Oleh Satrio Arismunandar*
Anggota Perkumpulan Penulis SATUPENA sejak Agustus 2021. (Foto: dok. Satrio)
Sehari Sebelum
Aku tidak melapor ke Rangga. Itu keputusan pertama hari itu, dan aku membuatnya dengan cara paling pengecut: tidak melakukan apa-apa. Ponselku menyala dua kali pagi itu dengan namanya di layar, dan dua kali kubiarkan mati sendiri. Pukul dua siang aku menaiki angkot ke arah yang berlawanan dengan posko.
Kinanti memilih tempatnya: warung kopi di dekat terminal lama, jauh dari kampus, jauh dari kompleks rumah dinas, jauh dari gang Rawa Kering. Tempat yang tidak dimiliki siapa pun. Lantainya keramik retak, meja-mejanya berminyak, dan di dinding ada kalender toko ban dari dua tahun lalu yang tidak pernah diganti.
Dia sudah duduk di pojok ketika aku masuk. Kemeja linen itu diganti kaus abu-abu yang lehernya melar, rambutnya diikat seadanya. Dia berusaha tampak biasa, dan usaha itulah yang membuatnya mencolok. Di depannya ada segelas es teh yang belum disentuh.
“Kamu datang,” katanya. “Kamu yang minta.” “Aku nggak yakin kamu bakal datang.” “Aku juga.” Dia tersenyum sedikit, dan senyum itu cepat hilang. Seorang bapak di meja sebelah menyedot kopinya dengan bunyi panjang. Televisi kecil di atas rak menayangkan sinetron dengan suara hampir mati.
Kami diam cukup lama. Aku memesan kopi hitam karena butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tangan. “Aku mau bilang sesuatu dulu,” kata Kinanti. “Supaya kamu nggak perlu nebak-nebak.” “Silakan.” Aku tahu kamu tahu siapa aku. Dari awal.” Dia menatap gelasnya. “Waktu aku masuk ke posko, kamu bilang ‘hati-hati ember’. Orang yang nggak tahu apa-apa nggak akan ngomong sesopan itu ke perempuan asing. Kamu ngomong kayak orang yang lagi menjaga jarak.”
Aku tidak menyangkal. “Aku diam karena mau lihat apa yang kamu lakukan,” lanjutnya. “Dan kamu nggak melakukan apa-apa. Nggak ngusir. Nggak ceramah. Kamu cuma ngebiarin aku duduk. Itu pertama kalinya dalam hidupku ada orang yang tahu siapa aku dan nggak mau apa-apa.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang dia maksudkan. Aku mengaduk kopi yang belum perlu diaduk. “Kinan,” kataku. “Aku harus jujur juga.” “Aku tahu.” “Kamu tahu apa?” “Kamu mau bilang kamu sempat mikir aku berguna.” Kopiku berhenti berputar.
“Rangga cerita?” “Nggak–tetapi aku nggak bodoh, Damar.” Suaranya tidak marah. Justru terlalu tenang, seperti kalimat yang sudah disiapkan semalaman. “Sejak umur lima belas, setiap laki-laki yang ngobrol lama sama aku, ujungnya selalu nanya sesuatu soal Papa. Kadang halus, kadang kasar. Aku bisa merasakannya, seperti orang merasakan hujan sebelum turun. Aku pikir kamu beda. Terus aku pikir mungkin kamu cuma jenis yang lain.”
“Aku nggak pernah nanya apa pun.” “Itu juga yang bikin aku curiga.” Dia mengangkat mata. “Orang yang nggak minta apa-apa kadang cuma lebih sabar.” Aku ingin membantah, tapi bantahan butuh bahan, dan bahan yang kupunya hanyalah kejujuran yang tidak enak. Jadi aku memakainya.
“Malam setelah kamu datang, aku sempat mikir soal dokumen kajian dampak– yang katanya disembunyikan. Aku mikir mungkin kamu bisa ngakses. Satu malam. Besoknya aku bilang itu ke teman-temanku di rapat, supaya nggak perlu hidup dengan itu sendirian.”
Kinanti tidak berkedip. Di televisi, seorang aktris menampar aktor. “Terima kasih sudah bilang,” katanya akhirnya. “Itu bukan hadiah.” “Aku tahu. Tapi tetap terima kasih.” Kami terdiam lagi, dan kali ini diam itu berubah bentuk, dari tegang menjadi capek, seperti dua orang yang sama-sama meletakkan barang bawaan di lantai sambil tahu mereka harus mengangkatnya lagi.
“Boleh aku tanya sesuatu?” kataku. “Silakan.” “Kenapa kamu datang ke posko? Yang sebenarnya.” Dia berpikir lama. Es di gelasnya sudah mencair separuh. “Ada acara makan malam tiga bulan lalu,” katanya. “Seseorang di sebelahku cerita bahwa proyek ini disambut baik warga. Dia bilang dengan sangat yakin, sambil memotong daging. Aku tanya, ‘Warga yang mana?’, dan dia tertawa. Bukan tawa jahat. Tawa orang yang menganggap pertanyaanku lucu.”
Dia menarik napas. “Waktu itu aku sadar aku nggak pernah sekali pun ketemu orang yang rumahnya mau diambil. Padahal tanda tangan Papa ada di sana. Aku hidup dari uang yang diputuskan lewat kertas, dan aku nggak tahu kertas itu jatuh di atas siapa.”
“Jadi kamu mencari tahu.” “Aku mencari kamu,” katanya. “Awalnya karena namamu di artikel. Aku baca tiga tulisanmu, terus nyari tahu kamu siapa. Dan sebagian dari diriku…” Dia berhenti. “Sebagian dari diriku mau ketemu orang yang nggak akan memuji aku.”
“Itu juga romantisasi, Kinan.” Apa?” “Orang susah, orang kritis, orang yang nggak mau tunduk.” Aku mengucapkannya pelan, tanpa nada menuduh, karena yang kutuduh juga diriku. “Itu cerita yang enak dipercaya kalau kamu dibesarkan di antara orang-orang yang selalu tersenyum. Aku nggak mau jadi cerita itu.”
Dia diam. Kupikir aku sudah menyakitinya–tetapi ia justru mengangguk pelan, dan matanya basah tanpa jatuh. “Aku tahu,” katanya. “Aku juga nggak mau kamu jadi cerita itu–tetapi aku nggak tahu cara membedakannya dari yang nyata.” “Aku juga nggak tahu cara membedakan kamu dari anak menteri.”
Dia tertawa, tawa yang kali ini jujur, kecil, dan agak serak. “Itu pertama kalinya kamu menyebutnya begitu.” “Maaf.” “Jangan. Itu benar.” Sinetron berganti iklan. Seorang ibu di meja belakang memanggil anaknya yang bermain di dekat pintu. Dunia terus bergerak dengan tidak peduli, dan itu menenangkan dengan caranya sendiri.
Kinanti merogoh tasnya. Aku menahan napas, tetapi yang keluar hanya sehelai tisu, yang dia pakai untuk mengusap sudut mata. “Ada hal lain,” katanya. Suaranya merendah, dan aku tahu apa itu sebelum ia mengucapkannya. “Dokumen itu ada. Kajian dampaknya. Bukan cuma kabar. Aku pernah lihat sampulnya di ruang kerja Papa, di rak bawah, di balik map-map lain. Aku belum buka. Aku belum tahu isinya–tetapi aku tahu di mana letaknya.”
Jantungku berdetak sekeras itu sampai kupikir semua orang di warung bisa mendengarnya. Ini jalannya. Persis yang diam-diam kutunggu sejak hari pertama–dan di meja berminyak itu, dengan kopi yang sudah dingin, aku sadar bahwa pertanyaan yang tinggal kuucapkan, bisa kamu ambil?, akan mengubah segalanya. Bukan hanya untuk proyek. Untuk dia. Untuk aku.
Aku menatap tanganku di atas meja. Buku jari yang kapalan karena terlalu banyak memegang spanduk untuk aksi protes. Tangan seorang laki-laki yang bertahun-tahun mengatakan kepada orang lain bahwa hak tidak boleh ditawar, dan yang baru sekarang tahu betapa murahnya dia bisa menawar dirinya sendiri.
“Jangan ambil,” kataku. Kinanti mengerjap. “Apa?” “Kalau kamu ambil karena aku butuh, itu salah. Kalau kamu ambil karena aku nggak minta, itu juga salah, karena kamu akan merasa aku sedang menguji kamu. Kamu cuma boleh ambil kalau itu keputusanmu sendiri–yang nggak ada hubungannya sama aku.” Aku menelan ludah. “Dan kalau kamu ambil, kamu harus tahu akibatnya buat kamu. Bukan buat proyeknya. Buat kamu. Papamu, rumahmu, namamu.”
“Kenapa kamu bilang begitu?” “Karena kalau aku diam, aku sama saja dengan mereka yang tersenyum di meja makan.” Dia menatapku lama. Aku tidak bisa membaca apa yang ada di wajahnya, dan mungkin tu salah satu alasan aku jatuh cinta padanya, meski kata itu tidak pernah kuucapkan, bahkan dalam kepalaku, sampai saat itu. “Kamu nyebelin,” katanya pelan. “Aku tahu.” “Padahal aku udah siap kamu minta.”
“Itu yang bikin aku takut.” Dia tertawa lagi, kali ini diselingi isak yang cepat-cepat ditutupnya dengan tisu. Di sela itu, tanpa sengaja, tangannya menyentuh tanganku di atas meja. Hanya sepersekian detik. Kami berdua menariknya kembali pada saat yang sama.
Pukul lima sore, di luar warung, langit mulai berwarna jingga kotor. Kami berdiri di trotoar berdebu, di depan angkot-angkot yang menunggu penumpang. “Aku belum tahu,” kata Kinanti. “Soal dokumen. Soal semuanya.” “Jangan putuskan karena aku.” “Aku nggak janji apa-apa.”
“Aku nggak minta janji.” Dia mengangguk. Lalu, tanpa menoleh, dia berjalan ke arah mobil yang menunggu di ujung jalan, mobil hitam yang terlalu bersih untuk terminal itu, dengan sopir yang pura-pura sibuk dengan ponselnya. Aku menunggu. Satu, dua, tiga. Dia tidak menoleh. Tidak sekali pun.
Itu yang paling kupahami dan paling tidak bisa kuterima. Di gang Rawa Kering, tengokannya bisa kuhitung. Di terminal itu, tidak ada yang tersisa untuk dihitung. Angkot terakhir ke arah Rawa Kering berangkat pukul enam. Aku naik, duduk di bangku paling belakang, dan memandangi kaca belakang sampai mobil hitam itu hilang di antara kendaraan lain.
Besok pagi, alat berat akan masuk. Dan aku akhirnya mengerti satu hal yang tidak ingin kupahami: aku telah menaruh sebuah harapan di tempat yang tidak berhak kutaruh, dan sekarang tinggal menunggu apakah ia akan jatuh.
Hari H
Mesinnya datang sebelum matahari. Aku mendengarnya dari kejauhan, sejak pukul empat, bunyi rendah yang merambat di tanah dan masuk lewat telapak kaki sebelum sampai ke telinga. Warga sudah berdiri di mulut gang dengan sarung dan jaket seadanya. Tidak ada yang berteriak. Orang jarang berteriak pada saat benar-benar terjadi. Teriakan itu untuk hari-hari sebelumnya.
Ada tiga ekskavator kuning terang, dua belas truk, dan barisan aparat berseragam yang berdiri dengan wajah orang yang sedang menjalankan pekerjaan. Seorang lelaki berompi proyek memegang pengeras suara dan membacakan nomor surat keputusan. Aku tidak mendengar nomornya. Aku mendengar seorang anak kecil bertanya kepada ibunya, “Itu mau ngapain, Bu?”
Rangga berdiri di sebelahku. Kami belum bicara sejak rapat. Pagi ini ia hanya mengangguk, dan aku mengangguk balik, dan itu cukup untuk dua orang yang sedang berusaha tidak kehilangan satu sama lain.
“Dia nggak datang,” kata Rangga, tanpa menoleh. “Aku nggak minta dia datang.” “Aku tahu.” Kami menatap lurus ke depan. Di tanganku ada map berisi salinan surat keberatan yang sudah kami kirim empat kali, dan yang sekarang tidak berguna selain untuk dipegang.
Rumah pertama yang dirobohkan milik Pak Harun, lelaki yang tangannya gemetar. Ia berdiri di ambang pintu sampai petugas menyentuh bahunya, lalu melangkah keluar dengan satu kardus di dada. Tidak melawan. Tidak menoleh. Kaus seragam pabrik yang biasa dijemurnya masih tergantung di tali, bergoyang tertiup angin dari ekskavator.
Lengan besi itu naik, lalu turun. Bunyi dinding yang runtuh bukan bunyi yang kukira. Kukira akan ada dentum. Ternyata hanya suara kering, pelan, seperti seseorang mendesah sangat panjang. Satu per satu. Aku menghitung, karena itu yang selalu kulakukan ketika tidak tahu harus berbuat apa. Rumah kesebelas. Dua belas. Seorang ibu terduduk di atas kasurnya yang dikeluarkan ke tanah. Seorang anak laki-laki memunguti kelereng yang berhamburan dari kantong plastik. Orang-orang serikat berteriak sebentar, lalu berhenti, karena teriakan itu seperti melempar batu ke laut. Menjelang pukul tujuh, matahari akhirnya muncul, kuning dan tidak peduli, menerangi debu yang naik dari reruntuhan seperti napas sesuatu yang sedang kehabisan.
Pada saat itu aku melihatnya. Di seberang jalan, di balik barisan aparat. Kemeja linen polos itu, atau mungkin kaus abu-abu, aku tidak yakin. Rambutnya diikat seadanya. Tidak ada mobil hitam. Tidak ada sopir. Ia berdiri sendirian, jauh dari kamera, jauh dari barisan wartawan yang mengarahkan lensa ke wajah-wajah warga.
