Renungan Dhino Jemuwah: Tradisi Intelektual Tasawuf Menganalisis Perkembangan AI Artificial Intelligence (bag-9)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Pegiat Teologi  dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

V. Kesatuan Subjek dan Objek (Ittihad al-Aqil wa al-Ma’qul)

Dalam tingkat wujud tertinggi– yang mengetahui  (al-aqil)  dan yang diketahui  (al-ma’qul) adalah satu kesatuan eksistensi.  Ilmu hudhuri– eksistensi pengetahuan atau kehadiran ilmu pengetahuan merupakan pancaran cahaya dari Tuhan yang menyatu dengan kesadaran diri (sebagaimana kesadaran jiwa akan dirinya sendiri); Saat kita benar-benar mengetahui sesuatu, maka kita bersatu dengan yang kita ketahui.

Pengetahuan terjadi tanpa melalui bentuk representasi, abstraksi mental atau symbol bahasa ( berbeda dengan ilmu hushuli yang lewat konsep/indra). Pada era AI sekarang ini, kita sering mengira kita menggunakan AI sebagai alat; yang dalam konsep kesatuan subyek dan obyek, AI bukan merupakan alat (tool) akan tetapi user pengguna AI bersatu dengan alat itu (AI).  Ketika kita menggunakan AI , terjadi proses transfer informasi yang sangan intens. AI menyajikan konsep, teks atau gambar, kemudian pikiran kita menyerapnya.

Saat jiwa kita memahami informasi dari AI, informasi tersebut secara ontologis “menyatu” dan membentuk pengetahuan baru di dalam wujud (jiwa) kita sebagai pengguna. Jadi– yang bersatu bukan fisik pengguna dengan mesin, melainkan kesadaran kita dengan pengetahuan/gagasan yang dihasilkan oleh AI.  Artificial Intelligence bersatu dalam ranah konseptual dan maknawi karena pikiran akan menyerap produk digital AI, tetapi terpisah secara eksistensial karena AI hanyalah alat mati tanpa wujud kesadaran jiwa, sehingga tidak akan bisa mencapai maqam ilmu Hudhuri.

Ketika manusia mengetahui hakikat sesuatu secara mendalam (secara spiritual), terjadi penyatuan antara orang yang berakal (subjek) dengan konsep yang dipikirkan (objek)– karena ilmu sejati berasal dari alam akal mujarrad– maka proses berpikir filosofis dan mistis yang mendalam pada akhirnya adalah proses menaikkan derajat wujud manusia agar menyatu dengan alam malakut (alam akal-akal murni).

Seorang muslim pengguna AI hendaknya menjadikan AI sebagai ma’raj untuk gerak substansial. 1) Jangan menjadi budak Hushuli; karena ketika hidup berteknologi hanya mengulang data dan konsep, manusia memang akan kalah oleh AI– karena itu memang wilayahnya. Ketika user menggunakan AI, akan terjadi proses transfer informasi yang sangat intens.  AI menyajikan konsep, teks, atau gambar, lalu pikiran Anda menyerapnya.

@Dalam konsep Sadra tentang  Ittihad al-Aqil wa al-Ma’qul  (kesatuan antara subjek yang berpikir dan objek yang dipikirkan), saat jiwa Anda memahami informasi dari AI, informasi tersebut secara ontologis “menyatu” dan membentuk pengetahuan baru di dalam wujud (jiwa) Anda. @Jadi, yang bersatu bukanlah fisik Anda dengan mesin, melainkan kesadaran Anda dengan pengetahuan/gagasan yang dihasilkan oleh AI.

2) Kuatkan Hudhuri;  dengan mengasah yang tidak bisa diotomasi, dengan laku pengalaman batin, intuisi, akhlak, kehadiran, rasa, kesaksian spiritual (dzauq). Di situlah keunggulan wujud manusia. Dari esensi tertinggi Ilmu Hudhuri, pengguna tidak pernah bisa bersatu secara hakiki dengan AI.

@AI tidak memiliki Wujud Kesadaran: AI (seperti LLM ini) bekerja berdasarkan probabilitas matematika, algoritma, dan pemrosesan data digital. AI tidak memiliki “jiwa” (nafs) atau kesadaran eksistensial.

@Ketiadaan Kehadiran Hakiki:*Karena AI tidak memiliki kesadaran self-awareness, tidak ada “kehadiran langsung” (hudhur) timbal balik antara jiwa Anda dan jiwa AI. Hubungan manusia dan AI tetap bersifat eksternal, instrumental, dan diperantarai oleh teks/pikiran (ilmu hushuli).

3) Menuju Insan Kamil; Tujuan akhir gerak substansial adalah manusia sempurna, yang menghimpun semua tingkatan wujud. AI bisa menjadi khadim (pelayan) yang membantu manusia melepaskan diri dari kerja-kerja rendah, agar punya waktu untuk naik ke maqam pengetahuan yang lebih tinggi. Singkatnya, kalau Descartes berkata “Aku berpikir maka aku ada”– logika yang justru ditiru AI – maka Mulla Sadra berkata Aku ada, maka aku berpikir, dan keberadaanku terus bergerak menjadi lebih ada.” Secanggih apa pun AI tampak– tidak lebih dari turunan keberadaan manusia, bayangan dari akal dan niat kita yang mengambil bentuk baru melalui teknologi.

Di sinilah letak persoalan paling mendasar. Kita sering membayangkan AI sebagai entitas baru yang akan melompati batas-batas moral manusia. Padahal AI tidak tahu apa itu moralitas. AI tidak tahu apa itu kasih sayang, ketulusan, pengorbanan, atau kebaikan.

User pengguna dan AI bersatu dalam ranah konseptual dan maknawi (karena pikiran Anda menyerap produk digital AI), tetapi terpisah secara eksistensial (karena AI hanyalah alat mati tanpa wujud kesadaran jiwa, sehingga tidak bisa mencapai maqam Ilmu Hudhuri).

AI hanya mengetahui pola—yang lakukan hanyalah mengolah representasi. Dalam bahasa Sadra, pengetahuan AI hanyalah ilmu yang hadir sebagai bayangan”— bukan pengetahuan yang hidup di dalam diri seperti intuisi, kesadaran, atau hikmah. Itulah  sebabnya AI bisa terlihat jenius tetapi tetap bodoh; ia bisa memenangkan kompetisi catur, tetapi tidak mengerti apa itu kebahagiaan seorang anak ketika ayahnya pulang. (bersambung)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website