Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
Pertanyaan mendasar timbul:Apa hubungannya peristiwa Adam ini dengan ibadah haji?
Menurut Syari’ati–haji melambangkan penciptaan atau pertaubatan manusia, termasuk kesadaran-dirinya. Di sini nampaknya Syari’ati ingin menjembatani pandangan dunia Barat tentang keterasingan (alienasi). Alienasi_memang menjadi tema utama ketika para cendekiawan, terutama kaum eksistensialis berbicara tentang manusia moderen.
Manusia moderen saat sekarang mengalami Alienasi spiritual dimana kondisi psikologis dan eksistensial di mana seseorang merasa terputus dari Tuhan, nilai-nilai transendental, makna hidup, atau batin mereka sendiri. Hal ini sering kali memicu kehampaan, hilangnya tujuan hidup, dan krisis identitas di tengah modernitas. Fenomena keterasingan rohani ini biasanya muncul akibat beberapa faktor utama:
Modernisasi dan Materialisme: Fokus berlebih pada materi dan kesuksesan duniawi sering mengaburkan kebutuhan batin dan spiritual. Krisis Eksistensial: Munculnya keraguan mendalam akan keberadaan Tuhan atau makna hidup akibat masalah hidup yang bertubi-tubi. Alienasi Digital: Ketergantungan pada teknologi yang mengurangi interaksi bermakna dan memicu keterasingan dari lingkungan sekitar. Dampak dari kondisi alienasi spiritual bervariasi, mulai dari stres kronis, frustrasi, hingga hilangnya pegangan moral.
Alienasi adalah makna yang juga diberikan kepada kejatuhan manusia ke bumi– ketika mereka dicampakkan (dan mencampakkan) Tuhan, mereka bukan hanya terasing dari Tuhan. Mereka terasing dari alam, dari dunia dan — dari diri mereka sendiri. Mereka terlempar ke dunia, tanpa mengetahui ke mana mereka harus pergi. Mereka kehilangan arah. Mereka mengalami keterpisahan dari alam, dari Tuhan, dari sesama manusia, dan dari diri mereka.
Kisah Adam dan Hawa dimaknakan sebagai alienasi oleh para pemikir Barat– namun, para ulama Islam mengenal kisah ini, tetapi tidak memaknakan kisah ini sebagai kejatuhan manusia di bumi. Al-Qur’an tidak menyebutkan kata “jatuh” sekalipun, dalam drama kosmis penciptan manusia kata yang digunakan keluarnya Adam dan Hawa dari Surga, dalam berbagai ayat: (QS. Al-Baqarah: 36, 38; QS. Al-A’raf: 24; dan QS. Thaha: 123), al-Qur’an menyebut kata “Hubuth” (turun, datang, masuk, pindah).
Adam dan Hawa tidak jatuh dari Surga– mereka turun dari padanya atas perintah Tuhan. Mereka “pindah” ke dunia sesuai dengan rencana Tuhan. Maka ketika Syari’ati mengaitkan peristiwa turunnya Adam ke bumi dengan ibadah haji, dia menyatakan, turunnya manusia dari “Ka’bah” ke “Arafah” melambangkan awal penciptaan manusia.
Saat penciptaan manusia berbarengan dengan penciptaan “pengetahuan”. Percikan pertama dari cinta yang memancar dalam perjumpaan antara Adam dan Hawa mendorong mereka untuk saling memahami. Itulah isyarat pengetahuan yang pertama. Adam mengetahui bahwa istrinya memiliki jenis kelamin yang berbeda darinya dan mempunyai asal serta sifat yang sama dengan dirinya sendiri.
Konsekuensinya, dari sudut pandang filosofis, eksistensi manusia sama tuanya dengan eksistensi pengetahuan; dan dari sudut pandang ilmiah, sejarah manusia dimulai dengan pengetahuan. Sungguh mengherankan! Pada saat menunaikan ibadah haji, gerakan pertama dimulai dari Arafah. Wukuf di Arafah berlangsung pada siang hari yang dimulai pada tengah hari tanggal 9 Zulhijjah ketika Matahari memancarkan sinarnya yang paling terik.
