Haramain:Pusat Reproduksi Ulama Nusantara

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Selama berabad-abad, Makkah dan Madinah—dua kota suci yang dikenal sebagai Haramain—telah berfungsi jauh melampaui statusnya sebagai destinasi ibadah haji. Haramain menjadi pusat reproduksi ulama Nusantara– pabrik peradaban yang secara sistematis mencetak para pemikir dan pemimpin agama dari berbagai kepulauan.

Setiap tahun, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia berduyun-duyun ke Makkah dan Madinah. Mereka datang dengan pakaian serba putih, melantunkan panggilan khas Labbaikallahumma labbaik. Bagi kebanyakan orang, dua kota ini adalah tujuan spiritual tertinggi—tempat untuk menyempurnakan rukun Islam kelima, memohon ampunan, dan merasakan kedekatan dengan Tuhan– namun, pelajar Nusantara selama berabad-abad,

Haramain memiliki makna yang jauh lebih dalam– bukan sekadar tanah suci, tetapi juga “pusat peradaban, jantung intelektual, dan “pabrik” yang mencetak ulama-ulama besar. Di sinilah para pemuda dari berbagai kepulauan—dari Aceh hingga Ternate, dari Betawi hingga Banjarmasin—bertransformasi dari santri biasa menjadi ulama yang diakui otoritasnya di dunia Islam.

Mengapa Haramain Menjadi Magnet bagi Pelajar Nusantara? Hal itu terjadi karena beberapa faktor, antara lain Keberkahan Haramain. Faktor spiritual Spiritual dan Sunah Nabi. Pertama dan paling mendasar mengapa Haramain menjadi pusat reproduksi ulama Nusantara adalah faktor spiritual. Bagi umat Islam, belajar di dekat Kabah dan Masjid Nabawi memiliki nilai ibadah yang tidak bisa didapatkan di tempat lain.

Rasulullah SAW bersabda: “Satu kali salat di Masjidku ini (Madinah) lebih baik dari seribu kali salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih baik dari seratus ribu kali salat di masjid lain.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan keistimewaan tempat yang luar biasa. Para pelajar Nusantara meyakini bahwa do’a yang dipanjatkan di Haramain lebih mustajab, ilmu yang dipelajari lebih berkah, dan waktu yang dihabiskan untuk belajar di sana akan mendapatkan ganjaran berlipat ganda.

Selain itu, belajar di Haramain juga berarti mengikuti jejak Rasulullah dan para sahabat– Rasulullah SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira, berhijrah dari Makkah ke Madinah, dan membangun peradaban Islam dari dua kota ini. Bagi para pelajar Nusantara, belajar di Haramain adalah bentuk ittiba’ (mengikuti) Sunah Nabi dalam dimensi yang paling konkret. Kedua,  konsentrasi ulama besar dunia Islam di Haramain. Hampir seluruh ulama terkemuka dari berbagai mazhab dan aliran pemikiran bermukim atau setidaknya singgah di Makkah dan Madinah. Hal ini menjadikan Haramain sebagai melting pot*intelektual paling kosmopolitan pada zamannya.

Dalam catatan Azyumardi Azra, pada abad ke-17 hingga ke-18, terjadi gelombang besar ulama Nusantara yang belajar di Haramain. Mereka berguru kepada para ulama besar seperti Ibrahim al-Kurani (w. 1690 M) dan Muhammad al-Samman (w. 1775 M)—dua tokoh yang menjadi poros jaringan keilmuan global saat itu .Di abad ke-19, para ulama Haramain yang menjadi guru favorit pelajar Nusantara antara lain:  Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, (Mufti Syafi’iyyah di Makkah), Syekh Sa’id al-Babasor (ulama hadis terkemuka), Syekh Umar Bajunaid al-Hadram, Syekh Muhammad Ali al-Maliki, Syekh Abdul Karim al-Dagestani.

Keberadaan para ulama besar ini menjadikan Haramain sebagai pusat gravitasi intelektua bagi seluruh dunia Islam. Para pelajar Nusantara tidak perlu pergi ke Kairo, Damaskus, atau Baghdad—cukup bermukim di Makkah dan Madinah, mereka sudah bisa mengakses pemikiran terbaru dari seluruh penjuru dunia Islam.

Alasan ketiga adalah faktor geografis dan politik– berbeda dengan Kairo atau Damaskus yang berada di bawah kekuasaan Ottoman yang jauh, rute menuju Haramain dari Nusantara relatif lebih mudah dilalui—terutama melalui jalur laut menyusuri Samudra Hindia.

Selain itu, Kesultanan Ottoman (yang menguasai Haramain dari abad ke-16 hingga awal abad ke-20) tidak menerapkan kebijakan diskriminatif terhadap pelajar dari Nusantara. Berbeda dengan pemerintah kolonial Belanda yang curiga dan membatasi gerak-gerik para haji, penguasa Ottoman justru menyambut baik kedatangan para pelajar dari berbagai penjuru dunia Islam.

Faktor politik lain yang tidak kalah penting adalah kebijakan kolonial Belanda yang justru kontra-produkti. Semakin Belanda membatasi dan mencurigai para haji, semakin besar semangat para ulama Nusantara untuk tetap pergi ke Haramain—dan di sanalah mereka menemukan jaringan perlawanan terhadap kolonialisme.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo mencatat bahwa para kiai yang pulang haji menjadi motor penggerak pemberontakan di berbagai daerah—dari Banten (1888) hingga Aceh . Ini menunjukkan bahwa Haramain juga berfungsi sebagai “pabrik” kesadaran politik, tidak hanya kesadaran keagamaan.

Jika Haramain adalah pabrik– bagaimana sebenarnya mekanisme produksinya? Berikut adalah tahapan sistematis yang dilalui oleh para pelajar Nusantara: Hijrah dan bermukim dalam durasi panjang. Langkah pertama—dan yang paling krusial—adalah hijrah dan bermukim dalam durasi yang cukup lama– bukan sekadar musim haji yang hanya 40 hari, tetapi bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Data dari berbagai sumber menunjukkan durasi bermukim para ulama Nusantara di Haramain sangat bervariasi: Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Mukhtar Bogor, Syekh Mahfuz at-Tarmasi, Guru Marzuki al-Batawi, Guru Mansur al-Batawi, dan Guru Khalid al-Batawi. (bersambung)

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *