Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Mumpung mimpi tidak dilarang– mari kita membayangkan Indonesia pada saatnya menjadi calon pusat “gravitasi” ekonomi, politik, seni, budaya, dan teknologi dunia. Meskipun, kondisi Indonesia saat ini masih jauh dari yang diimpikan tadi. Terutama, karena adanya potensi berbagai ancaman krisis, baik sosial, politik, ekonomi dan lain-lain– sehingga, bagi sebagian orang, membayangkan Indonesia kedepan menjadi pusat daya tarik sekaligus kiblat dunia dianggap terlalu romantis dan utopis–tetapi, ingat, sejarah selalu dimulai dari bangsa yang berani membayangkan dirinya lebih besar dari keadaan aktualnya. Indonesia sesungguhnya bukan bangsa kecil. Indonesia hanya sering berpikir terlalu kecil tentang dirinya sendiri.
Dari sisi demografi– Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Per tahun 2026, populasi Indonesia tercatat sekitar 287 juta jiwa. Ini tentu bisa menjadi modal peradaban– dengan jumlah manusia sebesar itu, Indonesia memiliki pasar domestik raksasa, tenaga kerja besar, basis kreativitas luas, dan potensi kelas menengah yang bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Dari sisi ekonomi, Indonesia juga bukan lagi pemain pinggiran. Data Bank Dunia menunjukkan Indonesia termasuk ekonomi besar dunia jika dilihat dari ukuran Produk Domestik Bruto (PDB) berbasis paritas daya beli.
Berbagai proyeksi internasional selama ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu ekonomi besar masa depan, dengan syarat mampu menjaga stabilitas politik, meningkatkan kualitas SDM, dan menguasai teknologi– dari sisi geografis, Indonesia berada di titik yang sangat strategis, antara dua samudra, Hindia dan Pasifik; serta dua benua, Asia dan Australia.
Posisi ini menjadikan Indonesia bukan hanya negara kepulauan, tetapi simpul geopolitik dunia. Sejumlah kajian menyebut perairan Indonesia berada di jalur laut strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik– dengan kata lain, Indonesia bukan sekadar “dilewati” dunia, tetapi berpotensi menjadi pengatur irama lalu lintas ekonomi, energi, logistik, keamanan, dan diplomasi kawasan Indo-Pasifik. Dari sisi sumber daya alam, Indonesia memiliki modal yang luar biasa. Dalam isu transisi energi, misalnya, Indonesia menjadi pemain penting dalam rantai pasok mineral kritis, terutama nikel. Sebuah laporan menyebutkan, Indonesia menguasai porsi sangat besar dalam cadangan dan produksi nikel dunia, yang menjadikannya aktor kunci dalam industri baterai, kendaraan listrik, dan teknologi energi.
Indonesia juga mulai mengidentifikasi potensi mineral strategis lain seperti rare earth, tungsten, tantalum, dan antimony yang penting untuk teknologi, pertahanan, kendaraan listrik, dan perangkat elektronik moderen– namun, kekayaan alam saja tidak cukup. Banyak negara kaya sumber daya alam justru jatuh menjadi negara yang dikutuk oleh kekayaannya sendiri.
Kekayaan alam harus naik kelas menjadi kekayaan ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan nilai tambah. Nikel tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Laut tidak boleh hanya menjadi ruang tangkap ikan. Hutan tidak boleh hanya dilihat sebagai kayu.
Bambu, rempah, tanaman obat, pangan lokal, energi terbarukan, hingga keanekaragaman hayati harus menjadi basis industri hijau, farmasi, pangan masa depan, dan material ramah lingkungan. Indonesia juga memiliki kekayaan ekologis yang sulit ditandingi. Hutan Indonesia mencakup sekitar 88,5 juta hektare dengan kekayaan biodiversitas yang besar.
Indonesia juga berada di kawasan Coral Triangle— salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia, yang dikenal sebagai “Amazon of the sea” karena kekayaan terumbu karang, ikan karang, dan ekosistem lautnya. Ini berarti Indonesia bukan hanya calon pusat ekonomi, tetapi juga calon pusat peradaban ekologis dunia—asal pembangunan tidak merusakfondasi alam yang justru menjadi keunggulannya– dari aspek budaya, Indonesia juga memiliki banyak kearifan lokal yang diwariskan para leluhur Nusantara. Salah satunya, memperlakukan alam sebagai ibu, sebagai ruang hidup, dan titipan.
Dunia masa depan tidak hanya membutuhkan negara yang kuat secara ekonomi. Dunia juga membutuhkan bangsa yang memiliki jiwa. Indonesia juga sudah memiliki pengakuan dunia sebagai negara dengan berbagai warisan budaya takbenda seperti batik, wayang, keris, angklung, tari Saman, noken, pinisi, pencak silat, pantun, gamelan, dan jamu dalam daftar warisan budaya takbenda. Ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan bangsa yang miskin simbol, miskin estetika, atau miskin falsafah. Indonesia justru menyimpan bahasa budaya yang bisa berbicara kepada dunia.
Ini penting karena pusat gravitasi dunia hari ini tidak lagi hanya ditentukan oleh minyak, baja, dan mesin berat, tetapi juga oleh data, kecerdasan buatan, talenta digital, ekonomi kreatif, platform teknologi, dan ekosistem. Maka, mimpi Indonesia menjadi kiblat dunia bukan mimpi kosong. Syaratnya, Indonesia harus melakukan lompatan besar dalam pendidikan, riset, teknologi, industrialisasi, dan moral kepemimpinan– yang ditunggu hari ini adalah pemimpin peradaban. Yaitu, pemimpin yang mampu membangunkan rasa percaya diri bangsa, menghidupkan kembali akar budaya Nusantara, mampu mengubah potensi menjadi gerakan, mengubah kekayaan alam menjadi nilai tambah, dan mengubah bonus demografi menjadi bonus produktivitas.
Meskipun, harus jujur diakui, Indonesia memang belum sampai ke sana– kita masih menghadapi korupsi, ketimpangan, pendidikan yang belum merata, kualitas riset yang tertinggal, industrialisasi yang belum dalam, kerusakan ekologis, dan birokrasi yang lamban–tetapi semua kelemahan itu tidak boleh membuat bangsa ini kehilangan imajinasi besar. Bukan mustahil, suatu saat dunia tidak hanya datang ke Indonesia untuk membeli komoditas. Dunia datang untuk belajar tentang harmoni, gotong royong, ekonomi hijau, budaya yang menyembuhkan, dan teknologi yang tetap berjiwa manusia.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
