Renungan Malem Jemuwah: Tradisi Intelektual Tasawuf MenganalisisPperkembangan AI (artificial intelligence) (bag-10)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

Singularity technology

Awal mula dari istilah Singularity masih menjadi perdebatan- namun dalam satu buku disampaikan bahwa teknologi singularitas ini disampaikan pertama kali oleh John von Neumann yang terkenal sebagai penemu arsitektur komputer yang dipakai hingga saat ini.  Selanjutnya, penulis fiksi ilmiah Vernor Vinge mempopulerkan istilah ini melalui tulisan  “The Coming Technological Singularity: How to Survive in the Post-Human Era”

Suatu hari ketika manusia telah memasuki era atau masa dimana AI telah melampaui kecerdasan peradaban manusia, hingga bisa menggeser peradaban, disebabkan manusia mengalami kesulitan dalam memahami kecerdasan pada level tertentu, maka secara tidak langsung manusia telah berada pada masa Singularitas Teknologi.

Hal senada dengan pengertian Ammon Eden–  bahwa SingularitasTeknologi, atau Singularitas adalah saat kecerdasan buatan berkembang melampaui kecerdasan manusia dan mengubah peradaban dan kemanusiaan. Jika akhirnya benar manusia mampu menciptakan kecerdasan buatan yang lebih baik dari manusia, maka beberapa pendapat menyebutkan bahwa tidak dapat diprediksi lagi hal apa yang akan terjadi dikemudian hari.

Di sisi lain/pendapat berbeda, ada pula yang menyebutkan pendapat bahwa teknologi yang diciptakan manusia justru akan membuat manusia yang lebih canggih lagi, manusia dan teknologi akan menjadi satu-kesatuan akibat co-evolutionary. Salah satu hal yang menyebutkan hal ini seperti yang disampaikan dalam artikel hipotesis dan teori bahwa manusia dengan perkembangan teknologi dapat membantunya mencapai kreativitas yang lebih tinggi misalnya dalam aktivitas mempelajari dan menciptakan music.

Pengaruh teknologi dalam dunia kehidupan manusia berkembang pesat dan membawa kemajuan peradaban yang lebih baik, selain itu manifestasi teknologi AI terbukti banyak memberikan dampak positif pada peradaban manusia, namun yang harus menjadi perhatian yang cukup serius adalah perkembangan teknologi yang tidak memiliki batas justru dapat menimbulkan kekhawatiran akan munculnya teknologi yang tidak mampu dikontrol oleh manusia.

Hal demikian bukan tidak mungkin terjadi, mengingat kini pencapaian manusia atas pengembangan teknologi sudah tidak bisa dibendung adanya– dan ketika manusia sampai pada era Singularitas Teknologi, dimana teknologi sudah jauh melampaui manusia, maka kecerdasan buatan akan memberikan pertanyaan penting, yakni “apakah AI serta Singularitas Teknologi merupakan sebuah kekeliruan ataukah tantangan?”

Mungkinkah Manusia Memasuki Era Singularitas Teknologi?

Berbicara mengenai singularitas teknologi, hal tersebut bisa saja muncul disebabkan peradaban manusia telah jauh berkembang dan terus maju tanpa batas. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence hadir sebagai bagian dari cabang ilmu yang berasal dari ilmu komputer dengan menjanjikan banyak manfaat untuk memenuhi kebutuhan manusia di masa depan.  Intelligence sendiri berasal dari bahasa latin intelligo yang artinya saya mengerti. Oleh karena itu, keilmuan dari intelligence merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan bertindak.

Beberapa perkembangan tingkat evolusi dari teknologi kecerdasan buatan, sebagaimana diuraikan Nick B* yaitu:  Pertama dikenal dengan  Artificial Narrow Intelligence (ANI)  atau AI Lemah, dengan target yang dirancang untuk menyelesaikan tugas-tugas yang tidak terlalu rumit, sebagai contoh AI Lemah ini dapat dilihat pada kecerdasan buatan permainan catur atau pada AI Lemah bagi pengendara mobil.

Kedua, Artificial General Intelligence (AGI) disebut juga dengan AI Kuat yang masuk dalam kategori sebagai AI setingkat manusia yaitu mesin dapat belajar dan beroperasi sesuai dengan alur pikir manusia sehingga, sangat dimungkinkan tidak dapat dibedakan antara AI dengan manusia.  *Ketiga, Artificial Superintelligence (ASI)  yaitu teknologi kecerdasan buatan yang sengaja dikembangkan melebihi kemampuan manusia dan ditemukan dihampir semua bidang minat.

Stephen Hawking  dalam pernyataannya disampaikan bahwa perkembangan dan evolusi dari manusia sangat lambat, sedangkan komputer berkembang lebih cepat dari manusia. Hal ini tentu saja akan memiliki manfaat yang baik bagi umat manusia, namun demikian beliau menyebutkan terdapat konsekuensi dari perkembangan teknologi yang semakin pesat itu.

Pernyataan Ray Kurzweil yang sangat menarik di dalam bukunya  The Singularity is Near: When Humans Transcend Biology yang pada intinya ia memprediksi pada tahun 2029 komputer akan sepandai manusia, dan komputer pada tahun 2045 miliaran kali lebih hebat dari kecerdasan manusia tanpa bantuan apapun.

Dia juga menjelaskan tentang pengertian singularitas sebagai sebuah peristiwa unik yang terjadi ketika variabel yang dapat berubah mendekati nilai yang tak terbatas. Hal ini dapat terjadi ketika bilangan asli dibagi dengan sebuah angka mendekati nol.

Dalam kehidupan, kita diberitahu, ketika tingkat biologis/teknologi transisi mendekati tak terbatas, transformasi unik dan belum pernah terjadi sebelumnya akan terjadi yang selanjutnya disebut sebagai titik singularitas.

Teori singularitas  juga memperoleh dukungan dari Hukum Moore– dalam hukumnya disampaikan bahwa perkembangan komputasi khususnya jumlah transistor dalam komputer akan berkembang dua kali lipat dalam setiap dua tahun. Dengan perkembangan yang bersifat eksponensial tersebut tentu saja sangat memungkinkan untuk dapat membuat teknologi kecerdasan yang bahkan melampaui kecerdasan manusia. Hukum Moore ini sendiri juga masih menjadi perdebatan tersendiri, apakah pernyataan dari Moore dapat dikatakan sebuah science ataukah hanya sebatas  pseudo-science.

Terlebih, banyaknya orang-orang pintar dan serius mendalami kemajuan teknologi misalnya Mark Zuckerberg pendiri Facebook, pendiri perusahaan teknologi Tesla dan sebagai perakit wahana antariksa SpaceX, Elon Musk sangat memiliki antusias yang tinggi terhadap perkembangan teknologi. Musk bahkan menyampaikan kalau manusia bisa terancam akibat dari kemajuan teknologi khususnya AI yang terus berkembang semakin cepat.

Penemuan-penemuan yang semakin canggih tidak terbendung, dan orang-orang mampu membuat AI yang disinyalir lebih pandai dari manusia itu sendiri yang membuatnya, maka secara otomatis manusia akan digiring untuk masuk pada era singularitas dan harus beradaptasi dengan situasi tersebut. (bersambung)

*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website