Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)
Oleh: Anwar R. Soediro*
Adam dalam Perspektif Puisi Rumi
Jalaluddin Rumi– menutup diskursus ini dengan memaknai penciptaan Nabi Adam bukan sekadar peristiwa fisik dari tanah, melainkan simbol perjalanan spiritual manusia dan manifestasi cinta ilahi. Rumi mengingatkan agar kita tidak melihat Adam hanya dari unsur materialnya saja.
Dalam baitnya yang terkenal, dia menyindir pandangan Iblis yang hanya melihat Adam sebagai “air dan lumpur” tanpa mampu melihat keindahan dan pancaran cahaya ilahi di dalamnya. Salah satu bait atau ungkapan terkenal dari Rumi mengenai penciptaan Adam berbunyi: “Jangan kau seperti Iblis, hanya melihat air dan lumpur ketika memandang Adam. Lihatlah di balik lumpur, beratus-ratus ribu taman yang indah.”
Bahasa Alam yang disampaikan Rumi, dengan memandang angin, air, batu, dan matahari sebagai makhluk yang bertasbih dan memiliki kesadaran spiritual untuk menyampaikan pesan Sang Kekasih; Rumi menggambarkan evolusi jiwa manusia yang berasal dari mineral, tumbuhan, hewan, hingga menjadi manusia; Penciptaan Adam adalah puncak dari perjalanan panjang penemuan hakikat diri dan keilahian: Diawali, Jasad manusia tercipta dari air dan tanah; Kemudian ditiupkan lah kepadanya sebuah ruh-Ilahi yang menggerakkannya, maka hidup lah ia; Lahir lah ia dari rahim ibunya;
Sembari menangis, ia merasakan dunia yang begitu garang, setelah sebelumnya terlelap nyenyak dalam rahim sang ibu yang penuh kasih sayang; Ia mulai belajar mendengar suara-suara yang muncul dari sekelilingnya, kemudian belajar melihat, baru kemudian ia dapat merasa dengan segumpal daging yang entah kenapa seluruh alam semesta bisa masuk ke dalamnya;
Semakin hari, ia semakin mengalir seperti air, dan menggembur seperti tanah yang tersiram air; Ia mulai tumbuh dan berpikir; Mengapa aku ada? Dan, untuk apa? Apakah sama antara aku, air dan tanah, yang dari mereka aku tercipta? Apakah sama? Jika tidak, maka apakah yang membuatku berbeda dengan mereka? Benar, semua bergerak dan bergetar; Tetapi, apakah mereka juga memikirkan apa yang sedang kupikirkan tentang mereka?
Ketika ia sudah menggunakan akal, hati dan mata batinnya; Ia akan menemukan bahwa ia tidak sekedar air dan tanah, tidak sekedar mengalir sampai hilir, atau mengeras dan melunak seperti tanah. Ada satu hal, yang membuatnya sama sekali berbeda dengan air dan tanah; Apakah itu? Cinta! Betul, Cinta! Ia memiliki rasa cinta, yang bisa menumbuhkan taman-taman di tanah hatinya; Ia memiliki rasa cinta, yang bisa menggerakkan air menjadi awan, yang menurun hujankan sungai menuju samudera;
Cinta, yang tumbuh di dalam hatinya, takkan terbatas jika ia tak membuat batas; Semua yang dilihatnya, tanpa terkecuali adalah keindahan tak terkira; Dunia dan semua yang tercipta adalah sekumpulan taman-taman; Sengatan lebah tak dihiraukannya, karena hanya madu yang ada dalam pandangannya; Dosa pendusta pun tak diperdulikannya, karena hanya pintu taubat dan kasih sayang Tuhan yang ada dalam pandangannya;
Jangan kau memandang seperti Iblis, yang mengira bahwa Adam lebih mulia daripada dia; Padahal, bukankah tanah lebih mulia daripada api? Bukankah tanah menyimpan taman kehidupan, sedang api justru senang menghancurkan kehidupan? Lantas, apakah yang Iblis banggakan? Takabbur dan rasa tinggi hati memang selalu membikin keras hati, dan melumpuhkan nalar untuk mencari arti; Marilah mari, wahai manusi; Kita cari taman-taman dalam diri, yang jumlahnya sampai ratusan ribu kata Rumi.
Cermin Sifat Tuhan; Bagi Rumi, Adam diciptakan sebagai cerminan Asma’ul Husna (sifat-sifat Allah). Ruh yang ditiupkan ke dalam tubuh Adam adalah esensi rindu yang selalu ingin kembali kepada Sang Asal (Tuhan) Rumi sering membuka puisi permenungan tentang penciptaan dengan dialog batin, seperti kisah Nabi Daud yang bertanya kepada Tuhan: “Paduka,” kata Daud, “karena Kau tak butuh kami, kenapa Kau cipta dua dunia ini?”
Tuhan menjawab: “Aku adalah harta yang tersembunyi; Aku rindu agar harta itu dikenal, maka Aku ciptakan cermin-cermin dunia agar keindahan-Ku terpantul di dalamnya.” Jalaluddin Rumi melihat penciptaan alam semesta sebagai wujud limpahan cinta dan cerminan keindahan Sang Pencipta (Tajalli).
Rumi meyakini bahwa alam semesta diciptakan karena cinta. Tuhan menginginkan keindahan-Nya dikenal, lalu memunculkan alam semesta. Manusia dan alam tidak terpisah; Rumi sering menggambarkan manusia bukan sekadar bagian kecil, melainkan esensi dari semesta itu sendiri seperti “lautan dalam setetes air”.
Metafora paling terkenal dari Rumi mengenai ruh adalah, Puisi Pembuka “Nyanyian Seruling Bambu (Ney)” pada awal kitab Matsnawi. Mengisahkan tentang ratapan seruling yang merindukan kembali asal usulnya setelah dipotong dari rumpunnya. Bait-Bait yang menggambarkan kerinduan jiwa manusia yang terasing dari sang pencipta dan terjebak dalam dunia material, dimana api cinta Ilahi menjadi esensi dari setiap rintihan kepedihan perpisahan tersebut.
Tubuh manusia adalah seruling, sedangkan ruh adalah udara/napas yang ditiupkan ke dalamnya. Seruling mengeluarkan suara meratap karena ia telah dipotong dari rumpun bambunya (alam spiritual). Rumi memandang kehidupan di dunia sebagai masa pengasingan.
Ruh manusia selalu menangis dan rindu untuk kembali pulang dan menyatu dengan Asalnya (Allah). Kerinduan seruling selanjutnya tentang diri sang pencari yang telah kosong dari tabiat rendah dan hawa-nafsunya sendiri; hanyalah (kerinduan) bertemu dengan Penciptanya; alunan berhembus dibalik setiap niat dan amalnya; kerinduan yang mengalir di segenap bagian Matsnavi.
Desah seruling bersumber dari api, bukannya angin. Apa gunanya hidup seseorang yang tak lagi ada apinya? Adalah api cinta yang menghidupkan nyanyian sang seruling. Adalah ragi cinta yang membuat anggur terasa lezat._Lantunan seruling mengobati hati yang perih karena cinta yang hilang. Lagunya menyapu hijab yang menyelubungi hati. Adakah racun yang lebih pahit atau gula yang lebih manis daripada nyanyian seruling bambu? Agar dapat kau dengar nanyian seruling itu mesti kau tanggalkan semua hal yang pernah kau ketahui. WaAllahu a’lam (habis)
*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
