseran sistem global yang sekarang ini terjadi — dari perspektif ini dunia tidak lagi satu kekuatan (Unipolar) tetapi banyak kekuatan (Multipolar).

Iran sebagai represenrasi peradaban Islam meminjam kategori Samuel P Hutington (The Clash of Civilization, 1996) memiliki sejumlah keunggulan komparatip. Keunggulan itu antara lain: cadangan minyak dan gas bumi terbesar setelah Venezuela. Letak geografis strategis sekaligus keunggulan geopolitik vital yaitu memiliki Selat Hormuz yang merupakan jalur energi dunia sekitar 20 persen -30 persen  melalui selat ini. Pengaruh jaringan regional yang solid dengan Lebanon, Irak, Suriah, Yaman, dan Oman. Keunggulan lainnya adalah tradisi mencintai Ilmu. Tercatat 80 persen penduduk Iran bergelar Sarjana — ada suatu adegan yang menggetarkan yaitu ketika Almarhum Ayatullah Ali Khamenei didatangi seorang anak laki-laki yang ingin mati sahid yang dijawab “kamu sekolah dulu hingga Sarjana” baru berjuang — narasi ini menjadi inspirasi para ibu.

Iran yang dulunya dikenal sebagai Persia, telah melahirkan sejumlah tokoh ilmu pengetahuan pada Era keemasan Islam: Ibnu Sina (980-1037) adalah dokter dan filsuf terkemuka yang menulis  The Canon of Medicine — buku rujukan kedokteran di Eropa hingga ber-abad-abad.  Selanjutnya,ada Al-Razi (865-925), seorang Ilmuwan yang membedakan cacar dan campak secara ilmiah, serta menulis “Al-Hawi” sebagai ensikplodia medis.

Dia  juga pelopor kimia eksperimental dan dokter berpengaruh di dunia Islam dan Eropa. Tokoh lainnya adalah Al-Khawarijmi dikenal sebagai Bapak Al-Jabar, pengarang buku “ Al-Kitab al-Mukhtasar fi hisab al-Jabar wa’l muqabala”  basis matematika moderen, kata Al-Goritma berasal dari namanya. Masih ada tokoh lain seperti Al-Farabi, Al-Farggani, dan Al-Biruni. Para Ilmuwan ini telah menginspirasi para mahasiswa di Iran.

Iran vs Hegemoni Barat

Banyak sumber menggambarkan masyarakat Iran  ramah terhadap tamu, tekun dalam bekerja serta memilki ketabahan atau keteguhan yang kadang disebut “keras kepala” dalam konteks mempertahankan identitas nasionalnya. Karakter ini, secara tidak langsung diperkuat oleh embargo Amerika Serikat selama 4 dekade lebih menjadikan Iran lebih tangguh dalam membangun kemandirian ekonomi dan teknologi, mentransformasi tekanan menjadi pendorong internal: Iran menerapkan “Ekonomi Perlawanan” yang fokus pada produksi lokal, pertanian, dan industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor. Embargo juga mendorong literasi sains dan mengembangkan teknologi militer nanoteknolog, kedokteran, dan energi nuklir untuk tujuan damai serta memperkuat soliditas rakyat melalui narasi perlawan terhadap hegemoni Barat.

Ketangguhan Iran ditempa oleh  dialektika sejarah panjang — menjadikannya  bukan saja sebagai entitas negara tetapi juga peradaban berbasis ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan kunci untuk memahami Iran sebagai aktor anti-hegemoni bukan sekedar negara berkonflik. Menurut para analisis strategis moderen, Iran mengembangkan “strategi perlawanan jangka panjang”. Tujuannya bukan menghancurkan Barat secara langsung,tetapi mengikis dominasi global AS secara bertahap. Strategi ini meliputi dukungan pada aktor non-negara (proxy), melakukan diplomasi luwes dan melakukan aliansi non-Barat. Pada titik ini, yang dilakukan Iran bukan strategi murni,melainkan kombinasi peradaban,ideologi dan politik nyata (real politics).

Dalam tatanan baru, Iran tidak berdiri sendiri tetapi terhubung dengan blok-blok yang lebih luas. Kemitraan dengan Timur dengan mendekat ke Rusia dan Cina,bergabung dalam forum seperti OKI, BRICS ,intinya menggunakan “kartu multipolar” untuk melawan sanksi Barat. Iran berperan sebagai penyeimbang dan memposisikan diri sebagai penantang dunia Barat. Berupaya menjadi representasi global sout, aktor yang mendorong terbangunnya “sistem international alternatif”.

Dari sini, tampaknya Iran sedang menggerakan bandul sejarahnya, kedua arah sekaligus: kedalam membangun dunia pendidikan pada waktu yang bersamaan mengembangkan R&D (Researh and Development). Gerakan keluar membangun kemitraan dengan Blok Timur dan Selatan bahkan di kawasan Timur Tengah dan Asia Barat.

Konflik sebagai Katalis Tata Dunia Baru

Konflik di Timur Tengah (terutama agresi AS-Israel) ke Iran bukan sekedar konflik regional tetapi memicu polarisasi Global. AS mendukung Israel, sementara Rusia dan Cina mengambil sikap berbeda demikian juga NATO minus AS. Implikasinya adalah Dunia makin terbagi dalam Blok-blok kekuatan, Sistem Global bergarak ke arah pragmentasi. Pada titik ini konflik Timur Tengah sekarang menunjukkan “gejala” perubahan sistem dunia. Iran memainkan peran penting dalam Ekonomi Global: Selat Hormuz sebagai jalur utama 20-30 persen minyak dunia, penutupan Selat ini menjadi pemicu naiknya harga minyak dan gas. Negara besar seperti China dan India terdampak langsung,juga beberapa negara kecil di  Asia– hal ini dapat dibaca, Iran miliki daya tekan tanpa harus jadi super power.

Dilihat dari dimensi ideologis dan peradaban — Iran membawa narasi yang lebih dalam dan serius yaitu mengusung bendera “Anti- Imperialisme”. Dalam perspektif ini, Iran tidak hanya negara tetapi juga proyek peradaban  alternatif. Iran,dalam pembentukan “Tata Dunia Baru” dapat dipahami sebagai Aktor terhadap resistensi global terhadap hegemoni Barat. Iran menjadi pemain strategis multipolar yang memanfaatkan konflik global pada yang sama Iran menjadi kekuatan regional dengan dampak global sekaligus pembawa narasi Ideologi alternatif dimana Ideologi lama telah gagal menjawab tantangan zaman yang bergerak secara eksponensial berkah  teknologi Informasi.

Untuk mengakhiri  tulisan ini — ada  pertanyaan mendasar  apakah  tata dunia baru yang diidamkan atau kamuflase? Huntington  berpendapat konflik masa depan bukan Ideologi (kapitalisme vs komunisme) — tetapi konflik peradaban dengan patahan utamanya “Islam vs Barat”. Muhammad Baqir Al-Sadr (Falafatuna,2024) berpandangan thesis ini menyederhanakan masalah. Kita perlu membedahnya lebih dalam: Peradaban Barat Moderen memiliki ciri utama-  sekularisme, rasionalisme, individualisme, materalisme, dan liberalisme. Kebenaran dipandang relatif dan agama merupakan wilayah privat — sedangkan peradaban Islam (Ideal normatif), ciri utamanya: Tauhid (kesatuan Tuhan), Integrasi Agama, dan Politik — Moral adalah absolut dan ber-orientasi Ummah.

Perspektif di atas, konflik Timur-Tengah (agresi AS-Israel ke Iran) bukan sekedar kepentingan politik sebagai perebutan sumberdaya ekonomi tetapi secara epistimologis merupakan resistensi Islam  terhadap genosida, sekulerisme, dan kebebasan tanpa batas yang dipertontonkan AS-Israel secara telanjang  — jadi, ini merupakan benturan Nilai (Value Conflics) — bukan semata konflik peradaban (The Clash Civilazation),mengapa? — karena Dunia Islam tidak homogen, banyak negara Islam justeru sekutu Barat. Konflik Timur-Tengah yang sekarang tengah berlangsung  merefleksikan thesis ini. Walahu ‘Alam Bi Sowab.

*Konsultan/Penggiat Pemberdayaan Masyarakat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *