Renungan Dhino Jemuwah: Perspektif Melihat Sosok Adam (bag-2)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto:Anwar R. Soediro)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Adam dalam Perspektif Madzhab Tradisionalis

Dalam Madzhab Tradisionalis atau filsafat perenial (philosophia perennis)– asal-usul Adam tidak dipandang sekadar sebagai sosok historis atau biologis pertama yang diciptakan dari segumpal tanah.  Tokoh-tokoh tradisionalis sekte ini seperti Frithjof Schuon, René Guénon, dan Seyyed Hossein Nasr– menafsirkan kisah penciptaan Adam secara metaforis, simbolis, dan metafisis.

Bagi filsafat perenial, Adam mewakili cetak biru spiritual kemanusiaan yang bersifat abadi dan universal. Adam sebagai Anthropos atau Manusia Primordial (The Primordial Man)– Filsafat perenial meyakini adanya Kebenaran Tunggal  (Sanatana Dharma atau Al-Hikmah al-Khalidah)  yang mendasari semua tradisi sakral di dunia.

Adam adalah simbol dari Manusia Primordial (Universal Man/Insan Kamil dalam tasawuf Islam); Asal-usul Metafisis Adam– sebelum mewujud dalam bentuk fisik atau materi di bumi, sejatinya “Eksistensi Adam” Quran sudah ada di dalam dimensi pengetahuan Ilahi. Adam adalah refleksi sempurna dari nama-nama dan sifat Tuhan di alam semesta, bukan merupakan Hasil Evolusi Material. Kaum perenialis menolak mentah-mentah pandangan bahwa manusia murni berasal dari materi atau evolusi biologi acak.

Dalam pandangan tradisi perenial, Adam turun (descent) dari realitas spiritual yang lebih tinggi ke realitas fisik yang lebih rendah, tidak seperti dalam teori evolusi naik (ascent) dari derajat Binatang– dalam Tradisi Perenial atau Sophia Perennis– kisah Adam tidak dibaca sebagai sejarah literal semata, melainkan sebagai simbol metafisis tentang kondisi manusia universal.

Tradisi Perenial melihat “Adam” sebagai archetype– bukan hanya sebagai individu pertama. Penciptaan dari “Tanah” dan “Ruh” sebagai Simbol Dualitas, dalam narasi kitab suci bahwa Adam diciptakan dari tanah lalu ditiupkan ruh ke dalamnya diartikan secara mendalam oleh filsafat perenial: Tanah (Materi); Menyimbolkan keterbatasan, bumi, pasivitas, dan ketidaktahuan.  Ruh (Nafas Ilahi); Menyimbolkan keabadian, langit, kecerdasan (Intellect), dan kesadaran murni.

Makna Gabungan; Asal-usul Adam adalah jembatan (barzakh) antara yang mutlak (Tuhan) dan yang relatif (alam semesta). Manusia memiliki esensi Ilahi di dalam dirinya yang membuatnya berbeda dari makhluk lain– oleh karena itu Adam adalah “Manusia Asali” yang diciptakan fi ahsani taqwim dalam bentuk paling sempurna– bukan “manusia purba” secara biologis– melainkan prototipe kemanusiaan yang utuh: akal, ruh, dan jasad yang selaras (harmoni)

Dalam bahasa Schuon: Adam adalah cermin yang paling jernih untuk memantulkan Asma’ Ilahi– dia adalah microcosm yang memuat seluruh potensi kosmos. Ini sangat dekat dengan konsep  Insān Kāmil Ibnu ‘Arabi– yang melihat Adam adalah kristalisasi dari seluruh kemungkinan wujud semesta.

Frithjof Schuon, menegaskan bahwa Adam sebagai Theomorphic Objec;  dimana manusia diciptakan sesuai citra Tuhan (imago Dei). Adam bukan sekadar ciptaan biasa– melainkan Tuhan yang memantulkan Diri-Nya ke dalam cermin relativitas.  Tubuh, jiwa, dan roh Adam mencerminkan struktur realitas absolut; Berdasar penegasan hadits:  kholaqo Allahu ‘azza wajalla adama ‘ala  shuuratihi (Allah ‘azza  Adam wa jalla — menciptakan Adam dalam bentuknya) (HR. Bukhari wa Muslim).

