Renungan Malem Jemuwah: Hakikat Haji Mengenal  Diri Sejati dan Mengenal Tuhan (bag-3)

Oleh: Anwar R. Soediro*

D. Maqam Ibrahim; Simbol Realitas Sejarah

Dari sudut bahasa, al-maqam berarti “tempat pijakan”. Makamaqam Ibrahim merupakan  bangunan dengan batu kecil yang dibawa oleh Isma’il — ketika membangunkan Ka’bah, digunakan sebagai pijakan Ibrahim untuk berdiri guna melengkapi bongkahan-bongkahan batu untuk membangun Ka’bah.

Maqam Ibrahim merupakan bukti Sejarah– simbol jejak kehidupan yang bermakna dan autentik. Sebagai pesan yang dapat ditangkap dari maqam Ibrahim adalah manusia diajak untuk menatap dan merenungi sejarah serta perjalanan kehidupan, terlebih dalam hal ini sejarah kehidupan Ibrahim. Sebab ibadah haji tidak dapat dipahami secara baik, bahkan boleh jadi– dapat menimbulkan kesalahpahaman bila tidak memahami siapa Nabi Ibrahim as. dan keistimewaannya– karena ibadah tersebut berkaitan erat dengan pengalaman ruhani Nabi Agung itu.

Tempat shalat yang paling afdhal adalah di maqam Ibrahim– terutama shalat setelah melaksanakan tawaf.  Firman Allah, “…Dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat.” (al-Baqarah: 125). “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim.” (Ali Imran: 97)

Dalam sejarah manusia– Nabi Ibrahim adalah tokoh pendobrak terbesar dalam sejarah peradaban yang menentang penyembahan berhala dan menegakkan monoteisme di dunia ini. Tauhid, keyakinan akan keesaan Allah SWT– merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang tidak dapat diabaikan oleh para ilmuwan atau sejarahwan.

Ibrahim adalah Bapak Monoteisme– Ibrahim adalah orang pertama memberantas penyembahan berhala. Sebagai pemimpin gerakan ini dia memberontak melawan kehinaan. Sebagai pengingat hingga saat sekarang zaman digital, sebagaimana Nabi Ibrahim, bagi mereka yang berperilaku seperti Ibrahim menentang berhala kemusyrikan— mereka akan berhadapan dengan panasnya api Namrud (penguasa). Ini, tegas merupakan suatu demontrasi simbolis tentang seberapa dekat para pejuang Tauhid dengan “api” disaat mereka berjuang dan berjihad menegakkan kalimat tauhid.

Jamaah Haji saat berada di maqam Ibrahim– berarti berdiri di “tempat” dengan harus memainkan “peran Ibrahim” dalam pertunjukan simbolis, aktor yang baik adalah orang yang kepribadiannya sangat diwarnai oleh karakter dari individu yang sedang diperankannya.  Maka, jangan memainkan peranmu lagi setelah engkau memainkan peran Ibrahim. Kini engkau sedang berdiri di maqam Ibrahim dan akan berperan sebagai pembawa agama tuhid, hidup sebagaimana Nabi Ibrahim, menjadi arsitek Ka’bah keyakinanmu.

Makna ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Al-Junayd (w. 298 H) bahwa, puncak ibadah haji adalah mencapai maqam Ibrahim– yakni simbol tahapan tingkatan keimanan yang harus dilalui para peziarah haji saat berdiri di maqam Ibrahim.

Maqam Ibrahim menjadi bermakna maqam dalam kajian Tasawuf kedudukan seorang hamba di hadapan Allah yang didapatinya melalui ibadah dan Mujahadah serta latihan-latihan spiritual dan konsentrasi diri untuk mencurahkan segala-galanya semuanya senantiasa di lakukan hanya untuk Allah SWT semata.

Menurut Al- Qusyairi (w. 465 H./1073 M) merupakan perjuangan spiritual yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu, termasuk ego manusia, yang dipandang berhala terbesar, dan karena itu kendala menuju Tuhan. Sosok Ibrahim, bagi peziarah haji adalah tempat bercermin dan mengikuti tahap-tahap sejarah kehidupan Ibrahim yang penuh dengan perjuangan ketika mencapai maqam ini yakni: menghancurkan berhala, perang melawan Namrud, terjun ke dalam kobaran api– Namrud, berjuang melawan Iblis, mengorbankan Ismail, hijrah, terlunta-lunta, kesepian, dan menanggung siksaan. Inilah pengalaman-pengalaman yang dilaluinya, berjalan melewati fase kenabian ke fase kepemimpinan, dari individualitas ke kolektivitas dan dari “penghuni rumah Azar menjadi pembangun rumah Tauhid (Ka’bah).

Maqam Ibrahim memberikan arti agar manusia menapaki sejarah hidup dengan penuh kesan dan makna yang baik. Maqam Ibrahim memberi arti bahwa setelah hubungan dengan Allah yang digambarkan lewat tawaf selesai– kita diajak ke maqam Ibrahim untuk shalat– bahwa di sana disimbolkan keberadaan kita di tengah-tengah manusia– maka dua hubungan ini harus serasi.

Kehadiran maqam Ibrahim mengajak kita untuk merenungi kehidupan ini, sudah sampai di mana kita menjalin hubungan dengan Allah dan manusia. Tanpa hubungan yang baik dan benar kepada Allah dan kepada manusia, dapat dipastikan bahwa sejarah kehidupan manusia tidak akan terkesan abadi yang penuh dengan kebaikan. Meskipun iman sebagai persoalan pribadi namun dalam memandang ibadah haji penting ditanamkan kesadaran bahwa dengan iman akan membimbing ummat menuju realisasi kesatuan kemanusiaan dan, bahkan melampaui kesatuan semesta. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Komputer Universitas Indonesia (Foto: Pribadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *