Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Berapa kali lagi alam harus “berteriak” agar manusia mau mendengar? Berapa banyak lagi hutan harus terbakar, gunung harus longsor, sungai harus kering, bumi harus berguncang, rumah harus roboh, dan nyawa manusia harus melayang? Pertanyaan itu terasa semakin relevan melihat berbagai musibah yang datang silih berganti belakangan ini. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di banyak belahan dunia.
Banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, cuaca ekstrem hingga gempa bumi muncul hampir bersamaan dalam ruang berita kita. Tentu penyebab ilmiah masing-masing bencana berbeda. Gempa bumi, misalnya, terutama merupakan proses geologi akibat pergerakan lempeng dan tidak bisa disamakan penyebabnya dengan banjir atau kebakaran hutan– tetapi seluruh rangkaian itu menghadirkan satu pertanyaan moral yang sama: apakah manusia masih mau belajar dari kerentanannya sendiri?
Indonesia baru saja kembali berduka. Gempa besar mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur, pada pertengahan Agustus 2026 dengan korban 68 orang meninggal, sekitar 4.500 rumah rusak, dan sekitar 19.000 orang harus mengungsi. Bencana itu seharusnya cukup membuat kita merenung mengenai betapa rapuhnya manusia di hadapan kekuatan alam– namun gempa bukan satu-satunya. Pada 14 Agustus, BNPB melaporkan bahwa Indonesia secara bersamaan masih menghadapi bencana hidrometeorologi kering berupa kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, sementara banjir dan cuaca ekstrem tetap terjadi di sejumlah wilayah meski sedang musim kemarau.
Di Aceh Barat Daya, misalnya, banjir berdampak pada sekitar 100 keluarga dan 100 rumah. Hanya dalam periode 24 jam, BNPB mencatat 34 kejadian bencana, dengan 31 di antaranya mempunyai dampak signifikan. Di Kota Sorong saja, kebakaran muncul di tiga wilayah. Sekitar lima hektare lahan terbakar, dengan kekeringan, angin kencang dan kondisi lahan yang membuat api cepat membesar. Atas berbagai musibah alam tersebut, kita jangan menganggap persoalan ini sebagai kejadian yang berdiri sendiri-sendiri. Hari ini Flores berguncang. Besok Aceh kebanjiran. Lalu Kalimantan, Sulawesi, Jawa atau Papua terbakar.
Amuk alam bukan hanya terjadi di Indonesia. Eropa pada musim panas tahun ini menghadapi kebakaran yang sangat luas. Dilaporkan, hingga pertengahan Agustus 2026, lebih dari 576.000 hektare wilayah di Eropa telah terbakar. Belgia bahkan mengalami kebakaran hutan terbesar dalam catatan negara tersebut, sekitar 3.000 hektare di kawasan High Fens. Kebakaran juga terjadi di Spanyol, Yunani, Kroasia dan Portugal.
Di Kanada, kebakaran Bald Range di British Columbia memaksa lebih dari 20.000 orang mengungsi dan merusak atau menghancurkan sekitar 150 bangunan. Serbia bahkan harus meminta bantuan melalui mekanisme perlindungan sipil Uni Eropa. Helikopter, petugas pemadam dan kendaraan dikerahkan dari sejumlah negara untuk membantu.
Sementara itu, Sri Lanka menghadapi banjir dan longsor akibat hujan lebat yang menewaskan sedikitnya tujuh orang, merusak ratusan rumah dan membuat ribuan warga harus dievakuasi. Di China, Topan Maysak yang melanda pada Juli 2026 meninggalkan dampak jauh lebih besar. Laporan terbaru menyebut 159 orang meninggal dan 10 masih hilang, setelah hujan ekstrem memicu banjir besar di Guangxi.
Masihkah semua itu belum cukup membuat manusia berpikir? Ada satu kelemahan manusia yang berulang sepanjang sejarah: kita sering baru percaya kepada akibat setelah akibat itu datang. Selama hujan masih turun, kerusakan daerah resapan dianggap tidak mendesak– dan selama api belum membakar rumah kita, kebakaran hutan dianggap biasa.
Inilah kesombongan peradaban modern– manusia berhasil membuat gedung seratus lantai, menembus ruang angkasa, menciptakan kecerdasan buatan dan membangun teknologi luar biasa–tetapi satu guncangan bumi beberapa puluh detik dapat merobohkan apa yang dibangun selama puluhan tahun– karena itu pertanyaan besarnya bukan lagi apakah bencana akan datang– tetapi, berapa banyak peringatan yang kita perlukan sebelum benar-benar berubah?
Jangan sampai kita baru sadar setelah hutan terakhir ditebang. Jangan baru sadar setelah sungai sudah tak berair. Jangan baru sadar setelah banjir mencapai atap rumah– dan jangan baru sadar setelah api memasuki permukiman.
Dalam perspektif keimanan, rangkaian kejadian tersebut selayaknya menjadi momentum taubat nasional. Taubat tidak semata berarti menangis di masjid, memperbanyak istighfar atau menggelar doa bersama. Taubat berarti mengakui kesalahan dan berhenti mengulanginya. Jika kita mengaku berdosa merusak hutan, maka taubatnya adalah menghentikan kerusakan hutan. Jika kita menyesal mencemari sungai, taubatnya adalah membersihkan dan menjaganya.
Jika kebijakan tata ruang menyebabkan banjir dan longsor, taubatnya adalah memperbaiki tata ruang tersebut. Jika kerakusan ekonomi membuat alam dieksploitasi melampaui batas, taubatnya adalah berani mengatakan: cukup. Di sinilah kita perlu mengubah paradigma. Ketika terjadi bencana, kita sering berdoa: “Ya Allah, jauhkanlah kami dari bencana.”
Tetapi, sesudah berdoa, Tuhan mungkin seakan bertanya kepada kita: Apa yang sudah kalian lakukan terhadap bumi yang Aku titipkan? Kita meminta banjir dihentikan, tetapi hutan terus ditebang. Kita meminta longsor dijauhkan, tetapi gunung terus dikeruk. Kita meminta udara bersih, tetapi pembakaran terus dibiarkan, dan seterusnya.
Lalu sampai kapan kita berharap doa menyelesaikan sesuatu yang kita terus merusaknya? Islam tidak mengajarkan kepasrahan pasif. Doa harus bertemu ikhtiar. Istighfar harus diikuti perubahan perilaku. Taubat harus melahirkan Tindakan– dan yang jauh lebih dalam, mengoreksi hubungan kita dengan Tuhan– dan yang diperlukan sekarang adalah kesadaran nasional bahwa bumi bukan warisan yang boleh kita habiskan, melainkan titipan Tuhan yang harus kita pertanggungjawabkan– karena kalau peringatan demi peringatan masih belum cukup menyadarkan kita, itu sama dengan kita sedang menunggu alam akan semakin marah?
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
