Renungan Dino Jemuwah: Hakikat Haji Mengenal Diri Sejati dan Mengenal Tuhan ( bag-2)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

C. Tawaf, Simbol Rotasi Lingkaran Tuhan

Salah satu awal sentral kegiatan haji adalah tawaf yakni, berlari-lari kecil– berjalan mengelilingi Ka’bah. “…dan hendaklah mereka melakukan  thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).”QS. Al-Hajj : 29). Di mana  Baitullah/Ka’bah  yakni rumah Allah dalam ritual haji menjadi tempat penampakan (tajalli) Tuhan, dan manusia menyadari dirinya adalah cerminan dari kehadiran-Nya. Tawaf: Melambangkan perputaran hati yang terus-menerus mengingat dan mendekat kepada Allah sebagai pusat realitas.

Haji sebagai Mikrokosmos– sedang manusia sebagai mikrokosmos (alam kecil) dan haji adalah momen penyatuan potensi ilahiah dalam diri manusia dengan realitas Tuhan yang absolut.  Tawaf proses putaran hati penyucian jiwa untuk mengenali diri sejati, yang pada akhirnya membawa seseorang mengenali Tuhannya. Ka’bah terbuat dari batu-batu kasar berwarna hitam yang disusun dengan pola yang sangat sederhana dan celah-celahnya diisi dengan kapur berwarna putih.

Ka’bah hanyalah sebuah bangunan berbentuk kubus yang kosong. Tidak ada apa-apa! Tidak ada apapun untuk dilihat! Yang dapat disaksikan hanyalah ruang kosong berbentuk persegi empat– tetapi mengapa harus berbentuk kubus? Mengapa begitu sederhana tanpa warna dan ornamen? Karena, menurut Ali Syari’ati, Allah Yang Maha Kuasa tidak punya “bentuk”, tidak berwarna dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Tidak ada pola atau visualisasi Allah yang dapat diimajinasikan oleh manusia– karena Maha Kuasa dan Maha Ada di mana-mana maka Allah adalah “mutlak”.

Meskipun Ka’bah tidak mempunyai arah (karena bentuknya seperti kubus)– namun, dengan kondisi seperti itu berlakulah universalitas dan kemutlakan bentuk Ka’bah– meliputi segala arah dan semuanya serempak melambangkan ketiadaan arah, dan simbol sejati dari bentuk ini adalah Ka’bah sebagai simbol sejati dari Allah, Ka’bah mempunyai banyak arah namun ia tidak mempunyai arah tertentu.

Menurut Karen Armstrong, melalui ziarah ke Mekkah, secara perlahan mengartikulasikan konsepsi ketuhanan dinamis yang secara imajinatif harus diciptakan oleh setiap peziarah untuk dirinya masing-masing. Dengan demikian, ketika mencapai Ka’bah, jamaah haji akan menyadari mengapa tempat suci itu kosong.

Ka’bah menjadi saksi pentingnya kita mentransendensi seluruh ungkapan manusia tentang yang Ilahi, yang tidak boleh menjadi tujuan akhir. Mengapa Ka’bah hanya berupa kubus yang sederhana, tanpa dekorasi dan ornamen? Karena  mewakili “rahasia Tuhan di alam semesta: Tuhan tiak berbentuk, tidak berwarna, tanpa keserupaan, sehingga bentuk dan kondisi apa pun yang dipilih, dilihat atau dibayangkan manusia, itu bukanlah Tuhan.”

Ibadah haji merupakan antitesis dari keterasingan yang dialami oleh banyak orang– menampilkan jalan eksistensi setiap manusia yang membelokkan jalan hidupnya dan mengarahkannya kepada Tuhan. Ka’bah merupakan simbol yang diberikan pada sebutan “Baitullah” rumah Allah’. Dalam hal ini, terminologi “rumah” tidak dikonotasikan bahwa Allah berada atau menetap di sana, tetapi itu merupakan simbol keberadaan Allah dan arah dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, aalah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96). “ Orang-orang yang datang mengunjungi Baitullah (Ka’bah) disebut sebagai  wafd Allah, “tamu Allah”.

Rasulullah saw. bersabda; “Orang-orang yang berhaji dan berumrah ke Baitullah adalah tamu Allah, jika mereka berdoa dikabulkan Allah, dan jika mereka meminta ampun, diampuni Allah.” (H.R. An-Nasa-i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).

Tawaf merupakan ibadah yang dilakukan di Baitullah–yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran.  Apakah makna bergerak mengitari Ka’bah itu?  Dengan Ka’bah di tengah-tengah, manusia mengelilinginya dalam sebuah gerakan yang sirkular– Ka’bah melambangkan ketetapan (konstansi) dan keabadian Allah, sedang manusia yang berbondong-bondong mengelilingi melambangkan aktivitas dan transisi makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Semua aktivitas dan transisi yang terjadi secara terus-menerus.

Mungkin saja sentuhan eksistensial kemanusiaan lebih banyak menyublim lewat hati– misalnya, semakin mendekati Ka’bah, semakin banyak kebesaran yang kita rasakan. Semakin dekat dengan Allah. Dalam suasana penuh keharuan yang tidak terbendung “engkau seolah-olah dipaksa untuk bergerak ke satu arah saja. Engkau tidak bisa mundur. Dunia ini bagaikan sebuah jantung yang berdenyut-denyut. Ke mana pun engkau memandang yang engkau saksikan adalah Allah.” Tetapi, bukankah kenyataan itu juga mengajarkan sesuatu yang sangat penting bagi penalaran? — yakni, pencarian Allah di muka bumi. Kita akan menjadi sadar bahwa Allah tidak mesti dicari di langit atau melalui metafisika saja, tetapi pencarian itu dapat dilakukan di atas bumi. Dia “terlihat” di dalam setiap sesuatu,  bahkan di dalam batu-batuan.

Dalam konteks ini– haji merupakan satu  blueprint bagi gerakan dan revolusi monoteistik. Tuhan adalah Konstansi Eternal (the Eternal Constancy) dan manusia adalah gerakan eternal (the eternal movement)– dengan demikian, haji bukan hanya ziarah ke tempat suci, karena Ka’bah itu anti-relativistik– karena itu, Ali Syari’ati memiliki rumus tentang tawaf yaitu, Ka’bah melambangkan ketidakberubahan dan keabadian Allah. Lingkaran yang bergerak menunjukkan aktivitas dan transisi yang berkesinambungan dari makhluk-Nya, maka, Syari’ati membuat rumusan yaitu; Ketidakberubahan + gerakan + disiplin = Tawaf

Ketika seseorang memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Ka’bah, maka dia telah berusaha menemukan arah perjalanan hidupnya dan meneguhkan arti keberadaannya– karena haji adalah gerakan, gerakan adalah Islam, Islam adalah jalan dan orientasinya adalah monoteisme.  Posisi manusia dalam alam ini, adalah sebagai peragaan obyektif dari kebenaran ini, yang terlihat jelas pada tawafnya mengelilingi Ka’bah. Tawaf membawa pesan maknawi berputar pada poros bumi yang paling awal dan paling dasar.

Lingkaran pelataran Ka’bah merupakan arena pertemuan dan bertamu dengan Allah, mengadakan audiensi dengan Dia.  Ibadah Tawaf dimulai dengan mengecup/mencium atau istilam “mengangkat tangan” pada Hajar Aswad sebagai ritual mengawali pertemuan dengan Allah.

