Met Ultah Ke-75 Pak Prabowo: Tetap Membumi, Jangan Lupa Melangit

Oleh: Toto Izul Fatah*

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)

Hari ini, 17 Oktober 2026– Presiden Prabowo Subianto genap berusia 75 tahun. Doa terbaik tentu kita panjatkan. Semoga Allah SWT memberinya kesehatan, kekuatan lahir batin, kejernihan pikiran, dan kelapangan hati untuk menunaikan amanah sebagai Presiden Republik Indonesia hingga akhir masa jabatan dengan baik.

Memimpin Indonesia membutuhkan tenaga besar. Persoalan datang silih berganti, harapan rakyat terus bertambah, dan keputusan penting harus diambil dalam keadaan yang tidak sederhana.  Ulang tahun seorang presiden juga layak menjadi kesempatan menyampaikan pesan dari hati. Sebab, doa terbaik bagi pemimpin adalah agar ia berhasil sekaligus tetap berada di jalan yang benar.

Kita tidak meragukan ketulusan Prabowo untuk mengabdi–karena itu, jagalah niat tulus itu. Tetaplah bersama rakyat, bekerja untuk rakyat, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan siapa pun– namun, memimpin negara membutuhkan lebih dari niat baik. Ketulusan harus disertai keberanian mengambil keputusan, ketegasan menolak penyimpangan, dan kesediaan mengoreksi orang-orang di sekitar kekuasaan.

Godaan dapat hadir melalui pujian berlebihan, laporan yang selalu menyenangkan, nasihat yang menyembunyikan kepentingan, atau permintaan yang dibungkus loyalitas. Bahkan, kebijakan yang merugikan rakyat bisa diperkenalkan sebagai langkah demi stabilitas. Di situlah ketulusan diuji. Pemimpin perlu berani berkata tidak kepada orang dekat ketika kepentingannya bertentangan dengan kepentingan rakyat, sekaligus bersedia menerima kebenaran dari mereka yang berbeda pendapat.

Al-Qur’an mengingatkan Nabi Dawud dalam Surah Shad ayat 26 agar memutuskan perkara dengan adil dan tidak mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan dari jalan Allah. Pesan ini menegaskan bahwa kekuasaan harus dikawal keadilan dan pengendalian diri. Ketegasan juga perlu diarahkan kepada diri sendiri—yaitu, menahan amarah, mengendalikan ego, dan mengakui kekeliruan. Keberanian memperbaiki keputusan justru dapat memperbesar kepercayaan rakyat. Pak Prabowo, kita pun tidak meragukan kecerdasan Bapak. Namun, persoalan bangsa terlalu luas untuk ditanggung satu orang.

Angka dan laporan membantu membaca keadaan, tetapi pengalaman rakyat perlu didengar langsung– karena itu, tetaplah membumi, tetapi jangan lupa melangit. Membumi berarti hadir dalam kehidupan rakyat: memahami kesulitan mereka, menggunakan data yang dapat dipercaya, memilih pembantu yang cakap, dan memastikan kebijakan benar-benar dirasakan manfaatnya.

Harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, dan keselamatan lingkungan harus menjadi perhatian nyata. Melangit berarti menjaga hubungan batin dengan Allah, menyadari bahwa jabatan adalah titipan, kemampuan manusia terbatas, dan setiap keputusan kelak dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Secara aqli, manusia dapat cerdas sekaligus keliru–karena itu, kecerdasan membutuhkan kerendahan hati, keterbukaan terhadap koreksi, dan keberanian memeriksa motif sendiri. Secara naqli, Surah Ali ‘Imran ayat 159 mempertemukan kelembutan, musyawarah, keteguhan mengambil keputusan, dan tawakal kepada Allah. Dengarkan manusia dengan sungguh-sungguh, lakukan ikhtiar secara bertanggung jawab, lalu sandarkan hati kepada Tuhan.

Dalam tasawuf, kesadaran ini dipelihara melalui muraqabah, yakni merasa senantiasa berada dalam pengawasan Allah.  Bagi seorang presiden, kesadaran itu semestinya menyertai rapat, penandatanganan anggaran, pengangkatan pejabat, hingga keputusan yang memengaruhi jutaan warga. Termasuk ketika tidak ada kamera, tepuk tangan, atau pengawasan manusia.

Kesadaran juga berarti “memberi ruang 24 jam kepada Tuhan” untuk selalu hadir dalam diri kita– dan Kedekatan itu harus diwujudkan melalui ketaatan, kejujuran, kasih sayang, dan kesungguhan menjauhi kezaliman. Kedekatan dengan-Nya harus membuat pemimpin semakin rendah hati. Setiap kebijakan tetap perlu diuji, dievaluasi, dan diperbaiki.

Tasawuf juga mengajarkan muhasabah, sebagaimana ditekankan Imam Al-Ghazali. Dalam kepemimpinan,  dia dapat diwujudkan melalui pertanyaan: siapa yang terbantu oleh keputusan saya hari ini? Siapa yang terbebani? Apakah saya masih mendengarkan rakyat, atau mulai merasa paling mengetahui kebutuhan mereka?

Pak Prabowo, belajarlah dari perjalanan para pemimpin terdahulu. Kekuasaan memiliki batas waktu. Akan tiba saat pengawalan berkurang, protokol berakhir, dan seseorang kembali menjalani kehidupan tanpa kewenangan yang dahulu menyertainya.

Jangan tinggalkan luka akibat kesombongan, kezaliman, atau sikap meremehkan keluhan rakyat. Penghormatan setelah kekuasaan berakhir tumbuh dari perilaku selama kekuasaan dijalankan– karena itu, jadikan ulang tahun ke-75 ini sebagai kesempatan memperbarui janji pengabdian. Semoga bertambahnya usia memperdalam kebijaksanaan, memperkuat keberanian membela yang lemah, dan memperhalus kepekaan terhadap penderitaan sesama.

Buatlah rakyat kelak rindu kepada Prabowo. Buatlah rakyat merasa kehilangan ketika masa pengabdian itu berakhir, karena mereka pernah merasakan pemimpin yang hadir, mendengar, dan mencintai mereka. Selamat ulang tahun ke-75, Pak Prabowo.

Tetaplah membumi dalam pengabdian. Teruslah melangit dalam doa dan kesadaran. Semoga ketika amanah selesai, Bapak meninggalkan negeri yang lebih baik dan kenangan hangat di hati rakyat. Amin ya Rabbal ‘alamin.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website