Oleh: Benz Jono Hartono*
Dunia moderen dibangun bukan hanya dengan kekuatan senjata, tetapi juga dengan kekuatan mata uang– dan dalam sejarah ekonomi global, mata uang yang paling dominan adalah Dolar Amerika Serikat. Hampir seluruh perdagangan dunia, minyak, emas, teknologi, pangan, hingga utang internasional, berputar di bawah bayang-bayang dolar. Pertanyaannya kemudian muncul, mungkinkah suatu hari nanti 1 dolar sama dengan 1 rupiah?
Secara teori mungkin saja tetapi dalam realitas ekonomi global– itu bukan sekadar soal angka kurs. Itu menyangkut kekuatan industri, cadangan devisa, teknologi, stabilitas politik, produktivitas nasional, hingga pengaruh geopolitik sebuah negara di mata dunia.
Amerika Serikat bukan menjadi penguasa dolar semata-mata karena negaranya kaya. Dominasi dolar lahir dari kombinasi kekuatan ekonomi, militer, teknologi, diplomasi, dan pengaruh global yang dibangun sejak berakhirnya Perang Dunia II melalui sistem Bretton Woods. Saat itu dunia membutuhkan satu mata uang acuan internasional, dan Amerika tampil sebagai negara pemenang perang dengan cadangan emas terbesar serta ekonomi terkuat. Sejak itulah dolar menjadi “darah” perdagangan dunia.
Namun banyak pihak di berbagai negara juga melihat dominasi dolar sebagai instrumen hegemoni global. Negara yang melawan kepentingan Amerika sering menghadapi embargo ekonomi, sanksi finansial, pembekuan aset, bahkan tekanan politik dan militer– dari sini lahir anggapan bahwa kekuatan dolar bukan hanya ditopang ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan militer Amerika yang mampu memaksa dunia tunduk pada sistem global yang mereka bangun.
Amerika Serikat memang dikenal sebagai negara dengan anggaran militer terbesar di dunia. Kehadiran pangkalan militernya tersebar di banyak kawasan strategis. Dalam berbagai konflik internasional, Washington sering dituduh menggunakan standar ganda, berbicara tentang demokrasi dan HAM, tetapi pada saat yang sama mendukung perang, intervensi, atau kepentingan geopolitik tertentu– karena itu muncul persepsi di banyak negara berkembang bahwa dunia internasional “takut” kepada Amerika, bukan hanya karena dolar, tetapi karena kekuatan gabungan antara uang, teknologi, intelijen, media global, dan militernya– tetapi persoalannya tidak sesederhana itu.
Dominasi dolar juga terjadi karena dunia masih percaya pada stabilitas ekonomi Amerika. Investor global membeli obligasi Amerika. Bank sentral dunia menyimpan cadangan dolar. Perdagangan lintas negara lebih mudah memakai dolar karena dianggap likuid dan aman. Dengan kata lain, kekuatan dolar bukan hanya karena ketakutan, tetapi juga karena kepercayaan sistemik yang telah dibangun puluhan tahun. Lalu bagaimana dengan rupiah?
Agar rupiah bisa sangat kuat bahkan menyamai dolar, Indonesia harus mengalami lompatan besar dalam banyak bidang sekaligus: industri nasional yang mandiri, ketahanan pangan dan energi, teknologi tinggi, ekspor bernilai tambah, rendahnya korupsi, stabilitas politik, dan kepercayaan internasional terhadap sistem keuangan Indonesia.
Jika Indonesia hanya menjadi pasar konsumtif dan bergantung pada impor, maka rupiah akan terus berada di bawah tekanan mata uang asing. Bangsa yang besar tidak cukup hanya marah kepada dominasi asing. Bangsa besar harus membangun kekuatan nyata, produksi, ilmu pengetahuan, disiplin nasional, dan keberanian menjaga kedaulatan ekonomi.–karena pada akhirnya, nilai mata uang adalah cermin harga diri sebuah bangsa.
Sejarah menunjukkan, tidak ada negara yang dihormati dunia hanya karena pidato dan retorika. Dunia menghormati negara yang kuat secara ekonomi, mandiri secara politik, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa terus bergantung pada kekuatan global mana pun.
*Praktisi Media Massa, Vice Director ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, dan Executive Director Hiawatha Institute
Editor: Jufri Alkatiri
