Probiotik sebagai Future Foods, Lebih Sekadar Yoghurt dan Produk Susu Lainnya

Oleh: Prof.Dr. Ir. Nur Hidayat, MP*

Probiotik — mungkin sudah tidak asing lagi dalam pendengaran kita. Kata probiotik selalu kita hubungkan dengan mikroba baik yang ada dalam produk susu. Tidak salah, karena itu yang memang kita jumpai, meskipun kini sudah ada juga yang berbentuk serbuk.

Jika selama ini kita menganggap probiotik hanya ada dalam botol yoghurt atau produk susu, anggapan itu ternyata konvensional. Melalui kemajuan teknologi pangan, mikroba baik ini telah bermigrasi ke dalam berbagai matriks makanan yang lebih selaras dengan gaya hidup kontemporer yang dinamis.

Kini, manfaat mikrobioma dapat ditemukan dalam sereal sarapan, es krim yang memanjakan lidah, jus buah segar, cokelat premium, hingga salad probiotik. Ekspansi ini bukan sekadar inovasi rasa, melainkan respons cerdas terhadap kebutuhan konsumen yang menginginkan manfaat kesehatan tanpa harus mengorbankan kenyamanan atau kenikmatan kuliner. “Produk berbasis probiotik muncul sebagai  future foods  yang dirancang untuk memberikan manfaat lebih dari sekadar nutrisi dasar, menawarkan terapi nutrisi yang efektif dan bioterapi yang menjanjikan.”

Dalam semesta probiotik, bakteri asam laktat (LABs) terutama dari genus Lactobacillus telah lama mendominasi–nNamun, ada juga yang berasal dari khamir (yeast) yaitu Saccharomyces cerevisiae var. boulardii. Khamir probiotik ini ditemukan pertama kali pada tahun 1923 oleh ilmuwan Prancis, Henri Boulard, di Asia Tenggara. Dia mengamati masyarakat lokal menggunakan kulit buah leci dan manggis untuk mengatasi masalah pencernaan, yang kemudian membawanya pada penemuan mikroorganisme  ”digdaya”  ini.

Keistimewaan ragi ini terletak pada ketahanannya yang luar biasa. Berbeda dengan banyak bakteri yang menyerah pada lingkungan ekstrem,  S.boulardii  mampu bertahan melewati “badai” asam lambung dengan integritas yang tetap terjaga. Kemampuan navigasinya yang mumpuni di saluran pencernaan menjadikannya komponen yang tidak ternilai dalam formulasi pangan fungsional masa depan, memberikan dimensi baru pada efisiensi fermentasi dan kedalaman profil rasa.

Probiotik dan kesehatan mental

Di saat banyak orang mudah terguncang emosinya, peran probiotik menjadi sangat relevan karena kemampuannya memproduksi senyawa neuroaktif yang menjaga keseimbangan psikologis seseorang. Psikobiotik bekerja melalui sistem komunikasi dua arah yang kompleks antara saluran pencernaan dan otak, yang dikenal sebagai poros mikrobiota-usus-otak (microbiome-gut-brain axis).

Bagaimana mekanisme psikobiotik membantu kesehatan mental? Sistem komunikasi dua arah: Psikobiotik memanfaatkan jalur saraf,endokrin, imun, dankoneksi humoral untuk mengirimkan sinyal antara usus dan otak. Komunikasi neurohormonal ini membantu tubuh memitigasi stres dan menjaga homeostasis.

Produksi Metabolit Neuroaktif: Bakteri baik ini mampu menghasilkan senyawa neuroaktif yang memengaruhi fungsi otak dan perilaku. Contohnya, beberapa galur probiotik dapat memengaruhi zat seperti gamma-aminobutyric acid (GABA) dan dopamin. Selain itu, mereka menghasilkan asam lemak rantai pendek (SCFA) yang berkaitan dengan peningkatan fungsi kognitif.

Modulasi Poros HPA: Psikobiotik membantu menyeimbangkan bakteri usus yang kemudian memodulasi poros hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA), yang merupakan pusat kendali respons stres tubuh. Regulasi peradangan dan stres oksidatif: Psikobiotik bekerja dengan mengurangi sitokin inflamasi (pemicu peradangan) dan stres oksidatif di dalam tubuh. Mereka juga membantu menekan peradangan saraf (neuroinflammation) yang sering dikaitkan dengan gangguan suasana hati.

Dukungan faktor neurotropik: Penggunaan psikobiotik dapat meningkatkan faktor neurotropik seperti brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan sel saraf. Perlindungan neuron: Mekanisme lainnya termasuk menghambat apoptosis (kematian sel terprogram) dan melindungi neuron dopaminergik, yang secara kolektif membantu mengurangi risiko penyakit neurodegeneratif dan meningkatkan performa kognitif.

Dari uraian di atas, siapa sangka kalau probiotik memiliki beberapa manfaat bagi kejiwaan seseorang? Terbukti,  1. Probiotik dapat menyeimbangkan bakteri usus untuk meredakan gangguan emosional- depresi dan kecemasan. 2. Mengoptimalisasi fungsi kognitif:  Melindungi neuron dopaminergik dan meningkatkan performa otak. 3. Meregulasi suasana hati (mood):  Memengaruhi produksi serotonin dan metabolit neuroaktif. 4. Mereduksi neuroinflamasi:  Menekan sitokin inflamasi yang dapat mengganggu kerja sistem saraf pusat.

Disini nampak bahwa probiotik bukan hanya memperbaiki atau membantu pencernaan kita, namun juga dapat memperbaiki kesehatan mental. Masa depan nutrisi bukan lagi sekadar tentang memuaskan rasa lapar, melainkan tentang memberdayakan ekosistem mikroskopis yang hidup di dalam diri kita.  Dengan kemajuan penelitian  probiotik  dan pemahaman yang kian mendalam tentang koneksi usus-otak, probiotik akan menjadi elemen yang tak terpisahkan dari masyarakat yang sadar akan kesehatan jangka panjang.

Pertanyaannya, apakah Anda akan memilih produk yang hanya lezat di lidah, atau yang mampu bekerja secara sinergis untuk menjaga kesehatan Anda secara  paripurna?

*Dosen Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya dan Anggota PERMI (Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia)

Editor: Ries Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *