Wahyu Ferdian– Bupati yang Ingin Cepat Meninggal

Oleh: Toto Izul Fatah*

Bermula dari pernyataan bernada seloroh pada Rabu 29 April 2026. Isinya? “Saya ingin secepatnya meninggal dunia dan masuk surga, karena lieur di dunia mah”. Begitu kira-kira kalimat spontan yang muncul dari mulut Bupati Cianjur, dr Mohammad Wahyu Ferdian kepada pers saat ditanya cita-citanya usai pelantikan sejumlah pejabat di Cipanas, Cianjur.

Apa yang disampaikan sang Bupati, memang terdengar mengejutkan– dan publik pun membuat tafsir yang beragam atas pernyataannya tersebut. Paling tidak, menurut saya, kalimat itu bisa dibaca dalam beberapa tafsir.  Pertama, bisa saja dia hanya bercanda. Misalnya, dalam kultur Sunda, ungkapan lieur  sering dipakai sebagai ekspresi spontan pada saat kondisi sedang pusing, capek, suntuk, atau sekadar cara mencairkan suasana– tetapi, karena yang mengucapkan adalah kepala daerah, candaan itu berubah menjadi pernyataan publik. Pada bagian inilah, humor pribadi bertabrakan dengan etika jabatan.

Kedua, kalimat itu bisa dibaca sebagai tanda kelelahan psikologis– menjadi bupati bukan hanya soal kursi, fasilitas, dan protokoler. Ia juga menghadapi tekanan birokrasi, kritik publik, ekspektasi warga, konflik elite, tuntutan pelayanan, dan sorotan media.  Maka, ketika seorang kepala daerah berkata “ingin cepat mati”, publik wajar bertanya: apakah ini sekadar celetukan, atau ada beban batin yang terlalu berat?

Ketiga, pernyataan itu bisa dibaca sebagai ekspresi religius yang salah tempat– dalam agama, kerinduan kepada Surga tentu bukan sesuatu yang salah. Setiap orang beriman boleh berharap husnul khatimah dan kehidupan akhirat yang baik– tetapi, berharap masuk Surga tidak identik dengan ingin mempercepat kematian.

Dalam Islam– hidup adalah Amanah– jabatan adalah amanah, tubuh adalah amanah dan rakyat juga amanah. Maka, seorang pemimpin tidak cukup hanya ingin masuk surga– justru harus bertanya, sudahkah jalan kepemimpinannya menjadi sebab rakyat merasakan keadilan, pelayanan, dan kemaslahatan? Dari perspektif Tasawuf, kalimat “ingin cepat mati dan masuk Surga” perlu dibedakan antara Zuhud dan lari dari amanah. Zuhud bukan membenci dunia, melainkan tidak diperbudak dunia. Seorang sufi tidak memandang dunia sebagai tujuan akhir, tetapi juga tidak menjadikan dunia sebagai tempat yang harus ditinggalkan sebelum tugas selesai. Dunia adalah ladang amal.

Justru, di situlah kualitas batin diuji, apakah seseorang tetap jujur ketika berkuasa, tetap rendah hati ketika dipuji, tetap sabar ketika dikritik, dan tetap melayani ketika lelah. Dalam bahasa Tasawuf, seorang pemimpin tidak boleh hanya merindukan Surga sebagai “tempat pulang”, tetapi harus menjadikan jabatannya sebagai “jalan pulang”.  Artinya, surga tidak dikejar dengan keluhan, melainkan dengan khidmat. Tidak dengan ingin cepat selesai dari dunia, tetapi dengan menyelesaikan tugas dunia sebaik-baiknya.

Bila kalimat itu muncul sebagai candaan– kurang elok. Bila muncul sebagai kelelahan, dia perlu dibaca sebagai alarm. Bila muncul sebagai keyakinan bahwa dirinya pasti masuk Surga, itu lebih berbahaya lagi. Sebab, dalam tradisi spiritual Islam, orang saleh justru tidak mudah memastikan dirinya layak Surga. Semakin dalam ilmu batin seseorang, semakin besar rasa takutnya kepada kesalahan diri sendiri. Surga bukan klaim, melainkan harapan. Bukan sertifikat moral, melainkan rahmat Tuhan.

Begitu juga dalam  perspektif ajaran leluhur Jawa sangkan paraning dumadi — manusia harus sadar dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, dan ke mana dia akan kembali.  “Sangkan” adalah asal-usul: manusia berasal dari Tuhan, dari tanah, dari rahim ibu, dari masyarakat yang membesarkannya. Paran adalah tujuan akhir: kembali kepada Tuhan– tetapi antara asal dan tujuan itu ada ruang tanggung jawab bernama kehidupan. Maka, “sangkan paraning dumadi” tidak mengajarkan manusia untuk cepat-cepat meninggalkan dunia karena lelah. Dia mengajarkan manusia untuk menjalani dunia dengan eling lan waspada. Yaitu, sadar asal, sadar tugas, sadar batas, sadar akhir.

Dalam kerangka ini, seorang bupati bukan hanya pribadi yang punya hak untuk lelah, tetapi juga pemangku amanah yang harus menata rasa lelahnya agar tidak berubah menjadi pesan publik yang melemahkan harapan rakyat.

Seorang pemimpin boleh capek, tetapi tidak boleh membuat rakyat merasa pemimpinnya ingin menyerah. Seorang pemimpin boleh religius, tetapi religiositasnya harus melahirkan keteguhan, bukan kesan putus asa. Seorang pemimpin boleh bercanda, tetapi candaan pejabat publik harus tetap menjaga martabat jabatan. Jika benar Bupati Cianjur ingin masuk Surga– jalan menuju kesana terbuka sangat lebar. Di depan mata terbentang lebar ada  pelayanan publik, jalan rusak yang diperbaiki, warga miskin yang dibantu, birokrasi yang dibersihkan, dan rakyat yang tidak dikhianati.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *