Oleh: Anwar R. Soediro*
Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)
Tantangan Tasawuf Menghadapi Teknolologi Singularitas
Kecanggihan teknologi tidak akan dapat ditahan adanya, sehingga singularitas memang menjadi satu tantangan. Tantangan itu semakin nyata apabila tetap mempertahankan manusia sebagai entitas yang tidak akan bisa digantikan oleh Al yang sedemikian mutakhirnya. Manusia secara pasti akan memasuki era singularitas dimana kecerdasan Al justru melampaui manusia. Bagaimana dalam merespons teknologi singularitas; yaitu suatu titik masa depan ketika kecerdasan buatan (AI) melampaui kecerdasan total manusia dan berkembang secara otonom.
Tasawuf (spiritualitas Islam) hadir bukan untuk menolak teknologi, melainkan sebagai jangkar eksistensial dan kompas moral agar manusia tidak kehilangan hakikat kemanusiaannya. Ketika batas antara biologis dan kecerdasan buatan semakin kabur, tasawuf menawarkan solusi atas ancaman krisis spiritual dan ghaflah (kelalaian spiritual) massal yang dipicu oleh dominasi teknologi maju.
Jika kita tinjau tentang “kesadaran” dengan mempelajari psikologi dan cognitive science, misalnya– tentang kesadaran manusia yang sangat kompleks. Secara agak negatif hal telah diungkap oleh Sigmund Freud– atau secara lebih positif oleh William James, Carl G Jung, Abraham Maslow,dan Ken Wilber– yang, menurut para pemikir ini, kesadaran luhur manusia itu nyaris tidak ada prekursornya– kebingungan para pemikir bagaimana dunia fisik otak dapat menciptakan dunia mental (kesadaran). Nyaris out of the blue (tiba-tiba jatuh dari langit) atau, seperti kata Maslow, dari alam antara (intermediate world/realm).
Maka kesadaran manusia juga disebut dengan discontiguous (munfashil),_tidak bersambung dengan atau tidak ada hubungannya dengan pengalaman empiris. Adanya kesadaran ini dibuktikan dengan beberapa cara: khususnya oleh kebenaran mimpi yang prediktif– yakni tentang sesuatu yang belum terjadi. Sebetulnya juga oleh bukti-bukti tentang adanya efficacy of prayers (kemustajaban doa), plus sifat mekanika kuantum dalam cara otak bekerja– yakni prinsip entanglement dalam mekanika kuantum).
Meskipun masih pada tataran alam material tetapi dalam hal kesadara ini sudah mengindikasikan adanya hukum-hukum alam lain, yang dalam agama disebut sebagai hukum alam halus/ruhani (‘alam amr), yang tidak sepenuhnya sejalan dengan hukum saintifik di alam material/kasar.
Ketiga bukti di atas, dalam ilmu Psikologi kesadaran– biasanya dijadikan dasar akan adanya pandangan dualistik jiwa/sumber kesadaran. Artinya, ada kesadaran yang lokusnya adalah ego personal/muttashil, dan ada yang lokusnya adalah di luarnya/munfashil– apakah suatu saat AI bisa memiliki daya-daya luhur manusia dan mencapai pengetahuan yang lebih luhur dari pengetahuan rasional-algoritmik? Semestinya, sejauh yang kita ketahui sekarang, tidak bisa– karena betapa pun, kesadaran AI ini diduga, sampai kapan pun, tetap bersifat algoritmik.
AI jelas punya daya intuitif– tetapi daya intuitifnya masih bersifat logis. Dalam istilah Ibn Sina, daya ini disebut hads — yakni, kemampuan mencapai middle term dengan segera (immediate); dalam silogisme Aristotelian dengan tanpa membangun premis mayor dan premis minor, sebagaimana galibnya dalam prosedur logis. Jadi, masih algoritmis juga– dan hal ini juga dikatakan oleh tidak sedikit pengamat AI dunia (dengan mengumpulkan kutipan pendapat-pendapat mereka). Menurutnya, AI malah akan memiliki kemampuan yang lebih hebat daripada manusia dalam prosedur berpikir yang satu ini.
Meskipun AI mendapatkan masukan (feeding) dari operasi daya imajinasi discontiguous manusia, sebagaimana dia mendapatkan bahan-bahan pengetahuan rasional “biasa” manusia, tetap saja itu bersifat second hand — yakni, tergantung pada feeding dari manusia sebagai pemilik daya tersebut.
Memang seandainya bahan-bahan (feeding kesadaran) bisa dikembangkan lebih jauh oleh AI– tetapi, pengembangan selanjutnya akan tetap berada dalam batas-batas prosedur algoritmik– dan hanya bisa datang belakangan setelah terlebih dulu diraih oleh manusia, lalu di-feeding ke AI. Artinya, kalau hal ini benar, dan manusia mampu mengembangkan daya-daya luhurnya, manusia akan bisa tetap unggul dari AI.
Manusia akan sadar betul bahwa ilmu pengetahuan bisa berkembang sebagai suatu leap atau lompatan. Apalagi ada pembicaraan tentang AGI (Artificial General Intelligence)– yang disebut-sebut lebih canggih dari Generative AI yang ada sekarang ini dengan machine learningnya yang luar biasa—apalagi nantinya pada saat teknologi quantum computing sudah matang.
Pertanyaannya, apakah benar datangnya AGI akan melahirkan era singularity? Yakni– suatu era yang di dalamnya A(G)I akan mampu melampaui inteligensi manusia? Ada prediksi era singularity akan datang setahun lagi. Ada juga yang memprediksi 10 tahun lagi. (tetapi ada juga satu prediksi, bahwa hal ini tidak akan pernah terjadi, karena alasan yang akan diuraikan).
Jadi, pertanyaannya lagi-lagi adalah, apakah yang dimaksudkan dengan inteligensi, yang AGI akan bisa unggul di dalamnya? Apakah IQ, atau kah kemampuan kognitif biasa? Sekali kita masuk ke dalam kemungkinan adanya inteligensi luhur manusia yang bersifat supra-rasional itu, maka medan permainan sudah tidak akan sama lagi. Persoalannya tidak akan sesederhana itu lagi– tetapi, pikiran nakal manusia akan bertanya lagi. Apa benar daya berpikir AI tidak mungkin bisa berevolusi hingga mencapai daya-daya luhur manusia itu? Jangan-jangan bisa? Khususnya dilihat dari perspektif filsafat Sadrian?
Telah dibahas sebelumnya menurut filsafat Sadrian sendiri (Mulla Sadra), daya-daya lebih luhur dalam jiwa berpikir manusia, asalnya juga dari sesuatu yang bersifat material, lalu berevolusi menjadi rasional, hingga mencapai tingkat imajinal dan spiritual, berdasar prinsip jasmaniyatul huduts, ruuhaaniyatul baqa. (awal-mula yang bersifat jasmani, dan ujungnya kekal dalam keruhanian), melalui “mekanisme” harakah jawhariyah (gerak substansial)?
Harusnya AI bisa juga, jika mengikuti gerak substansial; hanya saja, -syaratnya, AI harus punya jawhar (substance, dan bukan sekadar aksiden/‘aradh saja)?– tetapi apakah AI punya jawhar, yang bersifat wujudi/eksistensial–atu beingness sebagai lawan aksiden? Tampaknya lebih mudah bagi kita sekarang untuk mengatakan bahwa AI tidak mempunyai jawhar, sehingga AI tidak akan pernah mengalami harakah jawhariyah— dan, jika benar demikian, kemampuan algoritmik rasional AI tampaknya tidak akan pernah bisa mencapai daya-daya luhur itu (sekali lagi, dilihat dari paradigma, yang di dalamnya daya-daya luhur manusia itu dipercayai atau dapat dibuktikan ada).
Pertanyaan selanjutnya adalah, tidak akan mungkin suatu maujud tidak punya jawhar (substance)? Kalau jawhar tidak ada maka tidak bisa ada ‘aradh (aksiden). Kenyataannya, ada AI. Setidaknya, AI itu adalah aksiden. Maka, mesti ada jawhar yang berkorespondensi dengannya– dan jawhar di sini (dalam filsafat Mulla Sadra) maksudnya pasti bukanlah hardware (bahkan juga bukan software) AI itu, sebagaimana makna substansi dalam Aristotelianisme. Dalam Mulla Sadra– jawhar itu adalah martabat wujud di mana sesuatu itu berada, yakni dalam maratib wujud (hierarki keberadaan), hal ini terkait dengan prinsip tasykik al-wujud atau ambiguitas wujud.
Maka, siapa atau apa saja yang memiliki wujud terkait dengan keberadaan AI ini? Kemungkinan, adalah kumpulan (kesadaran) manusia pembuat atau pengguna AI itulah yang menjadi underlying substance_dari AI itu. Kalau benar demikian, maka evolusi AI ke-atas rasio-algoritmik, terkait sepenuhnya dengan evolusi kesadaran manusia di balik AI itu.
Dalam asumsi bahwa manusia diandaikan bisa mengoperasikan daya-daya dan mencapai alam-alam yang lebih luhur itu– maka seperti disinggung di atas AI hanya dapat di-feeding_ atau menampung hasil pemikiran manusia itu– dan tidak bisa secara sendirian mencapai daya-daya dan alam-alam lebih luhur itu. Oleh karenanya– AI boleh saja melampaui manusia dalam tingkat inteligensia tertentu yang rasional tetapi, dalam hal daya-daya yang lebih luhur itu, artificial intelligence tidak akan pernah bisa mencapainya — dan akan selalu ketinggalan dari manusia– yakni, manusia-manusia yang telah benar-benar mampu mengaktualisasikan potensi berkembangnya daya-daya luhur tersebut. (bersambung)
*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
