Oleh: Anwar R. Soediro*
Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)
Fenomena Singularitas dalam Sorotan Scientia Sacra
Memahami AI dan Teknologi Singularitas, Merujuk pada kerangka berfikir yang diajukan Seyyed Hossein Nasr– seorang tokoh filasafat Perenial; AI dan ide Singularitas tidak bisa dipahami hanya sebagai masalah teknis saja. Nasr justru melihatnya sebagai puncak dari krisis spiritual modernitas, yang merupakan dampak modernitas yang selama ini melakukan sekularisasi, rasionalisme ala barat dan terputusnya hubungan manusia dari dimensi transcendental (ketuhanan).
Scientia Sacra adalah pengetahuan suci yang berada didalam jantung setiap tradisi intellectual keagamaan. Nasr menegaskan bahwa sains suci bukan sekedar olah pikir manusia melainkan pengetahuan yang diperoleh melalui wahyu dan intelektualisme spiritual (intuisi intelektual/batin)– dimana Tuhan adalah sumber utama dari segala kebenaran.
Dalam kacamata Scientia Sacra– fenomena singularitas teknologi, yaktu titik teoritis dimana kecerdasan buatan (AI) melampaui kecerdasan manusia dan berevolusi sendiri secara tidak terkendali bukanlah lompatan evolusi melainkan puncak dari penyimpangan spiritual manusia moderen.
Beberapa catatan kritis tentang singularitas teknologi: a. Manusia sebagai pribadi yang salah dipahami: dari Pontifical ke Promethean, Nasr membedakan dua jenis manusia: Manusia Pontifical (al-insan al-jami’): Manusia tradisional sebagai jembatan (pontifex) antara langit dan bumi, sebagai khalifah yang menjalankan kehendak Langit di bumi. Dia punya dimensi spiritual dan material; menyadari keterbatasan dirinya dan tunduk pada hokum ilahi. Manusia Promethean: Manusia moderen pasca-Renaissance yang mencuri api dari langit, memutuskan hubungan dengan Yang Sakral– dan menempatkan dirinya sendiri sebagai pusat dan penguasa mutlak alam. Memberontak melawan langit, menolak Tuhan dan merasa dirinya adalah pencipta tunggal atas takdirnya sendiri.
Modernitas melahirkan manusia Promethean, yang menurut Nasr, definisi manusia moderen sebagai makhluk rasional yang berevolusi, yang cerdas karena bisa berpikir dan berbicara, tetapi sebagai manusia rapuh. AI menghancurkan sisa definisi itu. Ketika mesin bisa berpikir, berbicara, dan bahkan berdiri tegak, maka definisi manusia sebagai homo sapiens yang superior karena akal rasionalnya runtuh. Ini yang disebut dalam literatur sebagai “Revolusi 4.0” yang mengganggu pemahaman kita tentang kemanusiaan.
b. AI dalam kacamata Scientia Sacra, merupakan Akal tanpa Intelek atau Pengetahuan tanpa Kesucian Poin-poin paling utama yang membedakan: Reason/’Aql Juz’i: Akal diskursif, logis, kalkulatif. Inilah yang dimiliki AI. Intellect / al-‘Aql Intellectus: Intelek yang berakar di hati (qalb), yang mampu menangkap kebenaran ilahi, makna simbolik, dan kehadiran Yang Sakral.
Modernitas melakukan desakralisasi pengetahuan yaitu pengetahuan direduksi dari makna menjadi sekadar kontrol dan utilitas. AI adalah anak kandung dari paradigma ini. Oleh karena itu, AI memiliki kecerdasan tanpa kebajikan, informasi tanpa kebijaksanaan– bisa menyimpan ribuan hadis dan membuat khutbah, tetapi tidak pernah mengalami suluk (perjalanan spiritual) dan ma’rifah (pengenalan hakiki).
AI tidak punya hati, tidak bisa mengalami intuisi, dzauq, kekhusyukan– adalah cerminan dari bahaya terbesar yang Nasr kritik: teknologi yang berkembang tanpa kebijaksanaan spiritual. Dunia yang hanya melihat alam sebagai materi untuk dieksploitasi, akan melihat manusia juga sebagai data untuk dieksploitasi.
Secara lebih dalam Scientia Sacra melihat pengembangan teknologi yang mengganggu keseimbangan kosmos (mizan) sebagai bentuk hubris, bahkan mendekati syirk, karena manusia mencoba mengambil peran Pencipta.
c. Singularitas menurut Nasr: Eskatologi Palsu Singularitas – ide bahwa AI akan melampaui manusia, menjadi super-intelijen dan abadi – dalam pandangan Nasr adalah parodi sekuler dari keselamatan spiritual. Peradaban moderen yang kehilangan rasa sakral juga kehilangan rasa batas dan ukuran. Ketika manusia tidak lagi percaya pada kebangkitan spiritual dan keabadian jiwa– menciptakan keabadian palsu lewat mesin: meng-upload kesadaran, hidup abadi dalam cloud.
Menurut Nasr kondisi seperti diatas adalah ilusi Promethean yang paling tinggi: a. Kekeliruan ontologis: Mengira kesadaran sama dengan komputasi. Padahal dalam Islam, kesadaran sejati terkait dengan Ruh yang ditiupkan Tuhan, bukan emergensi kompleksitas sirkuit. b. Kekeliruan teleologis: Singularitas menjanjikan penyelamatan lewat kemajuan tanpa batas, padahal Nasr bilang: “Peradaban bisa menjadi sangat sukses secara teknis sambil menjadi sangat rapuh secara internal”.
c. Solusi yang salah: Kita berharap memperbaiki kerusakan akibat kemajuan dengan lebih banyak kemajuan lagi, tanpa mempertanyakan modelnya. Jika manusia moderen adalah manusia yang memutus diri dari Langit, maka singularitas adalah upaya manusia itu untuk menjadi Langit itu sendiri dengan tangannya sendiri– karena itu solusi Nasr bukan anti-teknologi– tidak menolak sains– menolak sains sekuler yang buta. Jalan keluarnya adalah kembali menjadi manusia pontifical:
Manusia harus dipahami kembali bukan sebagai form, imagination and creative atau sekadar makhluk rasional, tetapi sebagai penghubung antara Langit dan Bumi. Hanya dengan memulihkan dimensi sakral, keseimbangan batin, keheningan, dan tanggung jawab sebagai penjaga amanah (bukan pemilik) alam, manusia bisa menempatkan AI pada tempatnya: sebagai alat, bukan sebagai tuhan baru.. Singkatnya, bagi Nasr: AI boleh cerdas, tetapi tidak akan pernah bijaksana. Singularitas bukan akhir sejarah, melainkan puncak dari lupa diri manusia Promethean yang mengira bisa menjadi Tuhan. (bersambung)
*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