Ketetapan ini dimaksudkan agar manusia (jamaah haji) dapat memperoleh kesadaran, wawasan, kemerdekaan, pengetahuan dan cinta pada siang hari– karena Arafah melambangkan fase pengetahuan dan sains, yakni hubungan objektif antara berbagai pemikiran dan fakta-fakta dunia yang ada.
Visi yang jelas sangatlah diperlukan– oleh karena itu yang diperlukan adalah cahaya (siang hari). ‘Arafah sebagai simbol “pengetahuan” digunakan dalam bentuk jamak (QS. Al-Baqarah: 198), kenyataan ini berarti: Realitas dapat dijelaskan dengan cara- cara yang berbeda, walaupun realitas atau kebenaran itu sendiri adalah tunggal.
Untuk menguatkan analisanya itu, Ali Syari’ati — kemudian mengutip hadis; Suatu ketika Nabi saw. duduk bersama para sahabatnya. Beliau saw. menggambar beberapa garis di atas tanah dengan sebatang kayu yang memetakan jalan-jalan yang berbeda untuk menemukan hubungan-hubungan yang ada di antara berbagai fenomena atau jalan-jalan pengetahuan dan pembelajaran.
Sains adalah penemuan “hubungan-hubungan di antara berbagai fenomena”. ‘Arafah bagaikan cermin yang memantulkan seluruh warna, desain dan pola dalam ukuran besar. Alam semesta ini bagaikan cermin yang jika dihadapkan ke dunia (benda-benda duniawi) — memantulkan dan merefleksikan “ilmu fisika” dan jika dihadapkan kepada agama — memantulkan dan merefleksikan “jurisprudensi” (ilmu fiqi). Begitulah seterusnya!
Jadi, Padang Arafah adalah tempat suci yang mengantarkan setiap jamaah haji untuk memulai dan memperbaharui komitmennya dalam mengarungi kehidupan spiritualnya. Suatu komitmen yang terbentuk dari lembah pengetahuan yang dalam; serta sumber-sumber ilmu yang jernih; dan sungai-sungai spiritual yang mengalir deras ke samudera Ma’rifat; berharap untuk bisa bertemu dan dipeluk dalam rengkuhan kasih sayang Allah Sang Penguasa segala Pengetahuan, Dzat yang Maha Berilmu, Maha Bijaksana dan Maha Cinta.
Ubudiyah ‘Arafah bagi orang beriman terhadap Zat Yang Mutlak disembah, harus diletakkan sebagai penghambaan mutlak kepadaNya. Maksudnya, Tauhid dalam penghambaan dirinya, idzikir, do’a padang ‘araf tidak boleh tercampur dengan hal selain-Nya. Kita sebenarnya adalah budak-Nya dimana terdapat tali kekang di leher-leher kita. Kelemahan, kepapaan, kealpaan, dan ketidakmampuan kita, serta bagaimana kita tidak memiliki kuasa untuk meraih apa yang kita cita-citakan tanpa inayahNya; kadang sesuatu sudah diraih namun lepas lagi dari genggaman tangan kita; bagaimana apa yang kita harapkan ternyata tak mampu kita raih; fakta tersebut sebenarnya menunjukkan betapa papanya kita. Telah jelas bahwasanya kita bahkan tidak menguasai dan memiliki diri kita sendiri. Oleh karena itu, sudah pasti ada suatu kekuasaan di atas kita– dan memang manusia seringkali tidak menyadari hakikat ini.
Manusia kadang melakukan kalibrasi atau peneraan dalam frekuensi tertentu, tetapi ketika proses kalibrasi tidak dilakukan dengan tepat, maka dari kanan kiri akan masuk berbagai lintasan pikiran– akan memengaruhi cara berpikir dari seseorang. Oleh karena itu, manusia harus berusaha menemukan suara kebenaran lewat proses kalibrasi yang serius.
Sebelumnya manusia harus menimbang pemikirannya, gagasannya, dan kata-katanya di atas timbangan yang dimiliki oleh sosok-sosok yang memahami nilai hati nurani. Setelah semua ini ditunaikan, lalu jika dalam perjalanannya masih terdapat sekelebat lintasan pikiran yang mengganggu kemurnian penghambaan kita, hal selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah mengharap pengampunan dari-Nya atas kekeliruannya. Jika tidak, maka kita akan dimasuki perasaan telah melakukan semua pekerjaan dengan sempurna, dimana ia berada pada keadaan bertentangan dengan kesadaran untuk menghamba.
