Keikhlasan dan Daya Kritis Santri: Menjaga Dua Sayap Peradaban

Profesor Sejarah Peradaban UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)

Oleh: Murodi al-Batawi*

Dalam pusaran dinamika zaman– pesantren berdiri sebagai benteng peradaban yang tidak pernah using namun, di tengah gempuran arus informasi dan kompleksitas persoalan kebangsaan, muncul pertanyaan mendasar: cukupkah bekal keikhlasan saja bagi santri untuk mengarungi samudra kehidupan? Ataukah santri juga perlu memiliki daya kritis yang tajam sebagai instrumen membaca realitas?

Dua Elemen: Pesantren dan Santri

Dua elemen ini—keikhlasan dan daya kritis—sering diposisikan sebagai kutub yang bertentangan. Keikhlasan dianggap khas dunia spiritual yang pasif– sementara daya kritis diasosiasikan dengan sikap memberontak yang melawan arus– namun, tradisi pesantren yang autentik justru menunjukkan bahwa keduanya adalah dua sayap yang harus sama-sama kuat agar burung peradaban dapat terbang tinggi. KH. Imam Zarkasyi, melalui konsep Panca Jiwa–menempatkan keikhlasan sebagai fondasi tertinggi, sementara jiwa kebebasan memberikan ruang bagi santri untuk berpikir kritis dan kreatif—dua kutub yang disatukan dalam bingkai tanggung jawab moral dan ketakwaan.

Keikhlasan: Akar Spiritual yang Menjaga Ketulusan

Keikhlasan, sebagaimana tertanam dalam Panca Jiwa pesantren, adalah kemampuan berbuat semata-mata karena Allah– jauh dari pamrih materi atau pengakuan sosial. Dalam pandangan KH. Imam Zarkasyi, keikhlasan adalah sepi ing pamrih —konsistensi antara hati, ucapan, dan perbuatan, di mana seseorang mengabdikan seluruh potensi dirinya hanya untuk mencari ridha Ilahi. Nilai inilah yang melahirkan ketenangan jiwa, kekuatan batin, dan otentisitas sikap yang menjadi teladan di tengah masyarakat.

Di pesantren tradisional– keikhlasan terpancar dari pengabdian kyai yang tanpa pamrih mendidik santri, dan dari kesungguhan santri menimba ilmu di tengah keterbatasan fasilitas. Di pesantren moderen, keikhlasan menjadi energi spiritual yang menggerakkan manajemen dan profesionalisme tanpa kehilangan makna pengabdian. Tanpa keikhlasan, pendidikan pesantren kehilangan ruhnya dan berubah menjadi sekadar mesin produksi lulusan tanpa makna. Ikhlas bukan berarti tidak menghitung; ikhlas adalah memaknai setiap tindakan sebagai ibadah, sehingga kesungguhan tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas.

Daya Kritis: Pisau Analisis yang Menjaga Kemandirian Berpikir

Keikhlasan saja tidak cukup. Santri juga dituntut untuk memiliki daya kritis yang tajam. Daya kritis ini bukan semata kemampuan menemukan kesalahan, melainkan keterampilan untuk bertanya, menganalisis, dan mengevaluasi realitas secara jernih. Dalam khazanah pesantren, kemampuan ini sudah lama dikenal melalui tradisi muthala’ah (membaca dan merenungkan) dan bahsul masail (diskusi mendalam tentang isu-isu aktual). Santri tidak diajarkan untuk menerima dogma secara buta, melainkan diajak memahami teks dalam konteksnya serta menghubungkannya dengan realitas kekinian.

Di sinilah jiwa kebebasan dalam Panca Jiwa berperan penting. Kebebasan di pesantren bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan untuk menentukan pilihan, mengaktualisasikan kemampuan, dan menentukan masa depan, tetapi tetap dalam koridor syariat dan tanggung jawab moral– dengan landasan ini, santri dapat mengembangkan sikap kritis yang konstruktif—tidak merusak, tetapi membangun; tidak memberontak, tetapi memperbaiki. Daya kritis menjadikan santri sebagai agen perubahan yang tidak hanya pasrah pada keadaan, tetapi juga mampu membaca tanda-tanda zaman dan memberikan solusi bagi persoalan umat.

Harmoni Dua Sayap: Menjaga Keseimbangan Peradaban

Jika keikhlasan adalah sayap kanan yang membawa ketenangan dan ketulusan, maka daya kritis adalah sayap kiri yang membawa keberanian dan kecerdasan. Keduanya harus bergerak seirama. Dalam psikologi kognitif, keikhlasan merupakan fondasi kesadaran transendental, sedangkan berpikir kritis adalah puncak fungsi kognitif yang terarah. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kebermaknaan hidup tinggi—yang salah satunya ditopang oleh keikhlasan—cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi dan orientasi tujuan yang jelas, yang pada gilirannya memperkuat kualitas berpikir kritisnya. Sebaliknya, daya kritis yang tidak dilandasi keikhlasan bisa berubah menjadi sikap sinis, destruktif, dan kehilangan arah moral.

Pesantren yang sehat adalah pesantren yang mampu menyeimbangkan keduanya. Santri tidak hanya diajarkan untuk ikhlas menerima, tetapi juga ikhlas untuk berpikir jernih demi mencari kebenaran. Santri tidak hanya diajak mengkritik, tetapi juga diajak mengkritik dengan niat membangun—dilandasi cinta dan kepedulian terhadap sesama. Inilah yang membedakan santri sebagai pewaris tradisi yang hidup (living tradition), bukan sebagai penjaga dogmatisme yang beku. Sebagaimana disampaikan Kementerian PPPA, santri didorong untuk kritis dalam arti mengambil hikmah dari setiap perbedaan, bukan sekadar menyalahkan, serta mengapresiasi kearifan lokal dan moderasi beragama .

Relevansi bagi Indonesia Masa Kini

Di era digital yang penuh distorsi informasi dan polarisasi, bangsa ini sangat membutuhkan generasi yang tidak hanya ikhlas, tetapi juga kritis. Santri yang memiliki dua sayap ini akan menjadi benteng moral sekaligus motor perubahan sosial. Mereka tidak mudah terprovokasi, tidak menerima informasi secara mentah, tetapi juga tidak kehilangan sikap santun dan hormat dalam menyampaikan gagasan. Mereka mampu menjadi penyeimbang antara tradisi dan modernitas, antara spiritualitas dan rasionalitas.

Keikhlasan dan daya kritis dengan demikian,– bukanlah dua hal yang dipertentangkan, melainkan dua kekuatan yang saling menguatkan. Di tengah kehidupan yang kompleks, santri membutuhkan keikhlasan agar tetap teguh pada prinsip dan daya kritis agar tetap relevan menjawab tantangan zaman. Ketika kedua sayap ini terbentang kuat, pesantren akan tetap menjadi mercusuar peradaban yang menerangi jalan bangsa menuju Indonesia yang berdaulat, berkeadilan, dan beradab. Wallaua’lambishawab.

*Profesor Sejarah Peradaban UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *