Para Suhu di Ujung Waktu

Oleh: Cak AT – Ahmadie Thaha*

Ruang pertemuan itu tidak sekadar dipenuhi manusia, tetapi dipadati oleh waktu yang menua dengan anggun. Kursi-kursi tersusun rapi, meja-meja bundar seperti gelanggang kecil tempat pengalaman saling bersalaman.  Lampu-lampu menggantung tidak terlalu terang, seakan paham bahwa yang hadir di sana bukan lagi generasi yang butuh sorotan, melainkan generasi yang sudah lama menjadi cahaya bagi orang lain.

Wajah-wajah yang hadir sebagian besar adalah wajah para ayah —wajah yang pernah keras diterpa deadline, tetapi kini teduh seperti sore yang tahu kapan harus pulang.  Di antara mereka, terngiang lirih lagu “Ayah dari Ebiet G. Ade, seperti soundtrack tidak kasat mata yang menyelimuti ruangan. Mereka bukan sekadar orang tua. Mereka adalah arsip berjalan.

Setidaknya seperempat abad masing-masing mereka menapak dunia kewartawanan, dari lorong redaksi paling sempit hingga kursi tertinggi yang tidak lagi punya atasan. Mereka pernah menjadi mata publik, telinga bangsa, bahkan kadang hati nurani yang tak diundang tetapi selalu diperlukan.

Ada yang pernah berdiri di bawah kolong jembatan, mencatat getirnya hidup yang nyaris tidak terdengar. Ada yang duduk di barisan depan panggung hiburan, mengabarkan gegap gempita yang cepat dilupakan.  Ada pula yang menembus bau mesiu di medan perang. Tidak sedikit pula yang melangkah tenang di Istana yang penuh protokol.

Semua mereka lakoni, tanpa jeda, tanpa drama berlebihan, hanya dengan satu bekal: kepercayaan bahwa kebenaran harus dituliskan. Maka ketika istilah “pensiun” disematkan kepada mereka, rasanya seperti menyebut laut telah berhenti bergelombang.

Wartawan — seperti penulis, tidak mengenal pensiun. Sejarah mencatat bagaimana Agus Mustofa, seorang jurnalis yang bertransformasi menjadi penulis spiritual-intelektual, masih meminta secarik kertas di ranjang rumah sakit untuk menulis ucapan dukanya sendiri — lima jam sebelum ajal benar-benar menjemput. Itu bukan anekdot dramatis, itu adalah definisi profesi: menulis hingga titik terakhir, bahkan ketika tubuh sudah menyerah.

Di ruang itulah, pada Jumat sore (17/4/2026) Serikat Wartawan 60+ (SW60+) — menemukan bentuknya– mereka mendeklarasikannya, menjadikannya ruang bersama, yang diakui legal, bagi para suhu sepuh kategori lanjut usia (lansia). SW60+ bukan sekadar forum reuni, melainkan semacam “majelis suhu” — tempat para pendekar yang dulu bertarung di medan berita kini duduk bersila, menimbang zaman yang makin bising.  Nama-nama besar bertebaran seperti rasi bintang lama yang masih setia memandu arah. Ada Nasir Tamara, saksi Revolusi Iran; Ilham Bintang, penguasa infotainment; Budiman Tanuredjo, Wahyu Muryadi, dan banyak lagi, para penjaga nalar dari ruang redaksi besar; hingga Karni Ilyas yang tajam seperti pisau editorial. Mereka bukan sekadar legenda, mereka adalah standar.

Ironisnya, justru di saat mereka berkumpul, dunia jurnalistik sedang mengalami krisis identitas. Algoritma lebih menyukai emosi daripada akurasi. Semua orang kini merasa berhak menjadi wartawan, tanpa pernah melewati lorong panjang verifikasi. Dulu, satu kata salah kutip bisa menjadi petaka di ruang redaksi. Kini, satu kebohongan bisa viral sebelum sempat dibantah. Publik pun terombang-ambing, tidak lagi tahu mana fakta, mana opini, mana sekadar kebisingan yang menyamar sebagai kebenaran.

Di titik inilah kehadiran para “suhu” menjadi relevan, bahkan mendesak — seperti diingatkan oleh Bambang Soesatyo, ruang publik kita sedang dipenuhi informasi yang tidak semuanya benar, dengan polarisasi yang makin tajam.  Dalam situasi seperti ini, wartawan senior bukan lagi pelengkap, melainkan penyangga akal sehat.

Mereka tahu cara mengkritik tanpa menghina, membongkar tanpa membakar. Mereka paham bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan kabar tetapi menjaga peradaban tetap waras. Menariknya, di antara para “bintang tiga” dan “bintang empat” itu, selalu ada yang merasa dirinya masih “AKBP” — masih belajar, masih mengamati, masih menahan diri untuk tidak banyak bicara.  Sebab di hadapan pengalaman yang menggunung, ego otomatis luruh.

Di ruang itu — yang berbicara bukan lagi jabatan, melainkan perjalanan  — dan perjalanan, seperti kita tahu, tidak pernah bisa dipalsukan. Maka pertemuan itu sesungguhnya bukan tentang nostalgia  —  adalah peringatan halus bahwa profesi ini pernah sangat mulia — dan masih bisa kembali mulia, jika akarnya tidak dilupakan. Bahwa di balik berita yang baik, selalu ada wartawan yang sabar, teliti, dan jujur  — dan bahwa di balik kegaduhan hari ini, masih ada sekelompok orang tua yang diam-diam menjaga agar dunia tidak sepenuhnya kehilangan arah.

Di ujung waktu mereka, para suhu itu tidak berhenti — mereka hanya berpindah posisi: dari pelari di garis depan menjadi penjaga api di belakang — dan mungkin, justru dari sanalah cahaya itu terlihat paling jelas — bukan karena terang, tetapi karena tidak pernah padam.

*Jurnalis Senior dan Kolumnis

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *