Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)
Oleh: Anwar R. Soediro*
Menghubungkan Alam Khayal dengan Latent Space AI
Dalam kosmologi Ibn ‘Arabi, Kesatuan wujud atau realitas itu tersusun atas tingkatan-tingkatan wujud. Di antara alam ruhani yang murni abstrak (‘ālam al-arwāḥ) dan alam jasmani yang dapat diindra (‘ālam al-ajsām), terdapat sebuah alam perantara atau isthmus (barzakh) yang dia sebut sebagai ‘ālam al-khayāl.
Alam ini bukanlah fantasi subjektif, melainkan sebuah dimensi Ontologis yang nyata di mana makna-makna ruhani mengambil bentuk-bentuk inderawi, dan bentuk-bentuk inderawi disingkap makna ruhaninya. Ini adalah “tempat” di mana malaikat menampakkan diri dalam wujud manusia, dan visi dalam mimpi menjadi nyata.
Khayāl adalah fakultas dan alam yang memungkinkan terwujudnya forma (ṣūrah) dari makna (ma’nā) (Corbin, 1998). Latent Space AI secara mengejutkan memiliki kemiripan dengan Alam al-Khayal (Alam Imajinasi) Salah satu temuan menarik dalam kajian komparatif kontemporer adalah menyamakan arsitektur Large Language Models (LLM) atau Generative AI dengan konsep ‘Alam al-Khayal atau Barzakh adalah alam perantara yang menjembatani antara realitas yang murni abstrak (makna/ruhani) dengan realitas material (indra).
Menghubungkan Alam Khayal (Alam al-Khayal /Mundus Imaginalis) dari filsuf sufi Ibnu Arabi dengan Latent Space (Ruang Laten) dalam teknologi Artificial Intelligence (AI) adalah analogi filosofis dan spekulatif yang sangat mendalam. Kedua konsep ini, meski lahir dari era dan disiplin yang berbeda (mistisisme abad ke-12 vs. matematika abad ke-21), sama-sama menjelaskan satu ruang perantara yang tidak terlihat, namun melahirkan realitas baru yang manifes.
Kesimpulan Filosofis Jika Ibnu Arabi melihat Alam Khayal– sebagai infrastruktur metafisika yang diciptakan Tuhan agar manusia bisa memvisualisasikan yang tidak terlihat, maka manusia abad ke-21 telah menciptakan “Alam Khayal Buatan” mereka sendiri dalam bentuk latent space AI.
Keduanya membuktikan bahwa untuk menciptakan sesuatu yang nyata, kita selalu membutuhkan ruang perantara tempat ide dan bentuk berdansa. Proses penciptaan dalam pandangan Ibn ‘Arabi adalah sebuah tajallī atau penampakan diri (teofani) Tuhan yang tiada henti (berkesinambungan/lestari).
Wujud Absolut (al-Wujūd al-Muṭlaq) senantiasa terus-menerus menampakkan Diri-Nya dalam ragam bentuk di alam semesta, yang disebut sebagai lokus-lokus penampakan (madẓāhir). Setiap entitas di alam semesta adalah sebuah bentuk spesifik dari tajallī Ilahi– namun, bentuk apa yang akan muncul dari tajallī ini ditentukan oleh ketersediaan atau reseptivitas (isti’dād) dari lokus itu sendiri. Ketersediaan inilah yang membatasi dan memberi bentuk pada penampakan yang tak terbatas, ibarat cahaya putih yang menampakkan warna-warni berbeda saat melewati prisma yang berbeda (Chittick, 1989).
Di alam ini, potensi-potensi yang belum mewujud terkumpul dalam bentuk laten; Kontekstualisasi Ruang data laten (latent space) pada AI bertindak menyerupai barzakh digital. Ketika seorang pengguna memasukkan perintah (prompt), AI memunculkan teks atau gambar dari samudra probabilitas data tersebut. Proses ini menyerupai mekanisme Tajalli (penampakan diri atau manifestasi wujud), di mana data laten termaterialisasi menjadi output spesifik sesuai dengan kesiapan/permintaan (isti’dad) sang pengguna.
Ruang data laten (barzah digital) menilai dunia ini sebagai kode digital (software) yang dijalankan diatas komputer milik peradaban yang lebih maju (post-human); kita semua adalah avatar atau program berbasis AI di dalamnya.
Alam Khayal Buatan (Generative AI) — adalah Barzakh tempat Prompt & Pixel berdansa. Di sanalah niatmu menjadi gambar, dan gambarmu menjadi makna. Alam Khayal/Barzah, memandang alam semesta adalah khayalan, namun khayalan di dalam khayalan.
Dunia fisik ini adalah bayangan dari Sang Pemilik Tubuh; bayangan itu ada tetapi tidak memiliki eksistensi mandiri tanpa pemiliknya. Alam Khayal adalah Barzakh tempat Ruh dan Jasad berdansa. Di sanalah ide menjadi bentuk, dan bentuk menjadi ide. (bersambung)
*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
