Direktur Eksekutif  LPDS Anthonius Jimmy Silalahi: Pers Sekarang Tidak Sedang Baik-Baik Saja

Hadapi Tantangan AI, Direktur Eksekutif Baru LPDS: Pers Sekarang Tidak Sedang Baik-Baik Saja (Foto: Jufri Alkatiri)

Pijarberita.com, Jakarta — Di tengah disrupsi teknologi kecerdasan buatan, Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) akan tetap menjalankan peran strategisnya sebagai garda depan pendidikan pers di Indonesia. Direktur Eksekutif LPDS yang baru, Anthonius Jimmy Silalahi, mengungkapkan hal tersebut dalam acara serah terima jabatan Direktur Eksekutif LPDS, di Ruang Serba Guna Dewan Pers Jakarta, Rabu. Sebelumnya selama tiga tahun,  Kristanto Hartadi dipercayakan sebagai Direktur Eksekutif LPDS.

Jimmy mengaku, prihatin terhadap kondisi pers nasional saat ini. “Kita harus jujur mengakui, pers kita sekarang tidak sedang baik-baik saja. Di satu sisi kita dihadapkan pada disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan yang mengubah total lanskap produksi dan distribusi berita. Di sisi lain, kita masih bergulat dengan persoalan fundamental soal kualitas, independensi, dan kepercayaan publik,” kata Jimmy. Menurutnya, situasi bangsa yang dihadapkan pada beragam problematika sosial, politik, dan ekonomi justru menuntut kehadiran pers yang semakin kuat dan berkualitas.

Jimmy menilai, publik membutuhkan berita-berita yang tidak hanya cepat, tetapi akurat, berimbang, dan mampu mengedukasi. Hal tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menempatkan pers sebagai pilar demokrasi dan lembaga kontrol sosial. Menjawab tantangan tersebut, Jimmy menegaskan komitmen LPDS untuk tetap berada dikhittahnya sebagai lembaga pendidikan pers.

“LPDS lahir dari amanat Dewan Pers pada 1987 untuk mendidik pers. Komitmen itu tidak berubah: melatih wartawan agar menghasilkan berita berkualitas yang mengedukasi publik. Tantangannya hari ini adalah beradaptasi, termasuk menghadapi kecerdasan buatan,” tegasnya.

Jimmy menjelaskan, adaptasi yang dimaksud bukan sekadar mengajarkan wartawan cara menggunakan tools AI untuk menulis atau memverifikasi fakta, tetapi juga membangun kesadaran kritis agar jurnalis tidak digantikan oleh mesin.  “AI bisa membantu kecepatan, tapi AI tidak punya nurani, tidak punya etika jurnalistik, dan tidak bisa turun ke lapangan untuk merasakan denyut nadi masyarakat. Itu yang harus terus kita tanamkan dalam setiap pelatihan di LPDS,” kata dia.

Jimmy juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro (YPMA) selaku yayasan yang menaungi LPDS. Sementara itu, Direktur Eksekutif LPDS periode sebelumnya,

Sementara itu, Kristanto Hartadi, mengatakan, dia  tidak akan meninggalkan LPDS. “Saya tidak akan ke mana-mana. Saya akan terus berada di sini dan mendukung penuh keberadaan serta perjuangan LPDS ke depan. LPDS ini rumah kita bersama, dan saya akan terus mengabdi untuk memastikan lembaga ini tetap relevan dan maju,” ujar Kristanto.

Dia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran dan berharap kepemimpinan baru dapat membawa LPDS semakin adaptif terhadap zaman. Prosesi serah terima tersebut menandai babak baru kepemimpinan di lembaga pendidikan jurnalistik tertua di Indonesia, yang dibentuk oleh Dewan Pers melalui sidang pleno pada tahun 1987.

Secara terpisah, Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryant mengatakan, kondisi pers digital saat ini yang tumbuh sangat pesat namun dihadapkan pada tantangan serius. “Sekarang ini pers digital tumbuh luar biasa, tetapi juga menghadapi tantangan berat. Banjir informasi, disrupsi algoritma, dan kehadiran AI membuat batas antara berita berkualitas dan sekadar konten menjadi kabur,” kata Totok, seraya menambahkan, peran LPDS menjadi sangat vital untuk menjaga marwah jurnalistik,” tambah dia.

Dikatakan, Dewan Pers sebagai lembaga yang melahirkan LPDS akan terus mendukung program program pendidikan pers untuk memastikan wartawan Indonesia memiliki kompetensi dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik di era digital.

Selama hampir empat dekade, LPDS telah melatih ribuan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia dan dikenal konsisten menjaga standar profesionalisme serta etika jurnalistik. (juf)

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website