Renungan Malem Jemuwah: Dialog Tradisi Intelektual dan Teori Quantum ( bag-1)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Dialog antara tasawwuf (tradisi intelektual)  dan fenomena kuatum merupakan wacana intelektual kontemporer yang menantang paradigma materialisme modern. Penemuan fenomena kuatum, seperti efek pengamat (observer effect), mengindikasikan peran sentral kesadaran dalam pembentukan realitas yang beresonansi dengan prinsip-prinsip spiritual Islam– namun dialog ini rentan terjebak pada simplifikasi berlebihan:

Sebagai ilustrasi dialog tentang Kiamat; ketakutan massal akan terjadi kiamat dirawat (dilestarikan) selama berabad-abad, seolah-olah seluruh alam semesta akan mendadak padam menjadi ketiadaan mutlak. Jika kita mau berpikir sedikit lebih jernih dan berani, kita harus membedakan antara akhir dari eksistensi (kehidupan) dan akhir dari sebuah ekosistem.

Jika berbicara eksistensi berpijak pada prinsip dasar bahwa eksistensi adalah segala hidup yang ada, maka kiamat dalam arti “akhir dari segala sesuatu” itu mutlak tidak ada (tidak akan terjadi), karena eksistensi tidak mengenal kata akhir– karena waktu sebenarnya tidak nyata, karena yang ada hanyalah perubahan yang terus bergerak. (Pendekatan matematis gravitasi kuantum loop, yang mengusulkan bahwa struktur ruang dan waktu terbuat dari jaringan potongan diskrit yang sangat kecil, atau loop. Salah satu aspek yang luar biasa dari gravitasi kuantum loop adalah bahwa  tampaknya menghilangkan waktu sepenuhnya.)

Eksistensi selalu mencatat dirinya dalam sebuah sistem utuh tanpa membutuhkan pengamat eksternal. Seluruh realitas dan rekaman informasi tersebut ada secara simultan di dalam keseluruhan yang merujuk pada dirinya sendiri. Jadi, mengharapkan seluruh jalinan eksistensi lenyap menjadi nol adalah kemustahilan logika. Keberadaan tidak bisa dihapus, kehidupan hanya berganti format.

Kiamat

Dalam konteks berdialaog dengan keyakinan Kiamat adalah contoh nyata– di sinilah letak batas ruang lingkupnya yang sering disalahpahami. Narasi keimanan dan keyakinan didesain dengan pusat pemikiran yang sangat spesifik: kehidupan manusia dan panggungnya di bumi. Dalam konteks biosfer, bumi tempat kita berpijak saat ini, kiamat jelas sepenuhnya nyata dan tidak bisa dibantah– karena Bumi memiliki masa kedaluwarsa, fisik planet Bumi ini dapat hancur total. Peradaban kita bisa punah dalam hitungan detik, entah karena hantaman asteroid, ketidakseimbangan energi yang ekstrem, atau perang nuklir buatan manusia sendiri.

Bagi spesies manusia, punahnya kehidupan di bumi adalah akhir dari segalanya– kontrak biologis kita selesai, panggung ujian kita runtuh, dan biosfer kita dihancurkan sampai rata. Dalam kacamata ini, kiamat adalah kepastian linier.

Sisi Keangkuhan Eksistensial Manusia yang jarang disadari adalah ego manusia yang terlampau besar. Kita sering kali menganggap bahwa ketika peradaban kita berakhir, maka seluruh alam semesta ikut gulung tikar dan ikut kiamat. Padahal, hancurnya bumi hanyalah matinya satu piksel kecil di dalam layar raksasa kosmos yang amat luas.

Alam semesta di luar sana akan tetap berjalan, tetap merekam, dan tetap melahirkan bintang-bintang baru tanpa peduli apakah manusia masih bernapas atau sudah kembali menjadi debu sejarah. Artinya,kiamat bukan tanda bahwa sang Pencipta yang kehabisan energi atau dengan sengaja menghancurkan eksistensi menjadi tiada.  Kiamat adalah penutupan buku tugas untuk satu planet bernama Bumi. Tubuh bumi dihancurkan, tetapi semestanya tetap ada. Jadi, tidak perlu panik berlebihan, dengan kesadaran manusia akan musnah total menjadi nol?. Rawat saja kualitas hidup-mu, vitalitas, dan kapasitas diri-mu selama format biologis di bumi ini masih berjalan. Disini muncul pertanyaan, Bagaimana sudut pandang melihat hari akhir? Apakah kiamat adalah kehancuran total seluruh semesta, atau sekadar pergantian babak bagi umat manusia di bumi? (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *