Oleh: Toto Izul Fatah*
Tidak ada kekuasaan yang terbebas dari kejatuhan– apalagi, jika kekuasaan itu dijalankan dengan lalim, dzolim, dan sombong. Pilihannya tergantung kepada pemegang kekuasaan; apakah mau jatuh dengan husnul khotimah alias happy ending (berakhir baik), atau sebaliknya jatuh dengan suul khotimah (berakhir buruk) — yang pasti, fakta sejarah membuktikan, banyak pemimpin tumbang bukan semata-mata karena lawannya terlalu kuat, melainkan karena dirinya terlalu mabuk kuasa. Dia gagal membedakan antara amanah dan ambisi, antara kritik dan makar, antara jabatan dan pemujaan diri dan antara misi suci dan ego diri– karena itu, kejatuhan pemimpin sebenarnya bukan sekadar kecelakaan politik– juga bukan hanya hasil dari manuver lawan. Lebih dari itu, kejatuhan sering merupakan akumulasi dari kerusakan yang ia ciptakan sendiri.
Diantaranya, saat seorang pemimpin mulai arogan, sewenang-wenang, gemar menekan, anti kritik, dan merasa paling benar serta memang jabatan sebagai hak milik pribadi. Itulah benih-benih prilaku pemimpin yang akan menjadi hukum alam kejatuhan. Meskipun, tidak semua penguasa lalim jatuh seketika. Ada yang bertahan lama, bahkan tampak berjaya bertahun-tahun. Tetapi, ujungnya tetap berakhir jatuh dan tragis.
Dalam salah satu riset tentang hubris syndrome mengungkapkan, bahwa kekuasaan yang terlalu lama dan terlalu besar dapat memicu perubahan prilaku seorang pemimpin. Muncul sikap merasa besar sendiri, benar sendiri, keyakinan berlebihan, impulsivitas, dan ketidaksiapan menerima kritik.
Disnilah kekuasaan mempunya daya rusaknya yang sunyi– dia merusak bukan hanya sistem di luar diri seorang pemimpin, tetapi juga merusak batinnya. Mula-mula lahir rasa paling tahu. Lalu muncul keyakinan bahwa dirinya tak mungkin salah. Setelah itu kritik dianggap ancaman, hukum dianggap alat, rakyat dianggap objek, dan orang-orang di sekelilingnya hanya dipelihara untuk memujinya.
Sejarah Romawi memberi contoh nyata yang sangat tua, tetapi relevan untuk saat ini. Dia adalah Nero, seorang kaisar yang pemerintahannya sarat kekejaman, penyingkiran lawan, dan keretakan hubungan dengan elite politik. Pada akhirnya, ketika Senat menyatakannya sebagai musuh publik, Nero bunuh diri pada 68 M. Dia tampak besar, tetapi berakhir dalam kesendirian dan kepanikan.
Pola yang kurang lebih sama muncul dalam bentuk berbeda. Louis XVI di Prancis mungkin bukan diktator modern dalam arti kasar, tetapi ia berdiri di puncak sistem monarki yang beku, penuh privilese, dan terlalu jauh dari penderitaan rakyat.
Ketika krisis sosial-ekonomi membesar dan reformasi terlambat, monarki Bourbon kehilangan legitimasi. Lalu, Monarki dihapus pada 1792, dan Louis XVI kemudian dihukum mati. Pelajarannya jelas: seorang pemimpin jatuh karena gagal membaca kenyataan dengan mempertahankan sistem yang angkuh.
Bahkan, jauh sebelum Masehi, sejarah juga mencatat tentang kejatuhan Sennacherib (Assyiria, wafat 681 SM), Cambyses II (Persia, wafat 522 SM), Xerxes I (Persia, abad ke-5 SM), Belshazzar (Babylon, wafat sekitar 539 SM), Tarquin The Proud ( 509 SM), dan Midas (abad ke-8 SM). Mereka semua jatuh dengan faktor yang sama; kesombongan, kesewenang-wenangan, anti kritik dan kekejaman.
Kasus dengan pola yang sama, juga terjadi di era modern. Tepatnya, di wilayah Asia Tenggara. Kita masih ingat ada nama besar dan terkenal di Filipina, yaitu Ferdinand Marcos. Tahun-tahun akhir kekuasaannya, ditandai oleh korupsi pemerintah yang merajalela, stagnasi ekonomi, dan ketimpangan yang makin lebar. Rezim yang pada awalnya tampak kuat itu akhirnya ditelan krisis legitimasi, lalu digulung oleh gerakan People Power pada 1986.
Lalu, ada juga Nicolae Ceaușescu di Rumania, salah satu contoh paling telanjang tentang penguasa yang dirusak oleh kultus diri. Ia membangun cult of personality yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Rumania, menjadi fondasi dari sebuah diktatur “yang nyaris tak mengenal batas.”
Begitu gelombang revolusi 1989 meledak, Ceaușescu tumbang cepat dan dieksekusi– dia jatuh bukan semata karena rakyat marah, tetapi karena kekuasaannya terlalu lama menolak koreksi. Contoh lain yang cukup brutal terjadi pada pemimpin Libya, Muammar al-Qaddafi. Ia memerintah lebih dari empat dekade, membangun kekuasaan yang sangat terpusat pada dirinya.
Tetapi pada 2011, pemberontakan terhadap rezimnya berkembang menjadi perang saudara dan intervensi internasional– dia digulingkan pada tahun itu dan kemudian dibunuh oleh pasukan pemberontak pada Oktober 2011. Apa pesan yang dapat kita ambil dari kasus kejatuhan Nero hingga Marcos, dari Ceaușescu hingga Qaddafi? Yang pasti, disitu ada benang merah yang sama. Pertama, kesombongan melahirkan seorang pemimpin merasa dirinya pusat kebenaran. Kedua, kekuasaan yang tak terkontrol menutup pintu kritik. Ketiga, kezaliman yang menggerogoti legitimasi. Keempat, krisis yang semula kecil menumpuk menjadi ledakan besar. Karena itu, menurut saya, kejatuhan pemimpin lalim memang lebih tepat disebut sebagai hukum alam sejarah. Bukan “hukum alam” dalam arti fisika yang bekerja otomatis tanpa jeda, melainkan hukum sebab-akibat moral, psikologis, dan sosial yang hampir selalu berulang.
Belajar dari Nero hingga Marcos, kita sampai pada satu kesimpulan penting: pemimpin tidak jatuh hanya karena diserang musuh, tetapi terutama karena kalah melawan penyakit dalam dirinya sendiri. Sekarang, silakan para pemimpin yang sedang berkuasa dimana saja, untuk memilih, mau berakhir husnul khotimah, atau suul khotimah. Biarkan sejarah yang nanti akan mencatat.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
Editor: Jufri Alkatiri
