Oleh: Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, M.A*
Mudir ‘Am.Pondok Pesantre Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Foto: detik.News)
Kita sedang hidup dalam zaman ketika algoritma — tidak lagi sekadar bekerja di balik layar komputer atau gawai kita– telah meresap jauh ke dalam pembuluh darah kehidupan sosial manusia: menentukan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita baca, apa yang kita beli, hingga narasi apa yang terus diproduksi di hadapan kita setiap detik. Pertanyaan krusial hari ini tidak lagi berhenti pada “seberapa canggih teknologi yang kita miliki?”– melainkan manusia dan peradaban seperti apa yang sedang dibentuk oleh teknologi tersebut?”
Di tengah kepungan realitas artifisial ini– gagasan mengenai Algoritma Naghom menemukan relevansi filosofis dan praktisnya. Secara konseptual, Algoritma Naghom dapat dipahami sebagai pola sistematis dalam mengolah bacaan Al-Qur’an melalui irama, gaya (maqamat), variasi vokal, serta penghayatan (tadabbur) sehingga menghasilkan melodi tilawah yang indah sekaligus menyampaikan pesan estetik dan spiritual ayat secara lebih efektif (Qori et al., 2026)– namun, gagasan ini tidak boleh berhenti di ruang mihrab atau panggung musabaqah. Jika naghom memiliki algoritma internal untuk merajut keindahan suara, mungkinkah nilai-nilai Al-Qur’an memiliki algoritma esensial untuk merajut peradaban? Pertanyaan mendasar inilah kita bergerak– merentang jembatan konseptual dari Algoritma Naghom menuju Algoritma Peradaban.
Algoritma, Etika, dan Pembentukan Karakter
Dalam pengertian teknis– algoritma adalah seperangkat instruksi logis untuk mengolah masukan (input) menjadi keluaran (output) tertentu. Dalam ekosistem digital hari ini, algoritma media sosial mempelajari preferensi dan jejak digital pengguna untuk menyajikan konten yang dianggap relevan. Niat dasarnya mungkin efisiensi bisnis, tetapi imbasnya amat mendalam: teknologi digital memegang kendali atas pola perhatian (attention economy) dan konsumsi informasi manusia.
Persoalan algoritma– bukan sekadar perkara teknis komputasi, melainkan persoalan etika mendasar– jika sistem algoritma terus-menerus memprioritaskan konten yang memancing amarah, sensasi murahan, hedonisme, dan sifat pamer demi mengejar user engagement, maka yang sedang diproduksi secara masif adalah degradasi kebiasaan publik. Sebaliknya, jika desain teknologi diorientasikan untuk memperluas akses ilmu, pendidikan, keteladanan, kreativitas, dan kesalehan sosial, teknologi bertransformasi menjadi instrumen pembentukan manusia beradab. Kita perlu membedakan dua watak algoritma: algoritma yang berburu perhatian mengejar clicks (Apa yang membuat manusia terus menatap layar?) versus algoritma pembentuk kualitas manusia (Apa yang membuat manusia menjadi lebih baik setelah meletakkan layarnya?).
Di sinilah pemikiran Islam klasik menemukan simpul temu yang presisi dengan tantangan kontemporer. Imam Al-Ghazali dalam karya fenomenalnya, Ihya’ ‘Ulum al-Din– menegaskan akhlak bukanlah sekadar pengetahuan teoretis tentang baik dan buruk, melainkan hasil dari proses riyadat al-nafs—latihan spiritual dan pendisiplinan jiwa yang diejawantahkan dalam tindakan nyata berulang-ulang. Sebagaimana dicatat dalam analisis etikanya, kebajikan diperoleh melalui habituasi; tindakan yang mulanya terasa berat, melalui pengulangan yang konsisten, lambat laun bertransformasi menjadi second nature atau karakter melekat pada diri manusia (Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2026a).
Struktur pembentukan karakter menurut Al-Ghazali ini sejatinya adalah algoritma pembentukan jiwa: Nilai -> Latihan -> Kebiasaan -> Karakter -> Perilaku. Seorang qari profesional tidak lahir begitu saja hanya karena bakat alami; dia tumbuh melalui siklus mendengar, menirukan, berlatih vokal, menerima koreksi, mengulang variasi, hingga akhirnya menghayati isi kandungan ayat (Qori et al., 2026). Demikian pula dengan kebajikan sosial: kesabaran dilatih, kejujuran dibiasakan, kedisiplinan diulang, dan kedermawanan dipraktikkan hingga menjadi karakter kolektif. Naghom tidak boleh selesai
sebagai kemampuan artikulasi estetika vokal belaka, melainkan harus melompat menjadi cara pandang dalam membaca realitas dan mempraktikkan etika Qur’ani dalam keseharian.