Peristiwa Kejatuhan Adam (The Fall) dipandang sebagai Penurunan Kesadaran; dalam peristiwa terusirnya Adam dari Surga ke Bumi tidak dipahami sebagai hukuman atas dosa moral semata, melainkan proses kosmologis dan epistemologis. Dalam tradisi perenial — surga adalah simbol keadaan di mana manusia hidup dalam kesadaran penuh akan kesatuan Ilahi  (Absolute Reality).

Selanjutnya– ketika Adam memakan “buah terlarang”, filsafat perenial memaknai Adam memasuki alam dualitas (baik-buruk, subjek-objek). Kejatuhan Adam ke bumi adalah simbol dari “terjadinya jarak” atau manusia yang mulai lupa (ghaflah) akan asal-usul spritualnya karena terikat pada materi.

Dualitas Adam dan Hawa (Logos dan Sophia): Schuon menjabarkan penciptaan Hawa dari rusuk Adam bukan sebagai peristiwa bedah fisik, melainkan proses metafisis, dimana Adam Aspek Aktif/Logos:  Mewakili Prinsip Keberadaan, Intelek murni, otoritas, dan kebenaran objektif– dan Hawa AspekPasif/Sophia: Mewakili Substansi universal, Cinta, Keindahan, dan kebijaksanaan subjektif.

Dalam tradisi perennial– pemisahan Adam dan Hawa adalah awal dari penciptaan alam semesta yang plural– namun penyatuan mereka kembali dalam cinta sakral adalah simbol kembalinya makhluk kepada Sang Pencipta. Maka Kejatuhan Adam, dimaknai sebagai Keinginan Mengeksplorasi Relativitas dimana, “buah terlarang” adalah simbol dari relativitas atau ilusi (Maya).

Adam jatuh — bukan karena dia jahat, melainkan karena kehendak bebasnya memilih untuk mengalami dunia luar secara otonom (terpisah dari kesadaran ketuhanan)– yang akibatnya, manusia kehilangan penglihatan batiniah  (Intellect) dan terperangkap dalam rasio lahiriah (reason).

Madzhab Tradisionalis: menafsirkan Surga adalah keadaan kesadaran primordial (Primordial State) di mana manusia hidup dalam kemurnian tanpa dualitas, terhubung langsung dengan Yang Mutlak.  Kejatuhan Adam adalah penurunan kosmis dari kesadaran kesatuan (tawhid) ke kesadaran dualitas (materi).

Buah terlarang disimbolkan oleh Schuon sebagai “keinginan manusia untuk mengetahui relativitas secara mandiri dari Yang Mutlak.” Kejatuhan ini bersifat ontologis (penurunan derajat wujud), bukan sekadar hukuman moral. Adam sebagai Simbol Jatuhnya Kesadaran– dalam kisah “turun dari surga” dalam tradisi perenial bukan tentang pengusiran geografis– melainkan tentang penurunan tingkat kesadaran. Surga merupakan kondisi primordial fitrah dan ma‘rifah langsung — dan Bumi adalah kondisi keterpisahan, lupa, dan fragmentasi.

Kejatuhan Adam bermakna kejatuhan setiap manusia dari kesadaran Tawhid/Wahdat ke kesadaran dualitas antara aku dengan dunia, antara aku dengan Tuhan—yakni kesadaran Adam sebagai Khalifah Manusia adalah wakil Tuhan di bumi, yang mengemban amanah untuk menjaga keseimbangan kosmik. Kesadaran Adam sebagai Nama Allah mengajarkan “nama-nama” kepada Adam– hal ini merupakan simbol kemampuan manusia mengenal esensi segala sesuatu untuk mampu menghadirkan Tuhan di alam semesta/ makrifat. (bersambung)

*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *