Renungan Dhino Jemuwah: Dialog Tradisi Intelektual dan Teori Quantum (bag-2)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Tradisi Intelektual Tasawwuf (umumnya dikenal sebagai Sufisme) dan teori Kuantum memiliki beberapa kesamaan (keselarasan)—misalnya para Sufi dan Fisikawan memiliki pandangan dunia yang sangat mirip.  Berbeda dengan pandangan dunia mekanistik Barat, para Sufi menganggap semua hal dan peristiwa yang dirasakan oleh indra sebagai saling terkait dan terhubung, aspek atau manifestasi yang berbeda dari realitas tertinggi yang sama.

Bagi mereka, pencerahan adalah pengalaman menyadari kesatuan dan keterkaitan timbal balik semua hal, melampaui gagasan tentang diri individu yang terisolasi, dan mengidentifikasi diri mereka dengan realitas tertinggi. Ilmu pasti diungkapkan dalam bahasa matematika yang sangat canggih, sedangkan Sufisme didasarkan pada meditasi dan menegaskan bahwa wawasan para Sufi tidak dapat diungkapkan secara verbal. Realitas, sebagaimana dialami oleh para Sufi, sepenuhnya tidak pasti dan tidak terdiferensiasi.  Mereka para sufi tidak melihat akal sebagai sumber pengetahuan mereka, tetapi akal hanya digunakan untuk menganalisis dan menafsirkan pengalaman pribadi mereka.

Kesamaan antara eksperimen ilmiah dan pengalaman Sufi mungkin tampak mengejutkan karena sifat pengamatan yang sangat berbeda. Fisikawan melakukan eksperimen yang melibatkan kerja tim yang rumit dan teknologi yang sangat canggih; Sufi memperoleh pengetahuan mereka murni melalui introspeksi, tanpa mesin, dan dalam privasi dzikir (meditasi). Mengulangi eksperimen dalam fisika partikel dasar membutuhkan pelatihan bertahun-tahun; pengalaman Sufi yang mendalam umumnya membutuhkan pelatihan bertahun-tahun di bawah bimbingan seorang guru yang berpengalaman.

Kompleksitas dan efisiensi peralatan teknis fisikawan sebanding, jika tidak terlampaui  oleh kesadaran Sufi, baik fisik maupun spiritual, saat dalam dzikir yang mendalam. Dengan demikian, para ilmuwan dan Sufi telah mengembangkan metode pengamatan alam yang sangat canggih yang tidak dapat diakses oleh orang awam.

Kiamat adalah fondasi keimanan akan adanya hari kebangkitan manusia di alam akhirat (kehidupan setelah mati), yang berdampak pada kesadaran bahwa kehidupan di dunia ini memliki tujuan dan arah yang pasti menuju Tuhan  (inna-lillahi wa-inna ilaihi roji’uun). Pertanyaan-pertanyaan yang sering berada di benak kita tentang kiamat/kematian: Bagaimanakah kesadaran kita setelah kita mati nanti? Apakah kesadaran kita akan lenyap mengikuti berhentinya fungsi otak kita? Atau kesadaran tersebut ikut hilang ketika tubuh kita sudah hancur?

Dialog di kalangan tradisi intelektual banyak yang menjelaskan bahwa tubuh kita hanyalah materi saja yang pada saat kita mati nanti akan hancur, namun ruh kita tetap ada dan tidak hancur, ruh itulah yang merupakan kesadaran kita (manusia)– namun bagaimana menurut penjelasan ilmuwan sains sendiri? Belum lama sebuah buku yang fenomenal berjudul  Biocentrism: How  Life and Consciousness are the Keys to Understanding the True Nature of the Universe ditulis Robert Lanza seorang ahli Kedokteran di bidang regeneratif sel dan merupakan juga seorang direktur dari Advanced Cell Company yang bergerak dalam bidang penelitian biologi.

Buku tersebut menjelaskan gagasannya bahwa kehidupan tidak berakhir pada saat tubuh mati–  kehidupan akan tetap berlanjut ketika tubuh kita mati. Demikian gagasan yang menggemparkan di kalangan para ilmuwan, Robert Lanza tidak memiliki keraguan dalam gagasannya, bahwa hal tersebut adalah hal yang sangat mungkin terjadi.

Biocentrism menyatakan gagasan bahwa kematian itu pada dasarnya tidak ada– kematian hanyalah ilusi saja yang muncul dari pikiran manusia itu sendiri. Manusia percaya bahwa kesadaran mereka cepat atau lambat akan lenyap ikut bersamaan ketika tubuh mereka hancur pada saat mereka mati. Menurut Lanza dalam teori  Biocentrism — kesadaran manusia ada di luar batasan ruang dan waktu. Dalam lal ini kesadaran dapat berada dimana saja, bisa diluar maupun di dalam tubuh manusia itu.  Hal ini cocok dengan hukum-hukum mekanika kuantum, yang menurutnya suatu partikel dapat hadir dimana saja dan kapan saja, bahkan di ruang hampa sekalipun, jumlah partikel-partikel tersebut tidak terhitung jumlahnya.

Jadi, di lain tempat selain alam semesta yang di huni manusia terdapat alam semesta yang lain — alam semesta tersebut eksis secara bersamaan dengan alam semesta yang dihuni oleh manusia. Dalam alam semesta tersebut terdapat suatu skenario kehidupan dimana pada suatu alam semesta tubuh bisa saja mati, kemudian hancur terurai– namun kesadaran manusia berpindah ke alam semesta yang lain.

Hal ini berarti seseorang yang sudah mati melakukan suatu perjalanan ke alam semesta yang lain bukan ke Surga atau Neraka (Surga dan Neraka merupakan atribut kehidupan), melainkan dunia yang sama pernah dihuni semasa hidupnya, tetapi lain halnya dengan yang sebelumnya, disini manusia hidup dan seterusnya tiak terhingga. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *