Menanti  Rocky “Ngantor” Berdasi

Oleh: Toto Izul Fatah

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)

Selama ini, Rocky Gerung lebih mudah dibayangkan duduk di forum diskusi dengan kaus, lengan pendek, dan celana kargo—pakaian santai yang mengingatkan orang pada pendaki gunung atau petualang.

Tiba-tiba, dia harus hadir di Istana dengan jas, dasi, dan sikap resmi seorang pejabat negara. Foto saat dilantik seperti memberi tanda bahwa Rocky sedang melangkah ke panggung yang berbeda. Dari ruang debat yang bebas menyela, menuju ruang kerja yang menuntut tata cara, koordinasi, dan tanggung jawab kelembagaan.

Perubahan pakaian itu mungkin hanya urusan penampilan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana Rocky membawa watak intelektualnya ke dalam Wantimpres.  Dia dikenal tajam, gemar menguji argumen, dan tidak jarang berbicara keras kepada lawan debat. Kini, dia akan bekerja bersama sejumlah tokoh yang sebagian pernah dikritiknya. Salah satunya Muhammad Qodari, yang kini ditetapkan sebagai Sekretaris Wantimpres merangkap anggota.

Publik tentu masih ingat perdebatan Rocky dan Qodari yang berlangsung panas, termasuk ketika Rocky melontarkan kata-kata keras kepadanya. Lalu, seperti apa komunikasi mereka ketika duduk dalam satu lembaga? Apakah ketajaman Rocky akan berubah menjadi kritik yang disampaikan lewat kajian dan pertimbangan resmi? Ataukah gaya debatnya akan tetap terbawa ke ruang kerja?

Di sinilah Rocky diuji– yaitu,  mempertahankan keberanian mengoreksi, sembari membangun kemampuan mendengar dan bekerja bersama orang yang pandangannya pernah dia tentang. Tentu, publik juga bertanya apa misi khusus yang diharapkan dari Rocky– Wantimpres bertugas memberi nasihat dan pertimbangan kepada Presiden.

Setelah dilantik, Rocky  menjelaskan bahwa lembaga itu perlu melihat dampak kebijakan, mengawasi arahnya, dan mengingatkan jika ada yang keliru.  Itu mandat yang penting, tetapi seberapa jauh satu orang anggota dapat memengaruhi kerja lembaga, sangat bergantung pada mutu gagasan dan kesediaan Presiden untuk mendengarnya.

Mungkin sebagian membayangkan hasilnya akan berbeda bila Rocky menjadi Ketua Wantimpres– namun dia dilantik sebagai anggota, sementara Pratikno ditetapkan sebagai Ketua dan Qodari sebagai Sekretaris merangkap anggota.

Soal Qodari, perlu dibedakan antara jabatan sekretaris dan hubungan atasan-bawahan. Susunan itu tidak serta-merta berarti Rocky harus melapor kepada Qodari secara personal– tetapi mereka tetap perlu berkoordinasi dalam tata kerja lembaga. Seberapa mudah koordinasi itu berjalan akan menjadi bagian dari ujian yang menarik diamati.

Di luar Istana, Rocky menghadapi ujian lain, yaitu reaksi publik. Sebagian netizen menyindir dan menyerangnya dengan kata-kata tajam, bahkan mempertanyakan konsistensinya setelah masuk ke lingkar kekuasaan yang dulu kerap dia kritik.

Angka hak keuangan anggota Wantimpres sebesar Rp76,5 juta per bulan turut menjadi bahan perbincangan– namun angka itu adalah hak jabatan yang diatur dalam Perpres– dengan sendirinya, angka tersebut tidak membuktikan motif seseorang menerima jabatan.

Menilai alasan pribadi Rocky semestinya menunggu penjelasan dan rekam kerjanya, bukan berhenti pada prasangka. Bisa jadi, kerasnya reaksi itu muncul karena harapan publik kepada Rocky memang besar. Banyak orang selama ini melihatnya sebagai suara kritis dari luar kekuasaan yang suaranya sering tak enak didengar pemerintah.

Ketika dia masuk ke dalam lembaga negara, sebagian pendukung merasa kehilangan sosok yang selama ini mereka bayangkan sebagai penyambung kegelisahan rakyat. Harapan itu kemudian berubah menjadi kekecewaan ketika pilihan Rocky tidak sesuai dengan gambaran mereka.

Tentu yang bisa menjawab keraguan publik itu adalah  kerja nyata. Apakah Rocky berani menyampaikan pertimbangan yang tidak menyenangkan, apakah suaranya sampai kepada Presiden, dan apakah gagasannya punya dampak pada kebijakan.  Kritik yang sebelumnya terdengar di forum terbuka kini mungkin hadir melalui jalur yang lebih resmi. Pertanyaannya, apakah jalur itu akan membuat kritiknya lebih berpengaruh, atau justru membuatnya kurang terdengar?

Itulah pekerjaan rumah besar Rocky– dia tidak harus mengganti jati dirinya hanya karena kini mengenakan jas dan dasi– namun dia perlu membuktikan bahwa jas itu tidak menjadi seragam yang membatasi pikirannya.

Publik menunggu, apakah Rocky akan tetap tajam ketika berada di dalam, atau perlahan kehilangan suara yang membuatnya dikenal?  Yang dinantikan bukan sekadar Rocky “ngantor” berdasi, melainkan Rocky yang tetap berani berpikir dan berkata benar, dengan tanggung jawab yang kini lebih besar.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website