Ketika Wukuf di Arafah, para jama’ah haji berdo’a, dzikir dan membaca al-Qur’an menumpahkan segala isi perasaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam sengatan dan hangatnya cahaya siang. Akan tetapi di saat yang sama, setan membisikkan godaan dengan memuji: Sungguh kamu telah melakukan penghambaan yang baik.” Jika lintasan pikiran seperti itu (bangga berbuat baik) muncul di dalam hati, segeralah jawab dengan jawaban: “Wahai Allah, satu-satunya Zat yang patut disembah, sungguh kami tidak mampu menghamba dengan sempurna! Wahai Allah, Zat yang namanya diagungkan oleh makhluk bumi dan langit, sungguh kami tidak mampu men-dzikir-kan NamaMu dengan layak! Wahai Tuhanku yang harusnya dipuja-puji dengan segala macam bahasa, sungguh kami tidak mampu bersyukur kepadaMu dengan baik! Wahai Allah, Zat yang Maha Suci dari segala kekurangan, sungguh kami tak mampu bertasbih dan mensucikan NamaMu dengan baik!”.
Jawaban ini bagaikan palu godam– dengannya kita mennghantam lintasan pikiran yang tidak diridhoi olehNya hingga dia tidak mampu lagi menegakkan tulang punggungnya. Namun, walaupun kita telah menghantamnya dengan palu godam terbesar, setan bagaikan makhluk bernyawa seribu, maka perlu diketahui dan waspada bahwasanya godaan-nya akan lewat melalui waswas dan nafsu ammarah serta dorongan nafsu sahwat, hal ini senantiasa menghantui dan siap menerkam di tempat dan waktu yang tak terduga.
Demikian siaganya mereka, bahkan di saat kita Tawaf di Kabah; berdoa wukuf di Arafah; bermalam di Muzdalifah; dan saat melempar jumroh di Mina sekalipun. Setan dan nafsu tidak pernah beristirahat; mereka selalu berusaha membuat kaki kita tergelincir. Oleh karena sebab itulah, dalam Al Qur’anul Karim diperintahkan: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu…” (QS Hud 11: 112).
Pada Surat Al-Baqarah (2) ayat 197 Allah juga menegaskan bahwa ada tiga larangan dalam melaksanakan ibadah haji berkaitan dengan sisi batin manusia dan spiritual, yaitu; tidak boleh rafats, tidak boleh fusuuq, dan tidak boleh jidaal.
Allah menempatkan rafats pada urutan pertama karena memang persoalan pornografi dan pornoaksi dengan berbagai variannya menjadi persoalan individual dan sosial tersendiri dan ini lekat dengan kehidupan dan kebutuhan dasar manusia. Tarikan ke arah itu sangat besar sehingga diperlukan self-controlling (kontrol diri) yang kokoh.
Fusuuq diartikan dengan penyakit-penyakit batin yang dapat mencederai ikatan sosial. Fusuuq dapat memutus mata rantai persaudaraan– Fusuuq dapat mewujud dalam bentuk kesombongan. Kesombongan muncul karena berbagai hal, misalnya; karena ilmu, karena kekayaan, karena jabatan, karena kecantikan. Muara dari hal tersebut adalah perasaan lebih baik dan menganggap rendah orang lain. Fuusuq juga mewujud melalui sifat buruk sangka, dengki, curiga dan iri hati.
Jidaal diartikan sebagai perdebatan dengan tujuan untuk menjatuhkan rekan bicara. Jidaal muncul karena lemahnya kesabaran sehingga berbantah-bantahan dan saling cemooh dalam berbicara– untuk urusan ketika kepentingan pribadi dan kelompok lebih dominan, maka lahirlah jidaal. Jidaal senantiasa abai dengan orang lain dan merasa terganggu dengan hadirnya orang lain. Jidaal berujung pada tindakan saling mengumpat, serta melahirkan pertengkaran dan permusuhan. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
