Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*
Pesantren adalah institusi pendidikan Islam tertua di Nusantara– lahir jauh sebelum ada Kemendikbud, lahir saat baca-tulis masih barang mewah. Dari Surau kecil di pinggir sungai sampai kompleks moderen berhektar-hektar, pesantren telah melahirkan ulama, negarawan, hingga pengusaha– namun hari ini pesantren tidak lagi berjalan sendirian– berada di tengah arus dinamika: sekolah Islam terpadu, madrasah unggulan, sekolah berbasis Cambridge, hingga platform belajar online. Persaingan ketat– orang tua punya banyak pilihan. Pertanyaannya: di mana posisi pesantren di peta pendidikan Islam Indonesia 2026.
Dinamika ini membawa 3 tantangan sekaligus 3 kekuatan unik pesantren. Pertama, tantangan kurikulum dan sertifikasi. Negara menuntut standar: ijazah, akreditasi, kurikulum merdeka. Sementara ruh pesantren ada pada kitab kuning, sorogan, bandongan, dan ngaji malam. Jika pesantren kaku menolak standar, lulusannya akan sulit kuliah atau kerja formal. Jika pesantren total ikut model sekolah umum, ia kehilangan DNA.
Jawabannya bukan memilih, tetapi mengintegrasi. Pesantren Salaf moderen seperti Gontor, Lirboyo, Tebuireng sudah membuktikan: diniyah 6 jam sehari tetap jalan, tetapi ditambah bahasa, IPA, IPS, dan IT. Santri hafal Alfiyah, sekaligus lolos SNBT. Inilah kurikulum hibrida– kaki mengakar di kitab kuning, kepala menatap kompetensi abad 21.
Kemenag dan Kemendikdasmen harus memberi ruang. Akreditasi jangan hanya ukur gedung dan rasio guru-murid. Ukur juga– berapa santri yang khatam kitab, berapa yang hafal Quran, berapa yang punya adab. Karena mutu pesantren tidak bisa diukur hanya dengan angka. Kedua— tantangan relevansi sosial. Dahulu, lulusan pesantren cukup jadi kyai kampung, imam masjid, atau guru ngaji. Kini masyarakat butuh lebih: dai yang paham media, ustadz yang bisa bikin konten, kyai yang paham hukum siber dan ekonomi digital. Jika pesantren hanya mencetak ahli fiqih klasik — akan dianggap tidak nyambung zaman.
Di sinilah dinamika justru jadi peluang– Pesantren punya laboratorium paling lengkap: asrama 24 jam. Di sanalah adab ditempa, kepemimpinan dilatih, kemandirian diuji. Sekolah umum 6 jam pulang. Pesantren 24 jam menempa karakter. Ini nilai jual yang tidak bisa dibeli platform online mana pun.
Pesantren Jombang, Quantum Al-Akhyar, Darul Quran, dan banyak pesantren entrepreneur sudah mulai: santri diajarkan coding, desain, agribisnis, sambil tetap ngaji Ihya. Hasilnya: alumni yang bisa buka startup halal, bukan hanya buka pengajian. Ketiga, tantangan regenerasi kyai. Kyai adalah jantung pesantren–tetapi beban kyai hari ini luar biasa: ngajar, ngurus santri, ngurus lembaga, ceramah, medsos– sementara regenerasi jalan di tempat. Banyak anak kyai memilih kuliah umum dan tidak mau nyantri lagi.
Pesantren harus berani berbenah: manajemen profesional, pembagian tugas jelas, kesejahteraan guru dijamin. Kyai tidak bisa lagi jadi satu orang semua urusan. DiIa harus jadi nahkoda yang ditemani tim kapten. Majelis Tarjih Muhammadiyah, PBNU, dan forum kyai muda perlu duduk bersama merumuskan Peta Jalan Kyai 2030– agaimana melahirkan kyai yang alim, melek teknologi, sekaligus sehat mental.
Di tengah semua dinamika itu, pesantren punya 3 kekuatan yang tidak dimiliki model lain: Sanad, asrama, dan adab. 1. Sanad: mata rantai keilmuan bersambung ke Rasulullah. Ini jaminan otentisitas. Sekolah online tidak punya ini. 2. Asrama: pendidikan 24 jam. Karakter ditempa lewat bangun malam, antre makan, kerja bakti. Ini pendidikan hidden curriculum paling kuat. 3. Adab– sebelum berilmu, beradablah dulu– ini antitesis dari budaya viral tanpa adab hari ini– karena itu, pesantren tidak sedang terancam. Pesantren sedang ditantang untuk naik kelas– dari lembaga tradisional menjadi lembaga adaptif. Dari pencetak santri menjadi pencetak pemimpin peradaban.
Pemerintah, masyarakat, dan alumni punya tugas– Pemerintah jangan hanya beri bantuan fisik. Beri juga kepercayaan dan regulasi yang adil. Masyarakat jangan hanya titip anak saat nakal– titip juga doa dan dukungan. Alumni jangan hanya datang saat haul. Pulanglah, ajarkan apa yang kamu kuasai di dunia luar.
Pesantren adalah benteng terakhir akhlak bangsa– selama masih ada kyai yang ikhlas, santri yang ngaji dengan adab, dan kitab kuning yang dibuka tiap malam, maka pesantren akan tetap relevan. Tidak tenggelam oleh arus dinamika– justru akan menjadi pemandu arus, agar pendidikan Islam Indonesia tidak hanyut ke arah sekularisme kering atau literalisme kasar. Wallahua’lam bi al-shawab.
*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editior: Jufri Alaktiri