Peradaban, Transdisiplinaritas, dan Psikologi Sosial
Membangun manusia berkarakter baru menyelesaikan separuh tantangan peradaban–untuk membangun masyarakat yang kokoh, kita membutuhkan kerangka sosiologis-ekonomis sebagaimana digagas Ibn Khaldun (1377). Dalam Al-Muqaddimah– Ibn Khaldun menjelaskan fondasi peradaban membutuhkan solidaritas sosial (‘asabiyyah) dan produktivitas ekonomi nyata. Kohesi sosial tanpa kapasitas produksi dan pembagian kerja (division of labor) hanya akan melahirkan masyarakat yang santun tetapi lemah secara material; sebaliknya, produktivitas ekonomi yang minus pijakan moral akan melahirkan ketimpangan, eksploitasi, dan kehancuran sosial (Spengler, 1964).
Pelajaran berharga ini diperkaya oleh pemikiran Ibn Sina (Avicenna) dalam Al-Shifa’– Ibn Sina melihat peta keilmuan secara holistik dan terintegrasi: ia menempatkan musik (termasuk seni naghom) di dalam rumpun ilmu matematika, sementara etika dan politik ditempatkan sebagai ilmu praktis yang wajib terikat pada standar nilai ketuhanan (Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2025). Peta keilmuan transdisiplin ini memberikan pelajaran penting: naghom Al-Qur’an bukanlah seni yang terisolasi dari realitas– adalah pintu masuk menuju kepekaan estetika, kecerdasan emosional, kedisiplinan intelektual, hingga pengembangan industri kreatif berbasis keagamaan.
Perspektif keislaman ini beririsan secara artikulatif dengan teori psikologi moderen. Albert Bandura (1977) melalui Social Learning Theory membuktikan bahwa manusia belajar dan membentuk perilakunya sebagian besar melalui pengamatan (observational learning) terhadap model dalam lingkungannya. Implikasinya dalam jagat digital amat krusial: model manusia seperti apa yang disuguhkan oleh algoritma media sosial hari ini? Jika panggung digital didominasi oleh figur yang mengejar popularitas lewat sensasi, kemewahan demonstratif, dan perilaku agresi, maka lingkungan belajar sosial kita sedang mengalami kebangkrutan etis– namun, jika ekosistem digital dipenuhi oleh qari yang beradab, ulama yang bernas, pengusaha jujur, dan inovator muda yang produktif, maka ruang digital dapat bertransformasi menjadi “sekolah peradaban” yang inklusif.
Realitas psikologis manusia moderen di era informasi makin kompleks tatkala kita meninjau temuan Daniel Kahneman dan Amos Tversky mengenai heuristics—jalan pintas mental yang sering kali memicu bias kognitif sistematis dalam pengambilan keputusan manusia (Nobel Prize Outreach, 2002). Di tengah kelelahan mental, kecemasan, dan kebosanan masyarakat perkotaan akibat arus modernitas, masyarakat cenderung mencari pelarian kilat. Sebagaimana diamati oleh Clifford Geertz dalam studi antropologi budayanya, kelelahan atas modernitas mendorong manusia merangkul kembali dorongan keagamaan (religiosity)–namun, dalam lanskap digital yang tak terfilter, masyarakat dihadapkan pada persimpangan psikologis yang ekstrem: melarikan diri pada pencarian nilai-nilai spiritualitas keagamaan atau terjebak dalam ketaatan pada impulsifitas digital yang destruktif seperti pornografi dan judi daring.
Manusia tidak selalu bertindak rasional; judul yang provokatif, emosional, dan sensasional jauh lebih mudah memantik respons ketimbang narasi ilmiah yang tenang. Jika kita menyerahkan pengaturan ruang publik sepenuhnya kepada algoritma komersial yang mengeksploitasi kerentanan psikologis manusia demi keuntungan finansial, kita sedang membiarkan terjadinya perusakan masif (mafsadat).
Maka, diplomasi naghom untuk peradaban—meminjam istilah yang relevan dalam konteks diplomasi dakwah kekinian—harus berani mengambil langkah taktis: melakukan re-orientasi teknologi. Kita tidak membuang aspek komersialisasi dan keindahan industri digital, melainkan mengintegrasikan etika dan maslahat ke dalam arsitektur algoritma. Algoritma harus dirancang tidak hanya untuk bertanya “apa yang paling banyak diklik?”, tetapi “apa yang paling memberi manfaat bagi kemanusiaan?”
Gagasan Algoritma Naghom memiliki impak nyata ketika diturunkan ke dalam sektor ekonomi kreatif. Indonesia memiliki potensi ekonomi berbasis kreativitas yang amat masif. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2025) mencatat bahwa pada tahun 2025, sektor ekonomi kreatif berhasil menyerap sekitar 27,40 juta tenaga kerja atau setara dengan 18,70 persen dari total angkatan kerja nasional—meningkat signifikan dari angka 26,48 juta pekerja pada tahun 2024.