Rangga melihatnya juga. Rahangnya mengeras. “Dia datang.” “Ya.” “Mau apa dia?” Aku tidak menjawab, karena aku tidak tahu. Dan karena, sejujurnya, aku tidak berani menebak. Kinanti tidak berjalan ke arahku. Ia tidak berjalan ke arah kamera, tidak ke arah aparat, tidak ke arah lelaki berompi dengan pengeras suara. Ia menyeberang pelan, menyelinap di antara dua petugas yang terlalu sibuk untuk menghentikannya, dan berhenti di depan warung Bu Sarmi.
Warung itu belum disentuh. Bu Sarmi berdiri di terasnya dengan sapu di tangan, seperti hari-hari lain, seperti pagi biasa. Di belakangnya, etalase kaca berisi gorengan yang sudah dingin, dan rak-rak berisi sabun, kopi sachet, dan permen. Seluruh hidup yang bisa diangkut dalam satu truk kecil.
Mereka berhadapan. Aku terlalu jauh untuk mendengar–tetapi aku melihat Bu Sarmi menatap Kinanti dari atas ke bawah, lama, dengan mata yang tidak berubah sejak hari pertama. Kinanti mengatakan sesuatu. Singkat. Bu Sarmi tidak menjawab. Lalu Kinanti melakukan hal yang paling tidak kuduga. Dia menaruh tasnya di tanah, menyingsingkan lengan kausnya, dan membungkuk untuk mengangkat salah satu sisi etalase itu.
Terlalu berat untuk satu orang. Etalase itu goyah. Seorang pemuda dari warga, entah dari mana, melihat dan langsung memegang sisi lainnya tanpa bertanya. Mereka mengangkatnya bersama-sama, menuruni teras, menuju truk kecil yang menunggu di tepi gang.
Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang merekam. Semua lensa sedang sibuk menyorot ekskavator dan wajah-wajah menangis, dan perempuan yang mengangkat etalase itu terlalu biasa untuk menjadi berita. Aku menyadari sesuatu yang mengganggu sekaligus melegakan: aku tidak ingin ada yang memotretnya. Aku ingin ini tetap menjadi tindakan tanpa saksi, karena hanya begitu ia tetap miliknya.
Bu Sarmi mengikuti mereka dengan sapu masih di tangan. Di samping truk, setelah etalase terpasang, Kinanti merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat polos, tipis, tanpa tulisan. Ia menyerahkannya kepada Bu Sarmi. Bu Sarmi tidak langsung menerimanya.
Aku tidak tahu isinya. Aku tidak akan pernah tahu. Dokumen kajian dampak, atau uang, atau surat, atau selembar kertas kosong yang ia harap bisa berarti. Mungkin ia sendiri belum memutuskan. Mungkin itu bagian dari keputusannya. Bu Sarmi menatap amplop itu, lalu menatap Kinanti, dan di wajah tuanya ada sesuatu yang bergerak sangat pelan: bukan penerimaan, bukan penolakan, hanya penundaan vonis yang sudah ia pegang sejak hari pertama. Ia mengangguk satu kali.
Hanya itu– dia mengambil amplop itu dan memasukkannya ke saku dasternya tanpa melihat isinya, lalu naik ke bak truk dan duduk di samping etalasenya, menghadap arah yang berlawanan dari gang tempat ia hidup empat puluh tahun. Kinanti berdiri sebentar di tepi jalan. Tangannya kosong. Debu menempel di lengannya. Lalu ia menengok.
Ke arahku. Dari seberang jalan, melewati barisan aparat, melewati ekskavator, melewati semua yang runtuh dan semua yang belum. Satu kali. Aku tidak mengangkat tangan. Aku tidak bisa. Aku hanya berdiri di sana dengan map yang tidak berguna di dadaku, dan membiarkan ia melihatku melihatnya.
Dia tidak tersenyum– dia hanya mengangguk, kecil sekali, seperti orang yang menyetujui sesuatu yang tidak perlu dikatakan. Atau seperti orang yang berpamitan. Lalu ia berbalik dan berjalan pergi, ke arah mulut gang yang sama tempat ia menghilang tiga hari lalu, dan aku tidak tahu apakah itu cinta atau rasa bersalah atau keduanya, dan aku tidak tahu apakah aku berhak menuntut jawabannya. Di belakangku, lengan besi naik, lalu turun. Dinding posko runtuh dengan desah panjang yang sama. Di dalamnya, di sudut kiri, ada ember seng yang tidak sempat kuselamatkan. Kosong. Menunggu hujan yang tidak akan datang ke tempat yang sudah tidak ada. (habis)
Catatan: Cerpen ini dibuat dengan bantuan perangkat Claude AI. Namun, gagasan awal dan pilihan plot cerita ditentukan oleh penulis sendiri.
*Anggota perkumpulan penulis SATUPENA sejak Agustus 2021
Editor: Jufri Alkatiri