Melambangkan apakah batu ini?– melambangkan tangan kanan Allah! Menurut Ibnu Abbas, Hajar Aswad merupakan simbol tangan Allah di bumi– “Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah ‘azza wa Jalla di bumi, yang dengannya Dia berjabat tangan dengan para hamba-Nya (tamu-Nya), sebagaimana seseorang berjabat tangan dengan saudaranya.” (H.R. Abu Daud)

Ketika tawaf, para pelaku haji harus berjabatan tangan dengan Allah yang mengulurkan tangan kanan-Nya, dengan cara demikian para jamah haji bersumpah untuk menjadi sekutu Allah. Mereka  akan bebas dari seluruh perjanjian sebelumnya; Pelaku Haji tidak akan lagi menjadi sekutu dari kaum penguasa suatu negara, hipokrit, kepala suku, raja-raja kerajaan di bumi, kaum Aristocrat (birokrat & polite biro), para tuan tanah, ataupun kaum kapitalis. Mereka bebas!

Tawaf merupakan contoh dari sistem yang berdasarkan pada gagasan tentang monoteisme. Allah adalah pusat eksistensi; Dia adalah fokus dari dunia yang sementara ini. Sebaliknya– manusia adalah partikel bergerak yang mengubah posisinya dari yang sekarang ke yang seharusnya.

Tawaf mengajarkan kepada manusia untuk bergerak ke arah taraf menjadi atau menyempurnakan. Menjadi (becoming) adalah bergerak, maju, mencari kesempurnaan, merindukan keabadian, tidak pernah menghambat dan menghentikan proses terus-menerus ke arah kesempurnaan. 

Hal ini harus menjadi asas melajunya kemanusiaan– yakni senantiasa dan proses mengalir. Melakukan tawaf bagai diajak untuk mengikuti perputaran waktu dan peredaran peristiwa, menjadi perhatian atau catatan hendaklah dari segala posisi dan di setiap saat senantiasalah setiap individu mempertahankan jarak yang konstan dengan Ka’bah atau dengan Allah. Jarak tersebut tergantung pada jalan yang dipilih pada sistem ini. Ditegaskan Jarak dan posisi ini, tidak hanya berlaku secara individual, tetapi harus bergerak menyatu melalui ummah.

Dalam haji Allah telah mengundang manusia dari tempat yang jauh untuk datang ke rumah-Nya sebagai tamu pribadi, tapi kini, dalam tawaf, Allah menyuruh manusia untuk menyatu dengan ummah– dengan  cara inilah untuk bertahan hidup, cara untuk menemukan “orbit” individu dan ummat. Jika engkau tidak menyatu dengan ummah, engkau tidak akan mampu menjalani orbit ataupun mendekati Allah Yang Maha Kuasa.

Jalan Allah adalah jalan umat manusia– dengan kata lain, untuk mendekati Allah harus lebih dulu mendekati manusia. Engkau harus terjun ke dalam arus manusia yang bergemuruh yang sedang bertawaf. Beginilah caranya manusia menjadi seorang haji.  Undangan kepada setiap individu orang yang ingin datang ke rumah Allah. Mereka semua mengenakan pakaian dengan pola dan warna yang sama. Di antara mereka tidak ada perbedaan dan kelebihan pribadi; yang terlihat oleh kita hanyalah totalitas dan universalitas umat manusia.

Jadi yang sedang melakukan tawaf adalah ummah yang mewakili umat manusia. Kini para haji menjadi bagian dari ummah; kini mereka adalah seorang manusia yang hidup dan abadi! mereka tidak bergerak “sendirian” tetapi “bersama orang lain”.

Berjamaa’ah menyatu dengan mereka bukan “secara diplomatis” tetapi “dengan cinta”.

Terjunlah ke dalam sungai manusia yang bertawaf, dengan cara itu ritual ibadah tawaf. Setelah lama berenang dalam “aliran cinta ini”, jamaah haji akan meninggalkan “eksistensi makhluk hidup yang egois” dan memetik suatu kehidupan baru di tengah “eksistensi abadi” umat manusia dalam “orbit abadi” Allah. Makna esensialnya dari ritus ini, diakui Karen Armstrong, bahwa– ibadah haji menawarkan kepada setiap individu/seorang Muslim menjalani pengalaman integrasi personal dalam konteks ummah, dengan Tuhan sebagai porosnya. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *