Surplus Ritual, Minus Sosial: Ketika Ibadah Rajin, Sosialnya Buruk

Oleh: Toto Izul Fatah*

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto:  Toto Izul Fatah)

Apa arti panjangnya sujud jika setelah bangkit kita masih menginjak hak orang lain? Apa makna lapar selama berpuasa — jika kita tetap tidak peduli kepada tetangga yang kelaparan? Dan apa yang berubah dari perjalanan menuju Baitullah jika sepulangnya kita masih merendahkan orang miskin, menghardik anak yatim, atau merasa paling suci? Pertanyaan ini patut menjadi bahan pemeriksaan diri setiap orang beragama.

Kenapa? Karena Al-Qur’an memberikan perhatian sangat luas kepada kehidupan sesama manusia atau hablum minas– yaitu, hubungan yang menyangkut  keadilan, kejujuran, amanah, perlindungan terhadap kelompok lemah, serta larangan menzalimi dan merusak. Meski tidak harus dipisahkan dengan urusan ibadah ritual, tetapi sebagian ahli tafsir berpendapat, bahwa sebagian besar isi al-Quran itu terdiri dari urusan yang berdimensi sosial. Meskipun, ayat tentang akidah, kisah para nabi, akhirat, akhlak, dan ibadah juga sering memiliki pesan sosial sekaligus.

Memisahkannya ke dalam dua kotak yang sepenuhnya terpisah, termasuk memberi penekanan yang satu lebih penting dari yang lain, juga dapat  mengaburkan hubungan tersebut– yang pasti, dalam beberapa ayat al-Quran– ibadah yang bersifat sosial itu seperti mendapat tempat yang khusus. Bahkan, ada teguran yang sangat tajam muncul dalam surah Al-Ma’un– yaitu, sebutan pendusta agama bagi mereka yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin.

Pada bagian lain disebutkan juga ungkapan kalimat celaka bagi orang yang salat. Rasulullah SAW juga pernah memberi peringatan yang sangat konkret. Dalam Al-Adab Al-Mufrad nomor 119– beliau ditanya tentang seorang perempuan yang rajin salat malam, dan berpuasa pada siang hari,  tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Beliau menyatakan perempuan itu termasuk penghuni neraka.

Betapa kerasnya peringatan ini. Banyaknya ibadah tambahan tidak memberikan kekebalan terhadap akibat kezaliman.  Lidah yang melukai orang lain tetap harus dipertanggungjawabkan, meskipun pemiliknya tekun mengucapkan doa. Pesan serupa hadir dalam hadis tentang orang yang bangkrut, riwayat Muslim nomor 2581.

Orang itu datang pada hari kiamat membawa salat, puasa, dan zakat.– namun, dia juga pernah mencaci, memfitnah, mengambil harta orang lain, menumpahkan darah, serta memukul. Kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Di sisi lain, kasih sayang dapat membuka pintu ampunan yang tidak kita duga. Dalam hadis sahih Muslim nomor 2245a– seorang perempuan pelacur memberi minum kepada anjing yang kehausan, lalu Allah mengampuninya.

Redaksi riwayat ini menyebut pengampunan– karena itu, lebih tepat menyampaikannya demikian daripada langsung menggantinya dengan ungkapan “masuk surga”. Kisah tersebut mengguncang kebiasaan kita menilai manusia hanya melalui label. Seseorang yang dipandang rendah masih dapat melakukan tindakan belas kasih yang sangat bernilai di hadapan Allah.

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah agar tidak meremehkan kebaikan, tidak menutup harapan ampunan, dan tidak merasa berhak menentukan nasib akhir orang lain. Dasar yang lebih jelas terdapat dalam hadis qudsi riwayat Muslim nomor 2569– Allah menegur manusia yang tidak menjenguk hamba-Nya yang sakit, tidak memberi makan yang lapar, dan tidak memberi minum yang haus. Hadis ini menunjukkan kedudukan yang tinggi kepada kepedulian sosial.

Kesombongan agama justru layak dicurigai sebagai kegagalan memahami ibadah. An-Najm ayat 32 mengingatkan manusia agar tidak menganggap dirinya suci; Allah lebih mengetahui siapa yang bertakwa.

Kesadaran ini seharusnya membuat orang yang rajin beribadah semakin rendah hati, semakin berhati-hati menilai orang lain, dan semakin bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Maka, setelah salat, patut kita bertanya: siapa yang masih terluka oleh ucapan dan tindakan kita? Setelah berpuasa: apakah kita lebih mampu mengendalikan keserakahan? Setelah berhaji: apakah kita semakin menghormati manusia?

Sujud yang kita lakukan seharusnya membantu kita bangkit menjadi manusia yang lebih membawa rahmat. Di situlah ibadah menemukan buahnya: ketika orang lain merasa lebih aman, lebih tertolong, dan lebih dihargai oleh kehadiran kita.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website