Data ini menegaskan bahwa kreativitas bukan lagi sekadar hiburan marginal, melainkan aset strategis perekonomian bangsa. Naghom Al-Qur’an tidak boleh lagi dipandang sempit sebatas aktivitas seorang qari yang diundang membaca ayat dalam kenduri lalu diberi sekadar uang saku, atau atlet MTQ yang mengejar trofi turnamen semata. Pertanyaan mendasarnya: sejauh mana keterampilan tilawah Qur’ani mampu menciptakan multiplier effect bagi kesejahteraan umat?
Naghom Al-Qur’an harus dikembangkan secara profesional menjadi bagian dari Ekosistem Ekonomi Kreatif Qur’ani. Ini mencakup pilar-pilar strategis: Pertama, Platform edukasi naghom dan pembelajaran maqamat berbasis digital; Kedua, Sistem sertifikasi dan standardisasi kompetensi qari profesional; Ketiga, Industri rekaman audio, sinematografi, dan produksi konten Qur’ani berkualitas tinggi; Keempat, Pengembangan aplikasi artificial intelligence (AI) untuk analisis vokal dan tajwid; Kelima, Penyelenggaraan festival, manajemen event, dan tur kebudayaan Islam internasional; Keenam.Pemberdayaan industri kreatif berbasis pesantren serta riset teknologi akustik dan vokal.
Melalui pendekatan ini, naghom Al-Qur’an tidak hanya memancarkan kesalehan estetik di udara, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi, menciptakan lapangan kerja bermartabat, serta memberikan dampak kemakmuran yang nyata bagi masyarakat luas.
Pada titik inilah arsitektur Algoritma Peradaban terumuskan secara utuh: Pertama, Dalam Naghom: Ayat -> Maqam -> Variasi -> Penghayatan -> Ekspresi Estetis. Kedua, Dalam Jiwa Manusia: Nilai -> Latihan -> Kebiasaan -> Karakter -> Perilaku Saleh. Ketiga, Dalam Masyarakat: Karakter -> Kepercayaan (Trust) -> Kolaborasi -> Produktivitas -> Kesejahteraan. Keempat, Dalam Peradaban: Ilmu -> Manusia Beradab -> Karya Kreatif -> Kemakmuran Ekonomi -> Kemaslahatan Publik -> Peradaban Unggul.
Tantangan terbesar abad ke-21– bukanlah sekadar membangun Digital Society atau Smart Society yang canggih secara teknologi namun hampa secara spiritual. Kita menyaksikan bagaimana sebuah bangsa bisa amat maju teknologi digitalnya, tetapi bangkrut secara etika; amat kaya secara materi, tetapi kehilangan rasa empati dan solidaritas sosial. Visi ideal yang harus kita perjuangkan adalah mewujudkan Smart and Civilized Society—masyarakat yang cerdas sekaligus beradab, produktif sekaligus bermoral, kompetitif secara global sekaligus menjunjung tinggi keadilan sosial.
Dari suara Al-Qur’an menuju peradaban Al-Qur’an; inilah hakikat diplomasi langit yang diturunkan untuk membumi. Algoritma Naghom pada akhirnya bermula dari ikhtiar sederhana: bagaimana melantunkan bacaan Al-Qur’an agar terdengar indah dan meresap ke dalam dada. Namun– bertransformasi menjadi misi peradaban yang jauh lebih besar: bagaimana menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pola tatanan kehidupan yang menghadirkan keindahan, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh alam.
Seorang qari belajar mengendalikan pita suara dan intonasi; seorang pendidik mengatur kurikulum dan pembiasaan; seorang pemimpin merancang kebijakan publik; dan seorang teknolog menyusun baris kode algoritma. Peradaban besar tercipta ketika seluruh elemen ini bergerak dalam satu harmoni: memastikan bahwa teknologi, ilmu pengetahuan, kekuatan ekonomi, dan kekuasaan tidak pernah kehilangan kompas moralnya. Kita tidak boleh membiarkan algoritma digital terus mendikte manusia dalam jebakan perhatian semu (attention trap). Kita membutuhkan Algoritma Peradaban yang membangun jiwa manusia.
Perjalanan ini bermula dari Algoritma Naghom -> Algoritma Jiwa -> Algoritma Karakter -> Algoritma Ekonomi Produktif -> Algoritma Peradaban. Tujuan akhir kita bukan sekadar melahirkan qari dengan suara yang merdu di panggung, melainkan mencetak manusia-manusia unggul yang indah bacaannya, mulia akhlaknya, kokoh ilmunya, kreatif pikirannya, produktif karyanya, sejahtera kehidupannya, serta luas kemanfaatannya bagi sesama. Naghom tidak berhenti pada keindahan suara; naghom adalah instrumen menuju keindahan manusia, dan keindahan manusia yang terorganisasi secara sistematis adalah energi utama penggerak peradaban. Wallahu a’lam bisshawab. Ridhwanum minallahi akbar.
*Mudir ‘Am.Pondok Pesantre Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir, Sumatera Selatan
Editor: Jufri Alkatiri
